Cerita Kota

Siar Zine Khatulistiwa: Dari Tangan ke Tangan Hingga Perkumpulan

14 Juli 2025

381 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | Tanpa kias penerbitan, tanpa aturan, tanpa batasan. Zine adalah ruang bebas bagi pikiran liar dan suara yang kerap tak diberi tempat untuk didengarkan. Ia bisa berupa kumpulan puisi, esai, ilustrasi, foto, keresahan, bahkan amarah yang dirakit sendiri lalu diedarkan.

Pontianak Zine Fest diselenggarakan di Asrama Bona Ventura Jl. Sepakat 2, pada 12-13 Juli 2025 lalu. Sebuah ruang temu bagi pegiat zine dan siapa saja yang ingin mengenal dunia penerbitan alternatif. 

Festival ini menghadirkan pameran zine, lapak kolektif, bincang santai, serta ruang partisipasi terbuka bagi karya-karya dari dalam dan luar kota. Dibuat dengan metode gunting-tempel, diproduksi lewat fotokopi, dan disebarkan. Ia adalah bentuk ekspresi bebas tanpa redaksi, tanpa sensor, dan tanpa standar resmi.

Zine sebenarnya telah hadir di Pontianak sejak tahun 1999, ditandai dengan terbitnya zine berjudul REINKARNASI dalam sebuah acara musik underground. Kala itu, proses kreatif dimulai dari komunikasi dengan jejaring luar pulau, berkirim surat dengan komunitas di luar Kalimantan Barat dan terinspirasi dari praktik penerbitan independen yang mereka temui.

Festival ini adalah hasil dari jalinan para kolektif dan penikmat zine yang terus tumbuh. Baru pertama kali diadakan di Pontianak, setelahnya sebelumnya hanya melapak di acara komunitas, beredar dari tangan ke tangan, atau hadir dalam kegiatan kecil yang tidak diformalkan sebagai sebuah perayaan.

Lahir dari inisiatif beberapa kolektif lokal seperti GituJak Publishing, Orenjilatte, PTK Zine Library Liar PTK, Susur Galur, District 06, WE Handmade, Windowandpaper, dan Enggang Media, yang sebelumnya mereka sudah mengadakan diskusi baik secara langsung di kedai kopi maupun daring. Dari pertemuan-pertemuan kecil inilah gagasan untuk membuat festival zine tumbuh dan kemudian diwujudkan bersama.

“Kalau kamu suka nulis tapi nggak pengen terikat aturan ejaan, struktur, atau sensor, ya zine tempatnya,” jelas Cessa Belita, salah satu panitia Pontianak Zine Fest, memberikan pandangannya secara singkat terkait apa itu zine.

Cessa juga mengatakan mereka membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi siapa pun untuk mengirim karya.

“Kemarin pembukaannya sekitar dua sampai tiga minggu,” ungkap Cessa.

Dan menariknya, karya yang masuk tidak hanya datang dari Pontianak, tetapi juga dari luar daerah, termasuk dari seorang anak kecil yang menulis tangan dan menggambar zine-nya sendiri.

Zine bisa dibuat sendiri, dicetak seadanya, dan dibagikan tanpa harus menunggu momen resmi. Namun kehadiran acara seperti Pontianak Zine Fest menjadi penting, karena ia memberi panggung bagi karya-karya ini untuk dikenal lebih luas, disentuh, dibaca, dan diapresiasi. 

Meski masih asing di telinga banyak orang, zine tetap dipopulerkan bagi mereka yang ingin mengeluarkan suara dan menunggu didengarkan. Ia tumbuh dalam diam, menyebar lewat tangan, dan menolak tenggelam dalam kesunyian. Karena selama masih ada suara yang ingin didengarkan, zine akan selalu jadi tempat untuk mereka menyampaikan. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
 




Top