Cerita Kota

Menjaga Riak Cerita dari Kampung Caping

8 Agustus 2026

57 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | Menggaungkan semangat “Riak Bertutur”, Yusuf Alfariziy atau hangat dipanggil Alfa, memilih bercerita dari sesuatu yang tumbuh dekat dengan kesehariannya. Di antara daun mengkuang, jemari yang belajar menganyam, dan caping yang perlahan menemukan bentuknya, ia menemukan sebuah cerita tentang budaya yang tak sekadar dikenakan, tetapi juga patut dikenang.

Cerita itu kemudian ia tuangkan dalam cerpen berjudul Belajar Membuat Caping. Karya tersebut membawa Alfa menjadi pemenang cerpen terbaik dalam rangkaian program Krida Kapuas Karya yang menjadi bagian dari Festival Literasi Kapuas di Rumah Budaya Kampung Caping, Pontianak, Sabtu (8/8).

Dalam cerpennya, Alfa menghadirkan kisah Raka, Siti, Ahmat, dan Nenek Fatimah. Mereka belajar mengenal caping sekaligus menyelami proses pembuatannya di Kampung Caping Mendawai. Sebuah kegiatan yang sekilas sederhana, tetapi perlahan membuka pintu bagi Alfa untuk mengenal lebih dekat budaya yang hidup di sekelilingnya.

“Dari kegiatan ini saya jadi tahu kalau caping dibuat dari daun mengkuang dan ternyata membuat caping itu tidak mudah. Kita harus sabar dan hati-hati,” tulis Alfa dalam cerpennya.

Baginya, caping bukan lagi sekadar benda yang digunakan untuk melindungi kepala. Ada pengetahuan, ketekunan, dan warisan budaya yang melekat di dalam proses pembuatannya.

“Saya juga belajar bahwa caping bukan hanya untuk dipakai, tetapi juga budaya yang harus kita jaga,” lanjutnya.

Cerita itu lahir dari proses panjang. Selama pendampingan, Alfa bersama peserta lainnya tidak langsung diminta menulis sebuah cerita. Mereka terlebih dahulu diajak mencari gagasan dari lingkungan terdekat, menyusun peta pikiran, mengembangkan ide, hingga menemukan alur yang kemudian mereka tuliskan dengan bahasa sendiri.

Pendamping kegiatan, Chandra Kurniawan, mengatakan proses tersebut berlangsung selama 10 minggu. Setiap peserta diberi ruang untuk menentukan sendiri cerita yang ingin mereka bawa.

“Dari awalnya itu menentukan tema, pakai peta pikiran, terus kita eksplorasi untuk bikin kerangka cerita. Dari kerangka cerita itu kita kembangkan dari alur-alur plotnya,” ujar Chandra.

Menurut Chandra, pendampingan bukan untuk menggantikan gagasan anak-anak, melainkan membantu mereka menemukan bentuk terbaik dari cerita yang sudah ada dalam kepala mereka.

“Semua plot cerita sebenarnya dari mereka,” katanya.

Dari situlah cerita tentang caping milik Alfa tumbuh. Ia mengangkat proses pembuatan caping, termasuk bagaimana daun mengkuang diolah dan disalai hingga menjadi lebih lentur, berwarna kecokelatan, dan mudah dibentuk. Pengalaman yang ditemuinya selama kegiatan kemudian berubah menjadi rangkaian peristiwa dalam cerita.

Menulis pun perlahan menjadi ruang baru bagi Alfa untuk melihat kembali lingkungan di sekitarnya. Hal yang sebelumnya mungkin tampak biasa, berubah menjadi sesuatu yang memiliki cerita ketika ia mencoba menuliskannya.

“Awalnya saya merasa menulis itu sulit. Tapi setelah dibimbing Bang Candra, saya jadi lebih percaya diri dan ternyata menulis itu menyenangkan,” celetuknya.

Festival Literasi Kapuas yang berlangsung pada 7–9 Agustus 2026 mengusung tema “Riak Bertutur”. Melalui program Krida Kapuas Karya, anak-anak di kawasan pesisir Sungai Kapuas diajak menjadikan lingkungan dan pengalaman sehari-hari sebagai sumber cerita.

Dari sana, cerita-cerita kecil dikumpulkan menjadi Antologi Pesisir. Cerita Alfa tentang caping menjadi salah satu riak yang ikut mengalir di dalamnya, merekam sepotong kehidupan Kampung Caping dari mata seorang anak yang belajar mengenal budaya melalui kata.

“Semoga cerita saya bisa membuat teman-teman lebih mengenal Kampung Caping Mendawai dan semakin mencintai budaya daerah kita,” tutur Alfa. (*)




Top