Bernapas di Bawah Langit yang Kelabu
4 September 2026 |
68 views |
CERITA KOTA | Kelabu. Jarak pandang tertutup kabut asap telah menemani Kota Khatulistiwa hampir dua bulan lamanya. Langit kehilangan birunya, matahari datang tanpa terang, sementara udara yang semestinya tak terlihat justru meninggalkan jejak di setiap tarikan napas. Kabut itu bukan sekadar warna yang menggantung di langit. Ia membawa partikel-partikel halus dari kebakaran hutan dan lahan yang menyebar di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Pada 4 September 2026, kualitas udara Pontianak bahkan tercatat menjadi yang terburuk di Indonesia berdasarkan pemantauan IQAir. Konsentrasi PM2,5 mencapai 374,5 µg/m³, dengan indeks kualitas udara 598 AQI US—masuk kategori beracun. 
Beberapa hari sebelumnya, kondisi serupa juga telah membuat pemerintah meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Pada 27 Agustus, kualitas udara Pontianak disebut berada pada kategori berbahaya dan kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah diarahkan untuk dilakukan secara daring. Namun, bagi sebagian orang, berpindah ke dalam rumah bukan perkara yang sesederhana menutup pintu. Ada pekerjaan yang tetap menunggu. Ada kewajiban yang tak ikut menguap bersama kabut. Lula Dasilva adalah salah satunya. Ia merupakan mahasiswa yang sedang menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di salah satu sekolah negeri di Pontianak. Ketika surat edaran pembelajaran daring diberlakukan, para siswa diarahkan untuk belajar dari rumah. Namun, bagi guru dan mahasiswa PPL, sekolah masih menjadi tempat yang harus didatangi. Kelas memang berpindah ke layar. Namun, tubuh tetap harus hadir di ruang kelas. Dari sekolah, kegiatan belajar mengajar dilakukan melalui Zoom. Guru mengajar dari depan komputer, mahasiswa PPL tetap menjalankan tugasnya, sementara para siswa mengikuti pelajaran dari rumah masing-masing. Bagi Lula, keadaan itu bukan sesuatu yang ia persoalkan. Bagaimanapun, mendidik adalah tanggung jawab mereka. Yang membuatnya berat adalah perjalanan menuju tempat yang bahkan seharusnya menjadi ruang aman: sekolah. “Begitu ada edaran belajar daring, semua siswa diarahkan belajar dari rumah. Tetapi para guru dan kami tetap datang ke sekolah seperti biasa. Kami melakukan kegiatan belajar mengajar dari sekolah melalui Zoom meeting.” Ia tidak keberatan harus tetap datang. Yang disayangkan adalah para guru dan rekan-rekannya masih harus berangkat ketika udara di luar sedang tidak bersahabat. Kabut asap yang tebal menjadi teman sepanjang perjalanan. Ketika sampai di sekolah, rupanya asap belum selesai mengikuti. “Rekan dan para guru yang tetap harus berangkat ke sekolah melawan kabut asap yang tebal. Bahkan kabut asap sudah masuk ke dalam ruangan.” Di balik layar Zoom, pelajaran mungkin tetap berlangsung seperti biasa. Ada materi yang disampaikan, pertanyaan yang dijawab, dan tugas yang diberikan. Namun, di luar bingkai layar, ada udara yang tak lagi biasa. Udara yang masuk bersama setiap tarikan napas. 
Cerita serupa datang dari Vidya, seorang pekerja kreatif yang hari-harinya tak menetap di satu tempat. Pekerjaannya mengharuskannya bolak-balik, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain untuk mengambil konten. Ketika pekerjaan mengharuskan keluar, ia tak punya banyak pilihan selain tetap berjalan di antara jalan-jalan yang diselimuti asap. Kamera terus dibawa. Pekerjaan tetap harus selesai. Namun, tubuh ikut membayar harganya. Beberapa kali Vidya mengalami sakit tenggorokan, pilek, mata merah, hingga gangguan pernapasan. Keluhan-keluhan itu datang seperti pengingat bahwa udara yang sedang dihirup bukan udara yang semestinya. Pemerintah Kota Pontianak sendiri telah mengimbau masyarakat menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Pada 24 Agustus, pemantauan AQMS Pontianak Tenggara mencatat ISPU sebesar 193 atau kategori tidak sehat, dengan PM2,5 sebagai parameter kritis. Pemerintah juga mengingatkan warga untuk mewaspadai keluhan seperti batuk, sesak napas, mata perih, dan sakit tenggorokan. Namun, hidup tak selalu memberi ruang untuk berhenti. Guru tetap datang karena ada kelas yang harus dijalankan. Pekerja kreatif tetap keluar karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. 
Kota tetap bergerak, meski langit seakan memintanya untuk diam. Mungkin itu yang paling ganjil dari kabut asap: ia tidak menghentikan kehidupan. Ia hanya membuat kehidupan berlangsung dengan napas yang lebih berat. Seolah-olah menghirup udara bersih adalah kemewahan yang harus ditunggu. Sementara untuk hari ini, tak banyak yang dapat mereka pilih, selain dari bernapas apa adanya sembari menanti paket hujan pelebur langit kelabu. Cepat sembuh, Kota Pontianak. Lekas pulih, Kalimantan. (*)
|