Cerita Kota

Akulturasi dalam Senampan Chai Kue

05 April 2023

477 views

Kontributor :
Mia Islamidewi
@miaislmdw
Kontributor :
Mia Islamidewi
@miaislmdw

Ramadan sudah berjalan, pasar-pasar sederhana mendadak tumbuh di mana-mana, akrab dikenal dengan pasar juadah. Beragam minuman, makanan ringan hingga makanan berat untuk lauk pauk berjajar rapi. Banyak makanan khas yang ramai dicari ketika bulan suci, seperti lemang, olahan blewah, bakwan lawit, ketupat sambal dan lainnya. Tidak ketinggalan; chai kue. 

Panganan ini jelas sudah akrab di lidah masyarakat Pontianak dan Kalimantan Barat. Chai kue jadi rekomendasi kuliner nomor satu untuk wisatawan. Buat yang sedang di tanah perantauan, chai kue juga salah satu yang paling dirindukan.

Jika sudah akrab bagi masyarakat, apa yang menarik tentang kue beras yang diisi sayuran ini? Kenapa eksistensinya masih tinggi saat di bulan suci? Lalu, bagaimana hubungannya dengan akulturasi? Ayo kita ulik lebih dalam lagi! 

Chai kue asal katanya dari bahasa Tiouciu, diambil dari kata chai/choi/cai yang artinya sayur dan pan/kue/gou/ban yang artinya kue. Dalam bahasa Hakka makanan yang artinya kue sayur ini disebut choi pan.

Kudapan ini dibawa oleh masyarakat Tiouciu yang merantau dan menetap di Indonesia, tepatnya di Kalimantan Barat. Berbeda dengan dimsum atau pangsit yang juga sama-sama tergolong chinese food, chai kue umumnya diisi kucai, bengkoang, dan talas. 

Salah satu ciri khas chinese food yang tampak pada chai kue adalah penggunaan minyak bawang putih dengan bawang putih goreng yang menjadi topping. Tak hanya nikmat saat dikukus, chai kue juga lezat ketika digoreng.

Chai kue dikenal sebagai makanan yang diolah dengan sedap dari tangan-tangan masyarakat Tionghoa, chinese food memang istimewa dari segi cita rasa. Tentu tidak hanya chai kue yang menjadi favorit, banyak jenis lain yang tak kalah menarik. Tetapi, salah satu yang mudah ditemukan pada lapak-lapak pasar juadah adalah kue sayur ini.

Padahal, di hari biasa gampang sekali menemukan panganan ini mulai dari di gerobak kecil sampai ke restoran besar, bahkan warung kopi juga tak ikut ketinggalan.

Bagaimana bisa makanan olahan masyarakat Tionghoa turut meramaikan jajanan di pasar juadah di bulan suci? Selain karena rasanya yang memang lezat, tanpa disadari, ini juga praktik dari akulturasi jalur kuliner. Bahan-bahan chai kue yang bisa dikatakan muslim friendly, produk yang mudah didapati, cita rasanya juga melekat di hati.

Dikenal dengan panganan khas Kalimantan Barat, tak telak meninggalkan identitas asal chai kue. Masyarakat Tionghoa yang dulunya merantau, kemudian tumbuh dan menetap membawa beragam kulinernya. Berdampingan dengan masyarakat Melayu, Dayak, dan lainnya di Kalimantan Barat. Mereka jadi penikmat, kadang ikut membuat.

Untuk berbuka puasa, chai kue biasanya dijual menggunakan packing berbahan mika. Isinya bisa berjumlah lima buah, tentu dengan sambal cair khas dan bawang putih goreng sebagai lapisan atasnya. Bentuknya yang kecil, jelas memudahkan untuk dikonsumsi dalam sekali suapan. Kamu bisa terus melahap chai kue kedua hingga habis senampan. Suapan dan kunyahan selanjutnya membuktikan kalau panganan ini tak lekang oleh zaman.




Top