Cerita Kota

Menggali Potensi Wisata Edukasi di Kota Khatulistiwa

21 September 2025

261 views

Kontributor :
Dhiah Wiyarsih
@dhivvysh
Kontributor :
Dhiah Wiyarsih
@dhivvysh

CERITA KOTA | Hari pertama Kulminasi Matahari di bulan September 2025 tiba. Panas matahari kembali menyengat kulit para pengunjung Tugu Khatulistiwa. Pendingin ruangan mulai tak mampu mendinginkan ruangan tugu. 

Fenomena tanpa bayangan mulai menarik banyak pengunjung. Mulai dari warga lokal, sampai dari pulau yang berbeda. Setiap orang yang berkunjung hari itu tidak hanya mendapatkan pengalaman pariwisata biasa, melainkan sekaligus edukasi terkait fenomena yang hanya terjadi 2 kali dalam setahun.

Di saat bersamaan, Minggu (21/9/2025), komunitas Susur Galur kembali mengadakan Kanal Wicara, yakni acara diskusi dan refleksi dari kegiatan Khatulistiwa Connect Menuju Lintasan-Silangan. Kanal Wicara kali ini mengangkat tentang potensi wisata edukasi Kota Pontianak sebagai kota yang dilintasi garis Khatulistiwa.

Diskusi kembali digelar di Ruangan Tugu Khatulistiwa. Keempat pembicara secara bergantian memaparkan materi, pendapat dan pengalaman yang berkaitan dengan upaya dalam memperkenalkan dan mengembangkan potensi pariwisata Kota Pontianak.

Kadisporapar Kota Pontianak, Rizal, memaparkan Pontianak masih menyimpan banyak potensi wisata selain Tugu Khatulistiwa. Sebagai orang yang tergabung dalam kedinasan yang bergerak dalam kemajuan pariwisata daerah, ia menyatakan jika pemerintah selalu berusaha untuk mengembangkan tempat atau situs-situs yang berpotensi menjadi ikon wisata Pontianak, tak terkecuali Tugu Khatulistiwa. 

“Saya juga sudah berusaha untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam mempromosikan wisata-wisata di Pontianak. Menurut saya Pontianak punya potensi besar untuk wisata edukasi, dan tentunya dalam proses promosi ini diperlukan banyak event-event menarik. Di Pontianak itu harus diadakan banyak event. Namun tentunya masih ada beberapa hambatan, seperti anggaran yang terbatas. Tetapi dari saya pribadi, saya sangat mendukung adanya event-event seperti yang diadakan oleh Susur Galur ini,” ujar Rizal.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Muhammad Habibie, Dosen dari Politeknik Negeri Pontianak, yang menegaskan pentingnya poin edukasi dalam segala aspek pariwisata. Menurutnya, setiap tempat wisata harus dibarengi dengan edukasi kepada pengunjung, baik berupa arahan dari pemandu wisata, maupun dalam bentuk fasilitas yang disertai informasi penting bagi pengunjung. Hal ini dimaksudkan agar pengunjung dapat merasakan pengalaman berwisata yang baru. 

“Saya memang belum terlalu sering ke Tugu. Dan dari apa yang saya lihat di sini, saya sedikit menyayangkan apa yang dilakukan oleh setiap pengunjung. Mereka lebih memilih untuk mendokumentasikan diri sendiri, padahal ada banyak hal yang menarik di sini. Saya rasa mungkin dalam pengembangan area Tugu, ada baiknya untuk memberikan kiat dan tips untuk dokumentasi. Misal, mungkin ada spot atau sudut pengambilan gambar tertentu yang bisa membantu pengunjung untuk mendokumentasikan objek-objek penting di area Tugu Khatulistiwa,” ucap Muhammad.

Ridho Briliantoro, pendiri Pontinesia, melanjutkan acara kanal wicara dengan pengenalan Pontinesia sebagai media online yang menjadi perpanjangan tangan dalam promosi daerah. Ridho, dalam sesinya menjelaskan bagaimana narasi kreatif dan partisipasi pemuda lokal dapat membantu proses promosi Kota Pontianak. 

“Kami berawal dari media online, lalu berkembang menjadi creative company yang menggerakkan anak muda lewat jalur kreatif untuk mendokumentasikan kota. Kami ingin menghadirkan narasi positif dan cerita-cerita kota, dengan harapan ketika orang-orang mencari tentang Pontianak di Google, orang-orang tidak lagi melihat gambar kuntilanak seperti dulu.” 

Tak berhenti di situ, acara kanal wicara masih dilanjutkan oleh Gusti Enda, sebagai perwakilan dari komunitas Susur Galur. 

“Komunitas Susur Galur ini bertujuan untuk mengkaji ruang-ruang budaya yang melihat masa lalu, hari ini dan masa depan sebagai satu dokumentasi pengetahuan yang bisa didistribusikan dalam bentuk seni ataupun dalam konteks seni visual. Dapat kita lihat dari acara ini, kami berfokus untuk memperkenalkan peristiwa Kulminasi Matahari sebagai kegiatan dengan potensi wisata edukasi.”

Kanal wicara bertajuk Pada Titik Tanpa Bayangan: Membaca Khatulistiwa & Potensi Wisata Edukasi berhasil membentuk ruang diskusi yang menyatukan pemerintah, akademisi, media kreatif dan komunitas budaya untuk membahas potensi wisata di Pontianak. Bertepatan dengan fenomena kulminasi matahari, semakin memperkuat tujuan awal dari acara ini, yakni membahas tentang bagaimana edukasi dan pariwisata dapat berjalan beriringan dan saling melengkapi, sehingga dapat menciptakan ruang belajar dan rekreasi yang baik untuk setiap tempat wisata di Pontianak. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top