Cerita Kota

Perayaan Senja Ramadan, Pedagang dan Perjuangan

22 Februari 2026

95 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | Sore itu, matahari belum condong sepenuhnya ke barat. Jarum jam baru menunjukkan pukul setengah satu siang, tetapi suasana di kawasan Masjid Raya Mujahidin Pontianak sudah mulai hidup. Peniaga yang mulai merapat, aroma santan, minyak panas, dan kue-kue manis bercampur di udara. 

Ramadan 1447 H kembali menghadirkan perayaan senja menjelang maghrib yang selalu dicari di bulan penuh berkah ini. Di antara deretan tenda dan meja yang tersusun rapat, ada kisah-kisah perjuangan kecil yang ikut menghidupkan suasana, salah satunya melalui lapak milik Titik.

Titik, wanita di usia kepala empat ini mengaku pertama kali membersamai bazar Ramadan Mujahidin di warsa ini. Dari pukul 12.30 hingga menjelang azan Maghrib, ia setia melayani pembeli yang datang silih berganti, mulai dari ibu rumah tangga, pekerja kantoran, hingga anak-anak yang menenteng uang takjil.

Namun lapak Titik bukan sedikit berbeda, tak hanya menjual dagangan sendiri, ia juga menjadi penghubung rezeki bagi banyak orang. Lebih dari sepuluh pembuat kue menitipkan dagangan mereka kepadanya. 

Ada yang membuat risol mayo dari dapur rumahnya, ada yang khusus memasak ketupat, dan ada pula yang mencoba peruntungan lewat takoyaki. Ragam jualan itu tersusun rapi di atas meja: ketupat yang dibungkus anyaman janur, risol mayo berkulit renyah, hingga takoyaki hangat dengan saus melimpah.

“Yang paling banyak laku itu ketupat sama risol,” ujar Titik, sambil tangannya cekatan melayani pembeli. 

Kedua menu itu memang jadi primadona. Ketupat menjadi pelengkap wajib hidangan berbuka, sementara risol mayo dengan isian gurihnya jadi camilan favorit segala usia.

Hari ketiga puasa menjadi salah satu momen paling ramai. Kebetulan jatuh pada hari Sabtu, suasana libur membuat pengunjung membludak. Sejak sore, antrean di depan lapak Titik tak pernah benar-benar sepi. Senyum tipisnya sesekali mengembang, lelahnya terbayar oleh dagangan yang cepat berkurang.

Di balik ramainya transaksi, ada perjuangan yang tidak terlihat. Untuk mendapatkan tempat berjualan di bazar Ramadan Mujahidin bukan perkara mudah. Persiapan sudah dimulai sejak satu hingga dua bulan sebelum puasa. Rebutan lokasi menjadi cerita tahunan. Siapa cepat, dia dapat. Tahun ini, Titik mengeluarkan biaya sewa Rp3 juta untuk 25 hari berdagang.

Angka itu tentu bukan kecil. Namun, dari hasil jualan, keuntungan bersih yang bisa diraih mencapai sekitar Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per hari. Jika ramai, angka itu cukup untuk menutup biaya sewa sekaligus memberi tambahan penghasilan bagi keluarga dan para pembuat kue yang menitipkan dagangan.

Menjelang Maghrib, saat azan berkumandang, suasana perlahan mereda. Sisa dagangan dirapikan, uang hasil penjualan dihitung, dan Titik menarik napas panjang. Esok hari, ia akan kembali membuka lapak yang sama, di tempat yang sama, dengan semangat yang sama. Menyambut Ramadan, menyambut rezeki. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia! 




Top