Menoreh Kasih dari Film SORE
“Hai, aku Sore, istri kamu dari masa depan.” Begitu dialog familiar film SORE hadir, bahkan dalam scene filmnya pun, dialog itu diucap puluhan kali dan menjadi bagian dari perjalanan penting film ini akan dibawa ke mana. SORE: Istri dari Masa Depan adalah film garapan dari sutradara Yandy Laurens yang telah launching per tanggal 10 Juli 2025. Film SORE merupakan kembangan web series tahun 2017 yang dipublikasikan lewat Youtube di akun Tropicana Slim sebanyak 8 episode. Web series tersebut digarap menjadi film sejak tahun Desember 2022 sebagai draft pertama naskah film ini dibuat, hingga draft finalisasi terakhir jatuh pada Agustus 2024. Film ini tidak jauh berbeda dengan alur cerita web seriesnya dulu. Menceritakan misi Sore yang datang dari masa depan sebagai istri Jonathan, hadir di kehidupan suaminya untuk mengubah pola hidupnya yang tidak sehat: merokok, minum alkohol, begadang, yang mengakibatkan Jonathan meninggal lebih dulu akibat serangan jantung di masa depan. Kesamaan lainnya, film ini masih diperankan oleh Dion Wiyoko sebagai Jonathan. Memang yang berbeda adalah pemeran utama perempuan di film ini diperankan oleh Sheila Dara sebagai Sore, sedangkan di web seriesnya adalah Tika Bravani. Begitu pula dengan pemeran pendukung teman Jonathan, yaitu Carlos. Tidak hanya pemerannya yang berbeda, yang lebih menonjol adalah konflik antara web series dan film. 
Di web series, masalah yang diceritakan adalah misi Sore yang selalu gagal membuat kehidupan Jonathan di masa sekarang lebih sehat. Namun di film, tidak hanya misi Sore yang gagal, tetapi konflik yang disajikan jauh lebih kompleks, terutama dalam menggali kehidupan romansa, keluarga, dan pekerjaan Jonathan dan Sore. Film ini dibuka dengan Jonathan yang berada di Finlandia, tepatnya di hamparan es dan memotret keindahan alam sebagai fotografer. Suasana awal yang bisa dirasakan ketika menonton film ini adalah dingin dan sepi. Scene selanjutnya diikuti dengan kehidupan sehari-hari Jonathan yang tinggal di Kroasia, dengan spesifik kota Grožnjan dan ibu kota Zagreb. Kota Grožnjan sangat mendukung peran Jonathan yang bekerja sebagai fotografer. Kota ini dikenal dengan kota seniman. Rumah, patung hingga kerajinan terbangun dari batu tua. Kota ini menggambarkan ketenangan dari hiruk pikuk ibukota, alami dari hamparan bukit hijau dan warna palet dari batu-batu tua, serta melankolis dari cahaya sinar matahari yang hangat. Jonathan sangat mirip dengan kota Grožnjan. Scene Jonathan tinggal di kota ini memvisualisasikan antara orang dan tempat yang telah menyimpan banyak memori, cukup klasik dan nostalgik. Kehidupan Jonathan di Kroasia cukup rumit. Jonathan hidup dengan pola yang tidak sehat dengan rokok dan alkohol, yang didukung dengan jam tidur yang tidak teratur. Selain itu, Jonathan menghadapi ketakutan akan tidak diterimanya hasil karya fotonya, dimana ambisinya adalah memiliki pameran tunggal. Struggle kehidupannya juga dibumbui dengan pacarnya yang sangat dominan dan mengatur, terlihat di scene di mana Jonathan dipaksa untuk pindah kota dan bekerja membangun bisnis yang telah dibangun oleh ayah pacarnya. Kehidupan Jonathan berubah ketika Sore hadir tepat berada di atas kasur dan di samping Jonathan. Scene tersebut menjadi awal mula perkenalan Sore dan Jonathan. Perjalanan film ini akan berfokus kepada misi Sore yang mau mengubah hidup Jonathan lebih sehat. Sore digambarkan sangat teduh, manis, dan menarik. Sosoknya yang datang secara misterius, dan mengetahui setiap detail kehidupan Jonathan, bahkan rahasia terpendam pun, memikat penonton untuk kenal lebih dalam “siapa Sore sebenarnya?”, “ bagaimana Sore datang dari masa depan?”. Alur cerita di film didominasi oleh Sore hadir berkali-kali, bisa saja puluhan dan ratusan kali, entah berapa lama tahun yang sudah Sore habiskan. Sore mendapatkan “hadiah” dari semesta, yaitu memiliki “kekuatan alam”. Maka dari itu, ia selalu mendapatkan kesempatan untuk terus mengulang waktu dan kembali ke dunia Jonathan di masa sekarang . Film ini penuh dengan perasaan akan keresahan, kelelahan, kesedihan, kehampaan, sekaligus kebahagiaan. Perasaan mix feeling di setiap alurnya digambarkan dengan pengambilan visual yang hangat, terutama dominasi cahaya kuning keemasan dan framing close up. Visualisasi ini sangat menangkap ekspresi antara Sore dan Jonathan. Di setiap perjalanan untuk mendeliver perasaan kedua aktor didukung dengan soundtrack yang pas dan ngena banget. Di awal film dibuka dengan lagu Forget Jakarta dari Adhitia Sofyan. Lagu lainnya dari Adhitya adalah Gaze, yang dipakai untuk menggambarkan pertemuan di tengah keramaian. Lagu lainnya seperti Pancarona dan Terbuang Dalam Waktu oleh Barasuara, menjadi lagu utama untuk mengiringi perjalanan cerita ke alur klimaks. Hingga di akhir film, suasana syahdu, sendu, serta terharu diikat dengan lagu legendaris dari Sheila on 7, yaitu Hingga di Ujung Waktu. 
Menikmati Sore bukan hanya perkara menyelami kisah, namun juga menarik garis besar dari kasih. Setidaknya, ada beberapa hal yang dapat dibawa pulang, selain rasa haru dan bahagia menghabiskan 1 jam 59 menit terbaik dalam hidup. Orang yang tepat, datang di waktu yang tepat
Film SORE mengajarkan kita untuk mengerti bahwasanya, konsep dari orang yang tepat akan datang di waktu yang tepat. Artinya, dalam menjalin hubungan, kadang kali kita selalu ragu “apakah benar dia adalah jodoh kita?”, “apakah benar dia orangnya?”, “apakah benar ini waktunya untuk aku melakukan perubahan?”. Film ini memberi pesan bahwa hal yang terburu-buru dan takut sesuatu datang terlambat adalah kesalahan besar. Sore datang dari masa depan dan merasa harus mengubah kehidupan Jonathan secara cepat dan instan. Sore juga merasakan ketakutan bahwa kalau bukan kali ini, kapan lagi Jonathan akan berubah. Namun, faktanya, yang tepat tak akan pernah datang terlambat. Kita tidak bisa mengubah seseorang untuk menjadi “sosok yang tepat” berdasarkan sudut pandang kita. Tapi kita hanya bisa menunggu bersama waktu, kapan “sesuatu yang tepat” itu layak dipertemukan dengan kita. Sehingga, menunggu yang tepat pun harus diiringi dengan proses diri kita untuk menjadi tepat lebih dulu. Takdir dan hukum alam yang tidak bisa diganggu
Kisah Sore dan Jonathan memperlihatkan bagaimana takdir tidak bisa diganggu gugat, sebesar apapun cinta. Dari awal, Sore berpikir bahwa semesta memberikan kesempatan untuk mengubah kehidupan Jonathan. Namun seiring perjalanan, Sore berulang kali masuk ke dunia sekarang, misinya selalu gagal. Sampai akhir cerita, Sore memahami bahwa misinya salah. Ternyata, semesta memberikan kesempatan kepada Sore untuk belajar memahami arti waktu dan takdir yang sudah dihadapi di masa depan. Alur plot cerita ini menjelaskan bahwa sebesar apapun upaya yang kita perjuangkan, semesta tetap menyisakan ruang bagi takdir untuk berbicara. Maka yang terbaik dari segala upaya adalah keikhlasan untuk tidak berekspektasi menggenggam apapun. Memahami arti unconditional love
Unconditional love atau cinta tanpa syarat dirasakan oleh Sore yang selalu gigih terus kembali dan mengulang cerita yang sama di kehidupan Jonathan. Berkali-kali ia gagal dengan misinya, maka diulangnya kembali kenangan yang ia buat bersama suaminya. Bahkan di titik ia tidak tahu apa yang harus diubah, ia bukannya pasrah. Namun, selalu mencari hal apa yang terlewatkan dan membuat misinya selalu gagal. Setiap kali Sore bangun dan memulai kehidupan yang baru, ia hanya bersikeras untuk membuat kehidupan Jonathan lebih baik, tidak ada ekspektasi bahwa cintanya akan dibalas. Cinta tanpa syarat versi Sore menyadarkan kita pula bahwa titik tertinggi mencintai orang lain adalah keberanian untuk melepaskan dengan lapang dada, tepatnya tanpa takut kehilangan. Sama dengan Sore, pada akhirnya dalam puluhan kali ia memulai kehidupan yang baru, sampailah ia di titik akhir cerita bahwa mencintai dan melepaskan Jonathan adalah titik akhir cinta yang ia miliki. (*) Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|