Hulu Indonesia Festival: Perayaan Tanah dan Alam Kapuas Hulu
26 September 2025 |
475 views |
CERITA HULU | September tahun ini dihiasi oleh berbagai festival. Hampir setiap akhir pekan, selalu ada perayaan-perayaan, baik yang kecil maupun yang besar. Kini, di penghujung September, giliran masyarakat bagian Hulu Kalimantan Barat yang menggelar perayaan. Hulu Indonesia Festival (HI-Fest) kembali hadir, sebagai bentuk perayaan terhadap alam, budaya dan identitas Kapuas Hulu. Bertemakan “Tentang Tanah, Tanah Kita”, acara ini bertujuan membuka ruang kolaborasi antara komunitas, pegiat seni, masyarakat adat, lembaga lingkungan, dan masyarakat umum di daerah Kapuas Hulu. “Tanah, hutan, dan sungai bukan cuma tempat kita tinggal, tapi bagian dari siapa kita. Lewat tema ini, kita ngajak semua orang terutama anak muda buat lebih sadar, lebih peduli, dan ikut terlibat menjaga alam serta budaya lokal sebagai identitas,” ujar Agustinus Suryaindrawan, Festival Director di Hulu Indonesia Festival (Hi-Fest). Agustinus, atau yang akrab disapa Aday, menjelaskan perayaan ini digagas dan diadakan oleh Putussibau Art Community (PAC). HI-Fest tahun ini memiliki lima rangkaian acara. Kelana Hulu, menjadi rangkaian pertama yang telah terlaksana. Di acara ini, peserta diajak untuk berkeliling Putussibau dengan bersepeda, hingga menanam pohon bersama anak-anak SDN 06 Putussibau. Rangkaian selanjutnya terdiri atas Bicara Hulu yang membahas tentang lingkungan, budaya, dan masyarakat adat. Kemudian akan ada Loka Hulu yang membahas tentang lokakarya, Sinema Hulu yang akan menampilkan film lokal terkait alam dan budaya, serta Suara Hulu yang berisikan pertunjukan seni dan panggung musik. Keempat rangkaian acara ini akan berlangsung tepat saat festival diadakan, yakni tanggal 27-28 September 2025 di depan Sekretariat Putussibau Art Community (PAC), yang masih berada di area luar GOR Uncak Kapuas. Festival ini juga akan melibatkan UMKM komunitas lokal, sanggar seni serta seniman-seniman muda asal Kapuas Hulu. Aday berharap, segala rangkaian acara dapat membuat pengunjung bisa merasakan nilai budaya dan kearifan lokal, sekaligus refleksi tentang hubungan manusia dan alam. 
“Harapannya, setelah festival ini, setiap orang pulang bawa cerita, semangat, dan kesadaran baru untuk ikut menjaga tanah dan hutan kita. Makin banyak pihak terlibat, makin banyak kolaborasi lintas sektor, dan makin kuat kesadaran masyarakat bahwa Kapuas Hulu adalah tanah yang harus kita jaga bareng-bareng,” ujar Aday. Aday memastikan HI-Fest tahun ini akan lebih berwarna dari tahun sebelumnya. Mendatangkan lima pengisi acara dari berbagai daerah, HI-Fest juga akan menghadirkan penutur sastra lisan dari berbagai suku di Kapuas Hulu. Beberapa diantaranya seperti Ine Martha dari suku Kayaan Haraan, Iban dan Robertus Tutong dari suku Iban, serta Uyub Mastro, pemain Sape’ dari suku Kayaan Kapuas Hulu. Selain berbagai bentuk kolaborasi antar daerah, festival ini juga akan mengadakan acara pengenalan kekayaan pangan lokal dari Tamambaloh dengan konsep “Rasa Hulu”. Ditambah dengan inovasi daun pengganti micin oleh POLNEP Kapuas Hulu, dan sesi diskusi bersama Bahenap tentang Pemberdayaan Hutan Desa, menjadikan acara ini semakin berpotensi untuk membuka pikiran masyarakat terkait segala potensi di tanah Kapuas Hulu. Aday menekankan kembali terkait pentingnya bentuk perayaan yang mereka angkat tahun ini. Seluruh rangkaian acara dimaksudkan untuk memfasilitasi insan-insan kreatif dan segala inovasinya agar semakin dikenal oleh masyarakat luas. "Hi-Fest 2025 bukan cuma festival. Inilah gerakan kecil, lahir dari tanah, untuk tanah, dan demi masa depan tanah tempat kita berpijak dan bernaung,” tutup Aday. (*) 
Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|