Cerita Kota

Kepedulian Lintas Negara, Kisah Nathan dari Kota Khatulistiwa

14 Mei 2026

67 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA - Para pekerja pendatang dari tanah air yang bergiat di negeri orang, Pekerja Migran Indonesia (PMI) sering kali sebutannya, menjalani hidup di antara rindu yang dipendam diam-diam dan tanggung jawab yang tak pernah selesai. Mereka meninggalkan rumah, keluarga, bahkan kampung halaman demi satu harapan sederhana yaitu kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang yang menanti di rumah nan jauh di sana.

Kisah-kisah itu rupanya tidak luput dari perhatian seorang remaja asal Pontianak, Kalimantan Barat, bernama Nathan Alexandro Tjhe. Pada usia 17 tahun, Nathan yang kini menempuh pendidikan di ACS (International) Singapore memilih berjalan lebih dekat dengan hakikat nyata yang sering kali tersembunyi di balik gedung-gedung tinggi dan kehidupan terbarukan di Singapura. 

Sejak pindah pada 2022, ia tidak hanya belajar tentang akademik dan kehidupan baru di negeri orang, tetapi juga menyaksikan langsung perjuangan para pekerja migran Indonesia.

“Mereka bekerja jauh dari keluarga, tetap berjuang, dan mengirimkan penghasilan untuk keluarga di Indonesia,” ujarnya.

Keresehan yang melahirkan Peduli Initiative, sebuah gerakan sosial yang dibangun untuk memberi dan menghadirkan rasa bahwa mereka tidak sendiri. Melalui program tersebut, Nathan bersama tim menjalankan berbagai kegiatan sosial bagi PMI di Singapura. Bantuan kebutuhan pokok, kegiatan komunitas, hingga lokakarya sederhana menjadi bagian dari upaya mereka membangun ruang kebersamaan di tengah kehidupan para pekerja migran yang penuh tekanan.

Menariknya, keberlangsungan program ini dibangun dari hal-hal kecil yang dikumpulkan dengan konsisten. Peduli Initiative menggalang dana melalui penjualan barang bekas layak pakai di berbagai serambi digital serta dukungan CSR dari berbagai pihak.

Namun perjalanan mereka tidak berhenti di Singapura. Sedikit demi sedikit, gerakan itu menjalar pulang ke Indonesia. Di Pontianak dan Kubu Raya, Peduli Initiative mulai rutin mengunjungi panti asuhan dan panti jompo. 

Sementara ketika banjir melanda Aceh, mereka ikut bergerak menggalang donasi dan menyalurkan bantuan tanggap darurat bersama 473 Kopasgat TNI AU Indonesia.

Hibah Internasional

Bagi Nathan, kepedulian tidak mengenal batas wilayah. Langkah kecil yang dimulai dari keresahan seorang pelajar itu kemudian membawa Peduli Initiative menuju pengakuan internasional. Program tersebut berhasil menerima hibah dari International Baccalaureate Global Youth Action Fund senilai US$2.500 atau sekitar Rp43 juta.

Tahun ini, program hibah tersebut memilih sekitar 110 proyek yang dipimpin anak muda dari lebih 1.100 pendaftar di lebih dari 40 negara. Peduli Initiative menjadi salah satu dari tiga proyek asal Singapura yang berhasil menerima hibah tersebut, sekaligus menjadikan Nathan sebagai pelajar pertama asal Kalimantan Barat yang menerima pendanaan itu.

Sebelum lolos seleksi internasional, proyek tersebut terlebih dahulu dinominasikan oleh pihak sekolah sebagai perwakilan proyek sosial. Tidak hanya itu, Nathan juga terpilih sebagai salah satu dari 60 Pemimpin Muda Terbaik oleh Ministry of Culture, Community and Youth Singapura dalam rangka perayaan SG60.

Di balik pencapaian itu, Nathan mengaku tantangan terbesar justru datang dari kehidupan sehari-hari. Membagi waktu antara sekolah, organisasi, dan proyek sosial bukan hal mudah bagi seorang remaja.

“Tetapi pengalaman ini mengajarkan saya tentang teamwork, komunikasi, dan konsistensi,” katanya.

Dalam perjalanannya, Peduli Initiative turut mendapat dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura dan Perhimpunan Pelajar Indonesia NTU (atau sering disingkat PINTU), mulai dari arahan, publikasi, hingga membuka akses kepada komunitas pekerja migran Indonesia di Singapura.

Kini, Nathan dan tim mulai mempersiapkan regenerasi kepemimpinan untuk periode 2026–2027 agar gerakan tersebut dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan.

Di usianya yang masih 17 tahun, Nathan menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari langkah besar. Kadang, ia tumbuh dari keberanian untuk peduli pada cerita-cerita kecil yang sering terabaikan. Dan dari seorang remaja Pontianak di negeri orang, kepedulian itu kini berjalan melintasi batas negara. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top