Cerita Kota

Cerita Anak Dwibahasa, Upaya Balai Bahasa Kalbar Hidupkan Bahasa Daerah

15 Desember 2025

191 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | Di antara ratusan buku yang diperkenalkan dalam Taklimat Kebahasaan dan Kesastraan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat, satu judul mencuri perhatian karena kesederhanaan ceritanya yang sarat makna: “Si Itam yang Cantek.” Buku cerita anak ini menjadi salah satu wujud nyata upaya pelestarian bahasa daerah sekaligus penanaman nilai karakter sejak usia dini.

Si Itam yang Cantek mengisahkan seekor ulat bulu yang tumbuh dengan rasa tidak percaya diri. Warna tubuhnya yang gelap dan penampilannya yang dianggap kurang menarik membuat Si Itam merasa berbeda dari lingkungan sekitarnya.

Ia kerap memandang dirinya rendah, tanpa menyadari bahwa terdapat keindahan dalam dirinya yang selama ini terabaikan. Melalui alur cerita yang sederhana dan bahasa yang dekat dengan keseharian anak-anak, pembaca diajak memahami bahwa keindahan tidak selalu hadir dalam rupa yang tampak, serta bahwa setiap makhluk memiliki keunikan dan nilai yang patut dihargai.

Pesan tentang penerimaan diri dan empati disampaikan secara lembut, menjadikan cerita ini relevan untuk pembaca lintas usia. Buku ini disajikan dalam dua bahasa, yakni Bahasa Melayu Pontianak dan Bahasa Indonesia, yang dapat diakses secara daring melalui link https://s.id/PemanfaatanBuku2025.

Penyajian dwibahasa tersebut tidak hanya memperkaya pengalaman membaca, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bahasa ibu yang kontekstual. Anak-anak diperkenalkan pada bahasa daerah melalui cerita yang menyenangkan dan mudah dipahami.

Karya ini ditulis oleh Abdul Rani, S.Pd., Gr., dengan ilustrasi karya Ade Syamsiah. Ilustrasi yang penuh warna dan ekspresif memperkuat emosi cerita, membantu pembaca mengikuti perjalanan batin Si Itam dari rasa rendah diri hingga mampu menerima dan menghargai dirinya sendiri.

Buku Si Itam yang Cantek merupakan satu dari 600 buku yang diperkenalkan dalam kegiatan Taklimat Kebahasaan dan Kesastraan yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat pada Senin, 15 Desember 2025, di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat. Kegiatan ini menjadi sarana penyampaian capaian program kebahasaan dan kesastraan sepanjang tahun 2025, sekaligus wadah memperkuat sinergi dengan masyarakat dan mitra strategis.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat, Dr. Uniawati, S.Pd., M.Hum., menegaskan bahwa penerbitan buku cerita anak berbahasa daerah memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan bahasa ibu. “Buku-buku ini diharapkan menjadi wadah untuk menguatkan bahasa daerah agar tetap hidup dan digunakan oleh generasi muda,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Sefpri Kurniadi, S.STP, Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah Provinsi Kalimantan Barat, menekankan pentingnya menjaga bahasa ibu di tengah arus globalisasi. “Bahasa ibu jangan sampai hilang dimakan zaman. Dari penguatan bahasa daerah inilah kita juga membangun fondasi untuk penginternasionalan Bahasa Indonesia,” tuturnya.

Si Itam yang Cantek hanyalah satu di antara ratusan buku yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut, namun kisahnya merepresentasikan semangat besar yang diusung Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat. Melalui cerita-cerita sederhana yang dekat dengan dunia anak, bahasa daerah bisa dihidupkan kembali sebagai bahasa yang dibaca, dipahami, dan dirasakan.

Buku-buku ini menjadi jembatan antara generasi, menghubungkan warisan bahasa ibu dengan pembaca muda di tengah tantangan zaman. Dari kisah seekor ulat bulu yang belajar menerima dirinya, dan disajikan dalam bahasa daerah yang akrab dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, pembaca diajak untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa ibu.

Cerita sederhana tersebut menunjukkan bahwa dari buku cerita berbahasa daerah ini mampu menjadi medium yang efektif dalam menyampaikan pesan moral dan membentuk karakter generasi masa depan. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top