Cerita Kota

BBC Goes to Campus UNTAN: Dari Validasi Fakta, Digitalisasi, hingga Perspektif Kemanusiaan Berita

18 November 2025

169 views

Kontributor :
Adinda Y.R
@adindaydtmrae
Kontributor :
Adinda Y.R
@adindaydtmrae

CERITA KOTA | Perusahaan berita internasional, BBC atau British Broadcasting Corporation kembali menggelar program BBC Goes to Campus. Tahun ini gelaran itu dimulai dari Universitas Tanjungpura, lewat seminar dengan judul #BBCInside: Cerita dari Balik Layar Dunia Berita

Seminar ini menghadirkan tiga pembicara diantaranya ialah Famega Syavira seorang Senior Journalist Social Media BBC Indonesia, Jerome Wirawan yang merupakan Service Editor BBC Indonesia, dan Oki Budhi seorang Video Jurnalist BBC Indonesia. Seminar diikuti 650 peserta di di Auditorium Universitas Tanjungpura, Selasa (18/11/2025). 

Acara dibuka oleh Jerome yang menekankan bahwa fondasi utama jurnalisme adalah kemampuan memvalidasi data secara tepat. Ia menjelaskan bagaimana jurnalis dan ruang redaksi bekerja dalam ritme yang sama, terutama saat meliput peristiwa berisiko tinggi seperti demo atau perang, yang membutuhkan persiapan intens. Pesan utamanya tegas, “tidak ada berita seharga nyawa manusia.”

Sesi berikutnya dibawakan oleh Famega, yang memaparkan bagaimana BBC beradaptasi di era media sosial yang masif. Ia menegaskan prinsip-prinsip jurnalisme BBC seperti Truth, Impartiality, Transparency, Trust & Accuracy, Editorial Integrity, Independence, dan Accountability. Famega juga menyampaikan juga bahwa percepatan digital, termasuk hadirnya AI, menjadi tantangan dalam memvalidasi informasi. Selain itu, sebagai media independen, BBC sering berhadapan dengan tekanan ketika data yang dipublikasikan bersifat keras atau tidak menyenangkan bagi pihak tertentu.

Namun, momen paling kuat untuk memvalidasi kondisi berita di era globalisasi ini muncul dari Okin, yang membawa materi terkait bagaimana menarasikan berita lewat video jurnalistik. Ia menjelaskan bahwa ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam pemberitaan visual, yaitu visual, narasi, dan suara. 

Uniknya, ia juga bercerita pengalaman para jurnalis BBC yang hanya merekam berita dengan ponsel. Menurutnya, banyak kejadian penting terjadi secara tiba-tiba, sehingga jurnalis harus siap sedia dengan alat yang ada.

Tidak hanya itu, penjelasan terkait pemberitaan juga cukup humanis. Baginya, hal yang paling terpenting dalam menciptakan video jurnalistik adalah bagaimana jurnalis mampu hadir dalam momen tersebut, bukan hanya sekadar merekam, namun juga ikut merasakan. Pendekatan ini sejalan dengan konsep human interest yang juga ditegaskan oleh Jerome. Ia menyatakan bahwa cara meliput isu berita adalah dengan melihat manusia dari sisi kemanusiaannya, bukan semata kisah tragisnya.

Okin juga membagikan sejumlah pengalaman lapangan.  Baginya, setiap liputan adalah lesson learning, yaitu  pelajaran yang tidak hanya diperoleh penonton, tetapi juga jurnalis itu sendiri. Ia percaya bahwa peristiwa-peristiwa tersebut membentuk cara seorang jurnalis memandang dunia, memahami krisis, dan menghargai kehidupan yang ia rekam. (*)




Top