Celengan Hujan Pelepas Dahaga
24 September 2026 |
65 views |
Kearifan lokal mengajarkan banyak hal. Salah satunya cara bertahan di kemarau panjang. Tujuh tempayan berjejer di samping rumah Yaya di Gang Mendawai Laut, Jalan Imam Bonjol, Pontianak. Sebagian sudah ia tandaskan untuk keperluan rumah sejak hujan berhenti singgah. Sebagian masih jadi napas dahaga sampai kabar baik itu tiba. “Alhamdulillah ya karena nggak perlu ngantri galon berhari-hari, kayak kebanyakan orang di sini,” cerita perempuan 42 tahun tersebut. Awalnya, air yang mengisi tempayan-tempayan itu seluruhnya berasal dari langit. Namun, nikmat itu perlahan menjadi semakin jarang. Ketika air hujan tak lagi cukup, Yaya mulai memanfaatkan air leding. Saat itu, rasanya masih tawar. Belum seperti sekarang. Air tersebut kemudian dicampurkan dengan air hujan dan dibiarkan mengendap sebelum digunakan untuk kebutuhan dapur. Pelan-pelan, kemarau mengubah kebiasaan di rumahnya. Hal-hal sederhana seperti mencuci sayur dan mencuci beras kini membutuhkan perhitungan. Air leding yang sekarang asin masih digunakan untuk mencuci bahan makanan, tetapi setelahnya harus kembali dibilas menggunakan air hujan. Air yang dahulu begitu mudah digunakan, kini harus diperlakukan layaknya emas. Setiap tetes seakan memiliki tempatnya sendiri. Tujuh tempayan yang dahulu terasa cukup pun perlahan kehilangan isinya. Memasuki September, hanya satu yang tersisa. “Sudah beberapa kali hujan bulan ini, tapi belum saya tampung. Airnya masih kotor, warnanya abu-abu karena bekas kabut asap,” ujarnya. Maka satu tempayan terakhir masih dijaga. Digunakan seperlunya, dihemat sebisanya, sembari menunggu hujan yang benar-benar bersih untuk kembali mengisi celengan pelepas dahaga. 
Di rumah lain, kecemasan tumbuh dalam bentuk yang berbeda. Fahmi, warga Parwasal Dalam, Siantan, memiliki lima toren air. Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah terlalu khawatir menghadapi musim kemarau. Ada keyakinan bahwa persediaan tirtanya cukup, atau hujan akan datang sebelum semuanya kering. Namun, tahun ini terasa berbeda. Memasuki penghujung September, persediaan lima toren miliknya mulai menipis. Hampir tiga bulan, air tampungan menjadi pegangan Fahmi dan keluarganya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Tapi tahun ini mulai kepikiran, apalagi sudah mau akhir September,” kata bapak 56 tahun tersebut. Lima toren yang selama ini menjadi cadangan perlahan kehilangan airnya. Yang tersisa bukan lagi rasa aman, melainkan pertanyaan tentang berapa lama kerannya kerontang. Di sisi lain, air leding yang terasa asin membuat keluarga Fahmi semakin bergantung pada air yang mereka simpan. Air leding masih jadi bagian dari keseharian, tetapi tidak selalu bisa digunakan untuk semua kebutuhan dengan nyaman. Akibatnya, penggunaan air tampungan pun menjadi lebih banyak. Kemarau membuat rumah-rumah kembali menghitung. Melakukan hal yang sebelumnya mungkin jarang dipikirkan, sesederhana menakar air sebelum digunakan. (*) 
Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|