Pontianak Bedengkang: Bagaimana Iklim Mengubah Pontianak
20 September 2025 |
483 views |
CERITA KOTA | Saat matahari berada di atas kepala, sekelompok manusia berkumpul di ruang pameran Tugu Khatulistiwa, Sabtu (20/9/2025). Bukan hanya untuk melihat-lihat, melainkan juga untuk berdiskusi dan merefleksi terkait fenomena kuliminasi matahari yang datang setiap tahunnya. Agenda ini diinisasi Susur Galur, lewat sejumlah kanal wicara. Mengusung tema Dampak Matahari terhadap Ekologi di Perkotaan, kanal wicara kali ini menghadirkan tiga narasumber dari bidang yang berbeda-beda. Pemateri pertama adalah Fanni Aditya dari BMKG Kalbar. Aditya bercerita tentang bagaimana Pontianak terus mengalami dampak perubahan iklim setiap tahunnya. Dalam lima tahun terakhir, telah terjadi perubahan suhu yang cukup besar. "Proses perubahan suhu itu tidak terjadi seketika, tetapi telah terjadi dari bertahun-tahun yang lalu. Sebagai contohnya kita bisa lihat dari dampak nyata pemanasan global. Pemanasan global ini menyebabkan air menguap, sehingga suhu di bumi mengalami peningkatan," ujar Aditya. Aditya juga menjelaskan jika informasi-informasi terkait iklim dan cuaca akan selalu di perbarui dan diinformasikan melalui setiap kanal media sosial BMKG Kalbar. Tujuannya untuk mempermudah masyarakat. Pada sesi kedua, Dian Rahayu Jati, menjelaskan bagaimana dampak dari panas ekstrem memengaruhi kehidupan masyarakat di Kota Pontianak. Dosen Teknik Lingkungan Untan ini memaparkan bagaimana perubahan iklim mempengaruhi infrastruktur. "Kita bisa lihat sekarang di setiap rumah selalu ada AC, itu menjadi tanda bahwa Pontianak semakin panas. Sebenarnya ada cara lain untuk menanggulangi hal itu. Salah satunya dengan pemilihan bahan bangunan yang sesuai," katanya. Dian juga menjelaskan bagaimana bencana alam seperti banjir terus menerus menghantui Pontianak setiap tahunnya. Semua ini dampak dari cuaca eksterm dan pemanasan global. Di sisi lain, Budi Utomo, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Untan bercerita tentang manfaat partisipasi pemuda lokal terkait pendataan potensi bencana di berbagai kabupaten dan kota. "Dari penelitian yang pernah saya lakukan dengan teman-teman saya, pemuda-pemuda lokal ini, mulai dari anak-anak ini sudah mampu memetakan daerah terdampak bencana. Dari pontensi ini, dapat kita lihat bahwa pemuda lokal dapat membantu kita ataupun pihak pemerintahan dalam pendataan dan pemetaan di wilayah Pontianak dan sekitarnya," ujar Budi. Diskusi ditutup dengan sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan yang menarik perhatian adalah bagaimana penanggulangan dan penghijauan dari daerah tambang. Salah satu peserta, Iwan, berbagi pandangan terkait mengkhawatirkannya daerah bekas pertambangan yang tidak diolah kembali. Dian Rahayu bilang tanah bekas pertambangan masih bisa direboisasi. “Tanah tersebut bisa kita olah, bisa kita hijaukan kembali. Namun, biasanya agak sulit di kepengurusannya. Tahapnya memang agak panjang, namun saya yakin pasti bisa diusahakan.” Kanal wicara kali ini menjadi acara pertama dari rangkaian kegiatan Khatulistiwa Connect Menuju Lintasan-Silangan. Acara ini berlangsung dari tanggal 20-21 September 2025, di Ruangan Tugu Khatulistiwa. Diskusi kali ini tidak hanya berfokus untuk merayakan kulminasi, melainkan juga untuk evaluasi dan refleksi atas isu lingkungan yang kerap kali terabaikan. (*) Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|