ASRI Gelar “Hutan Jaga Kita”, Ajak Masyarakat Pahami Keterkaitan Hutan dan Kesehatan Manusia
28 Desember 2025 |
189 views |
CERITA KOTA | Mewarnai akhir pekan di Pontianak pada Minggu, 21 Desember 2025, 1918 Coffee & Space di Jalan Sepakat II, tidak hanya menjadi tempat berkumpul untuk ngopi. Ruang ini berubah menjadi tempat berbagi cerita tentang hutan, alam, dan kehidupan manusia. Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) menggelar acara bertajuk Hutan Jaga Kita; sebuah kegiatan yang mengajak masyarakat melihat kembali hubungan mereka dengan hutan Kalimantan Barat. Acara ini dikemas santai, namun sarat makna. Beragam rangkaian kegiatan dihadirkan, mulai dari penampilan Stand Up Comedy, diskusi tentang hutan Kalimantan, diskusi film, live music, pameran ASRI, booth Bank Sampah Ananda, hingga social media challenge yang melibatkan peserta secara langsung. 
Oka Nurlaila, Koordinator Acara Hutan Jaga Kita dari ASRI, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran publik bahwa hutan memiliki peran penting bagi kehidupan manusia, tidak hanya secara lokal tetapi juga global. “Kalau hutan di Kalimantan rusak, dampaknya bukan cuma dirasakan di sini. Hutan Kalimantan Barat itu salah satu yang memberi kontribusi besar untuk keseimbangan lingkungan dunia,” ujar Oka. Dalam sesi diskusi, Oka juga menyoroti upaya pelestarian hutan yang telah dilakukan di kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Selama 17 tahun terakhir, ASRI bersama masyarakat lokal dan pihak Balai Taman Nasional Gunung Palung telah menanam sekitar 700 ribu bibit pohon di area seluas 435 hektare. Upaya restorasi tersebut tidak hanya memulihkan tutupan hutan, tetapi juga menghidupkan kembali ekosistem di dalamnya. Dari kawasan hutan yang telah ditanami, tercatat sedikitnya 51 jenis satwa liar kembali terlihat, menjadi indikator bahwa alam yang dipulihkan mampu kembali menopang kehidupan. Kita ingin masyarakat Kalimantan Barat tahu bahwa di Kayong Utara ada banyak orang yang terus berusaha menjaga hutan, dan dampaknya nyata,” kata Oka. 
Diskusi kemudian dilanjutkan oleh Fahmi, Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura sekaligus perwakilan Planetary Health Campus Ambassador (PHCA) ASRI. Fahmi menjelaskan bahwa kerusakan hutan memiliki dampak yang saling terhubung dengan kehidupan manusia. “Ketika hutan dibabat, kemampuan alam menyerap karbon dan menghasilkan oksigen menurun. Dampaknya bisa meluas, termasuk memicu kenaikan suhu laut,” jelasnya. Ia menyebutkan beberapa faktor utama penyebab krisis iklim, seperti deforestasi, praktik monokultur, perburuan satwa liar, dan kebakaran hutan. Diskusi ini juga menekankan bahwa manusia dan alam tidak bisa dipisahkan. Kesehatan manusia sangat bergantung pada kesehatan alam. Konsep ini dikenal sebagai planetary health, sebuah pendekatan yang melihat bahwa alam yang sehat akan menciptakan manusia yang sehat, dan sebaliknya, kerusakan lingkungan akan berdampak langsung pada kualitas hidup manusia. ASRI sendiri merupakan organisasi yang bergerak dengan pendekatan planetary health, menghubungkan isu kesehatan, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat dalam setiap programnya. 
Selain membahas ancaman kerusakan hutan, sesi diskusi juga mengajak peserta merefleksikan hubungan manusia dengan alam serta membicarakan aksi-aksi sederhana yang bisa dilakukan, termasuk oleh masyarakat yang tinggal jauh dari kawasan hutan. Melalui kegiatan Hutan Jaga Kita yang terbuka untuk umum ini, ASRI berharap peserta tidak hanya pulang dengan pengetahuan baru, tetapi juga dengan kesadaran bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Pesan tentang manfaat hutan, pentingnya pelestarian, dan aksi nyata ke depan diharapkan dapat terus disebarluaskan ke lingkungan masing-masing. (*) Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|