Cerita Kota

Ketika Perempuan Dibaca dari Sudut Pandang Tanaman

28 September 2025

256 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | Apa jadinya jika perempuan dilihat dari sudut pandang tanaman? Dalam novel Duri dan Kutuk, Cicilia Oday menghadirkan kisah yang unik dan berlapis. 

Tokoh utama, Eva, seorang penjual bibit tanaman dan alat-alat berkebun. Ia hadir sebagai sosok penuh keganjilan, tubuhnya yang tak biasa, membuatnya kerap dibicarakan oleh orang-orang di sekitar.

Cicilia Oday merajut cerita dengan cermat. Ia menghadirkan perpindahan sudut pandang yang atraktif sehingga pembaca bisa masuk ke dalam isi pikiran tiap tokohnya, lalu dihadapkan pada pilihan, kepada siapa mereka harus percaya? 

Jawaban dari pertanyaan itu baru benar-benar terungkap ketika cerita mencapai akhir.

Cicilia seakan menegaskan lewat kisahnya bahwa bahkan tanaman pun memiliki ruang yang patut dihargai. Keanehan demi keanehan terus muncul di rumah Eva, bukan hanya dari tanaman di pekarangan yang tampak hidup seperti manusia, melainkan juga dari orang-orang yang datang dan pergi.

Lebih jauh, Duri dan Kutuk  juga merefleksikan bagaimana perempuan sering kali dijadikan objek dosa dalam pandangan patriarki, diposisikan sebagai biang kerok, terutama terkait hawa nafsu. Melalui Eva, Cicilia Oday menghadirkan perempuan yang bukan hanya pasif menerima, melainkan memiliki daya untuk melawan.

Sejak masa SMA, Cicilia menemukan bahwa membaca bukan hanya perkara pengetahuan, tetapi juga hiburan. Ia jatuh cinta pada novel Twilight dan buku-buku thriller, hingga membuatnya lebih akrab dengan dunia fiksi. Prinsipnya sederhana: membaca harus dimulai dari rasa cinta, bukan keterpaksaan. Prinsip yang kini ia bawa ke dalam karya tulisannya.

Melalui Duri dan Kutuk, Cicilia Oday juga membagikan pandangannya dalam diskusi panel “Kata-Kata dari Garis Tengah Bumi” di ajang Pesta Literasi Indonesia. Festival literasi ini digelar di berbagai kota dan Pontianak menjadi kota penutup pada Minggu, (28/9/2025).

Tak hanya diskusi panel, Pesta Literasi Indonesia juga diisi dengan berbagai kegiatan, seperti pertunjukan seni, lomba mewarnai, pemutaran film pendek, hingga bazar buku. Semangatnya satu, yaitu merayakan literasi sebagai ruang perjumpaan, pertukaran ide, dan penguatan budaya membaca.

Cicilia Oday menjadi salah satu wajah yang mengingatkan kita bahwa kata-kata mampu meninggalkan bekas, sekaligus menjadi perlawanan. Melalui Duri dan Kutuk, ia mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, menengok pada diri sendiri, dan bertanya: seberapa jauh kita menghormati batasan baik pada manusia, maupun pada hal-hal yang tampak diam seperti tanaman di pekarangan rumah. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top