Melihat Pesta Tugas Akhir Semester Ala Cerlang
CERITA KOTA | Kenan melangkah mantap ke muka acara. Bahasanya tertata, walau ada gugup-gugupnya. Ia mulai menjelaskan hasil penelitiannya tentang kelapa sawit. Tentang bagaimana wawancara. Tentang apa yang dipelajari dari proses-prosesnya. Pemandangan seperti ini mungkin tidak lazim ditemukan. Namun, bagi siswa Sekolah Alam Terpadu Cerlang, inilah cara belajar yang sesungguhnya. Bertajuk Pesta Karya Cerlang, para murid menunjukkan apa yang mereka pelajari selama enam bulan terakhir, juga membagikan proses panjang di baliknya. Bagi Cerlang, hasil belajar tidak cukup diukur melalui angka atau lembar ujian. Yang lebih penting adalah bagaimana anak menemukan minatnya, berani bertanya, mencoba, gagal, memperbaiki, lalu menceritakan kembali apa yang telah ia pelajari. Karena itulah Pesta Karya Cerlang dipilih sebagai bentuk tugas akhir semester. Di sekolah, mereka diberi ruang untuk menentukan topik yang ingin dipelajari, mencari informasi, melakukan percobaan, hingga menyusun presentasi secara mandiri. Pendekatan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak memiliki rasa ingin tahu yang unik. Ketika pembelajaran dimulai dari ketertarikan mereka sendiri, proses belajar menjadi lebih bermakna dan berkelanjutan. Pesta Karya kemudian menjadi panggung untuk menunjukkan perjalanan itu. Bukan hanya murid usia sekolah dasar yang terlibat. Anak-anak Kelompok Bermain (PG) dan Taman Kanak-kanak (TK) juga memiliki peran penting melalui "Pasar Cerlang", sebuah pasar simulasi yang mereka kelola sendiri. Mulai dari menyiapkan produk, melayani pembeli, hingga berinteraksi dengan pengunjung menjadi bagian dari proses belajar yang mereka jalani. Melalui aktivitas sederhana seperti menjual pancake, bakso pentol, sosis bakar, bubur ayam, dan es krim, anak-anak belajar mengenai tanggung jawab, komunikasi, kerja sama, dan kemandirian. 
Di balik aktivitas yang tampak seperti permainan itu, sesungguhnya terdapat berbagai keterampilan hidup yang sedang dibangun. Bagi murid sekolah dasar, tantangannya berbeda. Mereka mempresentasikan riset mandiri yang telah dikerjakan selama satu semester. Topiknya beragam, mulai dari pembuatan es serut secara kolaboratif, teknik chinese knot, komik digital, hingga eksperimen sederhana yang lahir dari rasa penasaran mereka sendiri. Melalui proses ini, anak belajar merencanakan pekerjaan, mengelola waktu, mencari solusi, dan mempertanggungjawabkan hasil belajarnya di hadapan orang lain. Keterampilan-keterampilan tersebut dikenal sebagai executive functions, kemampuan penting yang membantu seseorang menjadi pembelajar mandiri sepanjang hidupnya. Yang menarik, seluruh rangkaian acara juga dijalankan oleh para murid. Mereka menjadi pembawa acara, moderator, hingga penjaga waktu presentasi. Sementara para fasilitator hanya mendampingi dari belakang layar. Model pembelajaran seperti ini lahir dari prinsip experiential learning, yaitu belajar melalui pengalaman nyata. Anak tidak sekadar menerima informasi, tetapi mengalami langsung situasi yang membuat mereka memahami makna dari apa yang dipelajari. 
Karena itu, Pesta Karya Cerlang bukan sekadar acara penutup semester. Ia adalah bagian dari proses pendidikan itu sendiri. Pengelola Sekolah Alam Terpadu Cerlang, Sri Wartati bercerita, Pesta Karya sebenarnya hanya menampilkan sebagian kecil dari perjalanan belajar anak selama satu semester. “Kalau hanya mempelajari anak dari proses belajar satu semester di sekolah, sebenarnya masih banyak hal yang bisa ditampilkan. Ada banyak capaian dan aktivitas yang sudah mereka lakukan. Namun tentu tidak semuanya bisa kami hadirkan hari ini. Sebagian lagi masih tersimpan dalam perjalanan belajar mereka,” ujarnya. 
Melalui Pesta Karya, Cerlang ingin menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya tentang seberapa banyak anak mampu menghafal materi. Pendidikan adalah tentang membantu anak mengenali dirinya, menemukan minatnya, membangun kepercayaan diri, dan tumbuh menjadi manusia yang siap menghadapi tantangan masa depan. Karena pada akhirnya, yang paling penting bukanlah nilai di akhir semester, melainkan proses panjang yang membentuk seorang anak selama perjalanan belajar itu berlangsung. (*) Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|