Rumah Senja di Halaman Masjid Raya
Mujahidin dan Euforia Ramadan Warga Kota |
111 views |
CERITA KOTA | Hamparan lapang, beberapa menggelar tikar, menata sajadah dan botol minum, juga bincingan kresek hitam yang bergesekan. Masjid Mujahidin, di gelanggang yang kini dipenuhi pendatang. Orang-orang duduk bersama, berbagi ruang yang hangat. Tawa ringan, percakapan yang bersahutan, kacau suara potongan es batu yang beradu, gesekan plastik gorengan, dan aroma kurma manis, semuanya berpadu menjadi riuh senja yang menenangkan. Di antara keramaian itu, Dini, perantau berusia 25 tahun, duduk di sisi tikar, mengamati sekitar dengan hati yang setengah rindu rumah. Ia datang untuk merasakan secuil kebersamaan yang selama ini sulit ditemukan di perantauan. Setiap senyum yang dilemparkan orang-orang di sekitarnya terasa seperti sapaan yang hangat, dan setiap aroma kurma yang tercium mengingatkannya pada dapur rumah di kampung halaman. Fenomena buka bersama di lapangan Masjid Mujahidin sendiri bermula sejak 15 Ramadan tahun lalu. Awalnya hanya spontan dan hanya di selasar, ketika orang-orang datang sendiri dan duduk berdampingan tanpa diminta. Kini, tradisi itu dirapikan oleh panitia Remaja Mujahidin. Ridho Ramadhan, Ketua Umum, menjelaskan bahwa setiap hari selama satu bulan Ramadan, mereka menyiapkan setidaknya 500 takjil yang dibagikan hingga habis. Sekitar 40 relawan bergerak menyesuaikan jadwal keluarga dan sekolah, memastikan kebersamaan tetap mengalir tanpa terhenti. 
Sore itu, anak-anak bermain ringan di sela tikar, orang dewasa menata makanan, membagi kurma, atau hanya menatap langit senja yang perlahan berwarna jingga. Setiap gerakan seakan menjadi ritme yang menenangkan, menyulam kebersamaan yang lahir spontan namun terasa sempurna. Ketika azan magrib berkumandang, gelanggang berubah senyap seketika. Semua menengadahkan tangan, menyatukan doa, sebelum akhirnya berbuka bersama. Salah satu yang datang, Dini merasakan kehangatan yang jarang ia temui di perantauan, seolah ribuan orang di sekelilingnya menjadi rumah sementara, memberi rasa aman, akrab, dan tenang. Lewat kegiatan buka bersama di Masjid Raya Mujahidin ini, perantau menemukan keluarga sementara, senja menjadi teman, dan Ramadan terasa penuh cerita, tentang kebersamaan, doa, dan sepotong rumah yang bisa ditemukan di tengah keramaian. (*) 
Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|