Cerita Kota

Hujan Bulan Juli: Bumi Menjauh dari Kota Ini

18 Juli 2025

291 views

Kontributor :
Dhiah Wiyarsih
@dhivvysh
Kontributor :
Dhiah Wiyarsih
@dhivvysh

“Jangan lupa bawa jas hujan.”

Kalimat ini mulai sering diucapkan layaknya mantra. Dilontarkan oleh beragam manusia, di berbagai situasi. Mulai dari ocehan ibu di meja makan, teriakan kakak di teras rumah, hingga tawaran yang dibalut gurauan dari pedagang di toko kelontong. Interaksi-interaksi kecil ini kembali menghiasi bulan Juli – bulan yang digadang-gadang sebagai puncaknya kemarau setiap tahunnya.

Orang-orang mulai bertanya, “kenapa hujan berulang kali turun di tengah kota akhir-akhir ini? Padahal sudah jelas ini masih musim kemarau.”

Sebagian orang mengartikannya sebagai berkah dari Tuhan, karena di saat semua sumber air mulai kering, muncul setitik harapan dari setiap rintik hujan yang turun ke bumi. Sebagian yang lain justru merasa resah. Hujan yang datang tanpa diundang, seolah berdosa karena telah menyalahi kodratnya. Kemarau bukanlah rumah bagi hujan. Bahkan ilmu pengetahuan juga sudah memberikan peringatan yang memperkuat fakta bahwa seringnya hujan di musim kemarau menunjukkan bahwa bumi telah banyak berubah.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa Juli dan Agustus akan menjadi puncak musim kemarau tahun ini. Jika sesuai dengan prediksi tersebut, Pontianak sebagai daerah yang dilewati garis Khatulistiwa, seharusnya akan terus menampakkan langit biru yang cerah.

Setengah bulan berlalu, langit tampaknya tak hanya menampilkan warna biru, tetapi juga abu-abu. Hampir setiap siang, para pengendara motor menepi dan mengeluarkan plastik bermacam warna dan rupa yang sudah terbungkus dan terlipat rapi di dalam tas ataupun jok motor. Mereka rela menerobos hujan dalam keadaan terbungkus plastik, demi sampai ke tempat tujuan dengan keadaan kering. 

Beberapa kilometer dijalani dengan kecepatan cukup pelan, tak ada yang berani mengambil risiko dengan melaju meskipun jalanan tidak dipenuhi kendaraan. Tak berselang lama hujan pun mulai mereda. Motor-motor kembali turun ke jalan, dan pengendara mulai merambat.

Sayangnya, belum genap lima menit, rintik yang sebelumnya hilang kembali turun, mengamuk lebih keras dan berubah menjadi badai. Gelombang kedua ini membuat jalanan kembali sepi, hanya yang “berplastik” dan “beratap” yang masih bertahan. Mereka yang menepi, merengut marah tanpa perlawanan, sembari mengutuki diri karena lupa membawa jas hujan hari ini.

Telepon genggam diangkat, jari mulai mengetuk layar, orang-orang yang berteduh mulai menerima keadaan dan memilih untuk menceritakan kisahnya ke teman kerja hingga keluarga. Mereka yang menjadi lawan bicara merasa heran, karena di daerah mereka tidak turun hujan, sekalipun masih di kota yang sama. 

Apakah daerah mereka ditakdirkan untuk tetap kering?

Belasan menit berlalu, mentari kembali menyapa dan jalanan mulai padat kembali. Langit yang sebelumnya kelabu, tiba-tiba kembali menunjukkan warna biru yang perlahan berubah kemerahan saat senja tiba. Tak ada gumpalan awan, bintang pun bersinar terang menghiasi malam, seakan menghapus jejak badai yang telah mengguyur kota. 

Tak akan ada yang bisa menebak sepenuhnya tentang apa yang akan terjadi esok. Ketika semua orang bersiap akan kedatangan hujan, tiba-tiba ia pergi entah kemana, seakan menjadi anak kecil yang merajuk usai dimarahi orang tuanya. Mayoritas orang memilih untuk pasrah dan menerima amukan si hujan, padahal sebelumnya hal ini tak pernah terjadi karena manusia berhasil membangun hubungan yang baik dengan bumi. 

Apakah kita sudah ditahap harus pasrah menerima semuanya? Apakah hujan yang tak menentu ini harus diterima dengan sepasang jas hujan?

Semoga saja tidak. Semoga saja manusia dan tanah Khatulistiwa bisa kembali akur dengan bumi, sehingga hujan tidak sering berkunjung tanpa diundang. Semoga manusia tidak memilih untuk bersahabat dengan jas hujan melebihi hubungannya dengan bumi selama ini. (*)

Ikuti terus cerita dari Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!

Foto: Gema Mahardika 




Top