Lilin-Lilin Ramadan Masyarakat Bugis
Nyala Kecil dari Teluk Pakedai |
118 views |
MENYUSURI BORNEO | Menjelang Ramadan, setiap daerah punya caranya sendiri untuk menyambut bulan suci. Di Teluk Pakedai, tepatnya di kawasan Parit Guru H. Amin, cahaya kecil menyala dari sudut-sudut rumah warga. Bukan lampu hias, bukan pula lampion, melainkan lilin. Bagi masyarakat Bugis di wilayah ini, menyalakan lilin menjelang Ramadan bukan sekadar tradisi. Ia adalah tanda syukur, harapan, sekaligus warisan leluhur yang terus dijaga. Tradisi ini telah hidup sejak masa awal orang Bugis bermigrasi dan menetap di Teluk Pakedai. Dulu, cahaya yang digunakan bukan lilin seperti sekarang, melainkan pelita. Bahkan menurut penuturan warga, pernah pula digunakan lilin lebah sebagai bagian dari ritual menyambut bulan puasa. Namun zaman berubah. Lilin lebah semakin sulit didapat. Warga pun beralih ke lilin putih yang lebih praktis dan mudah ditemukan. Meski bentuknya berbeda, maknanya tetap sama: menerangi rumah dan hati sebelum memasuki Ramadan. Lilin dinyalakan di titik-titik penting dalam rumah: di depan pintu masuk, pintu dapur, dapur, pelimbahan—tempat mencuci peralatan dapur—serta pedareng, tempat menyimpan beras. Namun yang diletakkan bukan hanya lilin. 
Di dalam tempurung kelapa, warga juga menyusun sirih yang telah dilipat dan diisi gambir, pinang, serta kapur. Ada pula rokok daun dari daun nipah. Semua disatukan dalam satu wadah sederhana yang lahir dari alam sekitar. Tempurung kelapa bukan pilihan tanpa alasan. Ia mencerminkan kedekatan masyarakat dengan alam. Alam bukan sekadar latar kehidupan, melainkan bagian dari praktik budaya itu sendiri. Sirih dan rokok daun pun menyimpan pesan. Keduanya menjadi simbol komitmen untuk menahan diri selama Ramadan. Tidak nyirih dan tidak merokok pada siang hari. Aktivitas itu hanya dilakukan ketika lilin dinyalakan, yakni pada malam hari. 
Di sana, pengendalian diri mulai dilatih bahkan sebelum puasa benar-benar tiba. Tradisi ini juga sarat filosofi. Warga memperhatikan lilin mana yang paling lama padam. Dari situlah mereka memaknai arah datangnya rezeki. Jika lilin di depan pintu rumah yang terakhir padam, diyakini rezeki akan datang melalui pintu tersebut. Jika lilin di dapur bertahan paling lama, itu pertanda kelimpahan bahan pangan. Jika di pedareng, artinya hasil ladang dan persediaan beras akan mencukupi. Sementara lilin di pelimbahan yang paling akhir padam ditafsirkan sebagai banyaknya rezeki yang akan dinikmati. Di balik cahaya kecil itu, tersimpan cara masyarakat memaknai hidup: rezeki bukan sekadar materi, tetapi bagian dari harapan yang dirawat bersama. Mewariskan Nilai, Menjaga CahayaMenyalakan lilin bukan ritual yang dikerjakan sendiri. Orang tua biasanya mengajak anak dan cucu untuk ikut serta. Di situlah nilai budaya diwariskan. Anak-anak belajar bahwa Ramadan disambut dengan kegembiraan, bukan sekadar kewajiban. Mereka melihat bagaimana rumah diterangi sebagai simbol kesiapan menyambut bulan suci. Meski tidak termasuk ritual formal dalam ajaran Islam, tradisi ini sejalan dengan nilai agama. Islam mengajarkan umatnya menyambut Ramadan dengan suka cita dan doa agar dipertemukan dengan bulan penuh berkah. Pada masa sebelum listrik menjangkau rumah-rumah warga, pelita tak mampu menerangi seluruh sudut. Maka menyalakan lilin di berbagai titik rumah menjadi simbol “menerangi” setiap ruang kehidupan. Sebuah isyarat bahwa Ramadan datang membawa cahaya. Kini, di tengah modernitas dan lampu listrik yang terang benderang, lilin-lilin itu tetap dinyalakan. Bukan karena gelap, tetapi karena makna. Di Teluk Pakedai, Ramadan tidak hanya disambut dengan doa. Ia disambut dengan cahaya kecil yang menyala pelan—menghangatkan rumah, dan menjaga ingatan akan leluhur. (*) 
Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|