Naratif

Menjaga Warisan Pengrajin Naga

30 Januari 2026

130 views

Kontributor :
Local Creators
@localcreators.id
Kontributor :
Local Creators
@localcreators.id

CERITA KOTA | Di balik megahnya naga yang meliuk saat perayaan budaya Tionghoa, tersimpan kerja panjang dan ketekunan para pengrajin.

Salah satunya adalah Ivan Noprianto (32), pengrajin naga asal Pontianak yang kini meneruskan keahlian keluarga sebagai generasi ketiga pembuat naga tradisional.

Ivan menuturkan, keahlian membuat naga ia pelajari langsung dari sang ayah. Sejak kecil, ia sudah terbiasa melihat proses pembuatan naga, hingga akhirnya mampu mengerjakannya secara mandiri.

“Ilmu ini dari bapak. Turun-temurun. Saya ikut bantu, lihat terus, lama-lama bisa sendiri,” ujar Ivan saat ditemui di rumahnya, Gang Bansir 1, Jalan Imam Bonjol, Pontianak, Kalbar. 

Pada tahun ini, Ivan bersama ayahnya mengerjakan 6 naga besar dan 2 naga kecil. Jumlah tersebut memang lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 11 naga, mengingat keterbatasan tenaga kerja.

“Kami cuma bertiga. Saya, bapak, sama satu orang lagi. Jadi nggak bisa ambil banyak,” jelasnya.

Proses pembuatan naga membutuhkan waktu yang tidak singkat. Untuk satu ekor naga, pengerjaan bisa memakan waktu 1 hingga 2 bulan, tergantung tingkat kerumitan dan ukuran. Bagian yang paling sulit sekaligus paling memakan waktu adalah kepala naga.

“Kepala itu paling susah. Detailnya banyak, dari tanduk, mata, sampai mulut. Kepala saja bisa dikerjakan hampir satu bulan,” ungkapnya.

Berat kepala naga sendiri bisa mencapai 9 hingga 10 kilogram, sehingga membutuhkan ketelitian ekstra agar tetap kuat namun seimbang saat digunakan.

Untuk satu unit naga, biaya pembuatan berkisar Rp40 juta, tergantung ukuran dan detail. Naga terpanjang yang pernah dibuat Ivan dan timnya mencapai 60 meter, yang digunakan oleh sejumlah grup permainan naga.

Ivan mengakui, proses belajar menjadi pengrajin naga tidak instan. Ia membutuhkan waktu sekitar tiga tahun hingga benar-benar menguasai teknik pembuatan naga secara utuh, dari kepala hingga ekor.

Saat ini, pemesanan naga hasil karyanya masih terbatas di Kota Pontianak. Selain keterbatasan tenaga, pesanan dari luar daerah maupun luar negeri belum mampu ia layani.

“Nggak sanggup kalau terlalu banyak. Lebih baik fokus kualitas,” katanya.

Bagi masyarakat Tionghoa, naga bukan sekadar properti pertunjukan. Menurut Ivan, naga memiliki makna simbolis yang kuat.

“Naga itu simbol keberuntungan,” ujarnya singkat.

Di tengah modernisasi dan perubahan zaman, Ivan berharap kerajinan pembuatan naga tetap lestari dan diminati generasi muda, agar warisan budaya ini tidak hilang ditelan waktu.

“Selama masih ada yang mau belajar dan meneruskan, budaya ini pasti tetap hidup,” pungkasnya. (*)




Top