Menilik Dapur Jurnalistik Modern Bersama BBC Indonesia
18 November 2025 |
214 views |
CERITA KOTA | Setiap detik, dunia dipenuhi oleh aliran informasi yang tak pernah berhenti. Beragam peristiwa datang silih berganti, ada yang tertangkap lensa kamera, dan ada pula yang hanya berupa cerita berantai. Manusia pun mulai bertanya-tanya, dari sekian banyak informasi yang tersebar, yang mana yang benar dan akurat? Dalam derasnya arus informasi, para jurnalis menjadi garda terdepan, yang turun langsung ke lapangan untuk menelusuri jejak fakta. Tugas mereka bukan sekadar menyampaikan kabar, melainkan untuk memvalidasi kebenaran dari setiap informasi yang tersebar luas. Di antara banyak lembaga penyiaran dunia, British Broadcasting Corporation (BBC) menjadi salah satu lembaga penyiaran berskala internasional yang berpengaruh dalam arus penyebaran informasi di dunia. Lahir di Inggris, kini BBC memiliki puluhan biro yang beroperasi di berbagai negara. Secara resmi mengudara bersama Indonesia sejak 30 Oktober 1949, BBC mulai menjadi rujukan informasi bagi rakyat Indonesia. Universitas Tanjungpura terpilih menjadi tuan rumah program BBC Goes To Campus 2025 di Kalimantan Barat. Sebagai bentuk kerja sama antara Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Tanjungpura dan pihak BBC Indonesia, acara ini digelar pada 18 November 2025 di Auditorium Untan, yang menghadirkan tiga jurnalis BBC Indonesia. Selama kurang lebih tiga jam, setiap sesi seminar memberikan wawasan baru terkait bagaimana BBC bekerja di balik layar, serta peran mereka dalam perkembangan praktik jurnalisme di Indonesia. Antusiasme peserta terlihat sejak pagi, dengan ratusan peserta dari berbagai kalangan, fakultas, hingga dari Universitas lain memenuhi Auditorium. Sesi pertama diambil alih oleh Jerome Wirawan, selaku Service Editor atau kepala biro BBC Indonesia. Dibuka dengan quiz-quiz sederhana, Jerome memantik kembali pengetahuan para peserta terkait tugas utama jurnalis, serta bagaimana dampak dari informasi palsu dan praktik AI dalam penyebaran informasi di masa kini. Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Famega Syavira Putri, selaku Senior Journalist yang kini berfokus dalam pengelolaan media sosial BBC. Famega menjelaskan bagaimana perjalanan BBC di Indonesia dan perkembangannya seiring zaman. “BBC Indonesia dulunya hanya melalui siaran radio, yang awalnya disiarkan dari London langsung. Namun, kini BBC Indonesia sudah beralih ke full digital sebagai bentuk adaptasi dengan dunia digital,” tutur Famega. Sesi ketiga dilanjutkan oleh Oki Budhi, yang menjelaskan tentang teknis pengambilan berita BBC Indonesia. Sebagai Video Journalist BBC Indonesia, Oki memaparkan bagaimana mereka memproduksi video yang singkat namun padat makna. Video berita idealnya dimulai dengan pembuka yang kuat, visual relevan, serta potongan kutipan yang menghidupkan cerita. “Yang terpenting dalam pembuatan berita nya adalah dampak dari video tersebut. Untuk membuat orang menonton, kita harus buat hook yang baik dan kuat, dibarengi dengan good quote dari questions, serta dramatis yang datang secara alami menjadi hal yang sangat penting,” jelas Oki. Dalam sesi tanya jawab, BBC mengajak mahasiswa berpikir tentang perbedaan antara kritik dan keberpihakan. Kritik yang berbasis data adalah bagian dari jurnalisme, sementara keberpihakan pada kelompok tertentu adalah pelanggaran etika. Sesuai dengan salah satu prinsip utama jurnalisme BBC, yakni tidak berpihak. Selain itu, Jerome juga menjelaskan tentang etika-etika jurnalistik yang harus dipatuhi oleh seluruh jurnalis BBC, seperti kebijakan untuk tidak menampilkan wajah korban dari beberapa kasus kriminal. Hal ini ditujukan untuk memberikan privasi dan keselamatan, baik bagi narasumber, serta korban suatu kasus dan keluarganya. Sebagai penutup, Jerome menjelaskan tentang adanya pelatihan keselamatan kepada para jurnalis BBC. “Setiap wartawan yang turun ke daerah konflik ataupun saat kericuhan demo itu sudah melalui training, dan tentunya sudah ada perencanaan yang matang sebelum menurunkan mereka ke lapangan. Dengan gear-gear yang memadai, Kami BBC Indonesia tetap akan mendahulukan keselamatan para jurnalis, karena tidak ada berita seharga nyawa.” Kunjungan singkat BBC kali ini bertujuan untuk membuka pemikiran semua peserta tentang betapa kompleksnya proses di balik layar dunia media, mulai dari tahap verifikasi hingga penyebaran informasi. Setiap sesi dan narasumber juga mengajak para peserta agar melihat jurnalisme bukan hanya sebagai profesi, tetapi sebagai tanggung jawab publik. (*)
|