Cerita Kota

Merangkai Bunyi dari Sekitar: Eksperimen Musik di HNNOH Lab

14 April 2026

70 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | Balaan Tumaan kembali menghidupkan ruang temu bernama HNNOH Lab, di dalamnya, para seniman, terutama perakit instrumen dan musisi, dipertemukan untuk menyelami hubungan irama nada dengan alam semesta dari lanskap manusia, hingga riak dinamika politik dunia.

Dalam perjalanannya, Balaan Tumaan beriringan dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN), dari Kementerian Kebudayaan untuk menumbuhkan dan menjaring talenta muda, khususnya dari Kalimantan Barat. Kolaborasi ini menjadi jembatan bagi lahirnya gagasan-gagasan baru yang berakar dari lokalitas, namun bergaung melampaui batas.

Nur Salim Yadi, perwakilan Balaan Tumaan, mengungkapkan bahwa setiap instrumen memuat cerita, sebuah narasi yang terjalin dari cara ia diciptakan hingga bagaimana ia dimainkan. Instrumen hadir sebagai medium sosial, ia mengarahkan, memandu, sekaligus menyatukan para musisinya menuju harmoni yang sarat makna. Dari sana, instrumen menjelma menjadi bahasa dan alat untuk berbincang, bertukar pandangan, bahkan merajut kesepahaman.

Dalam suasana yang cair, bahkan dari aktivitas sederhana seperti nongkrong, proses musikal menemukan bentuknya. Ragam musik dari berbagai daerah bertemu, berbaur, lalu melahirkan keberagaman yang terasa utuh.

HNNOH Lab sendiri menjadi ruang eksplorasi bagi musik eksperimental melalui penciptaan instrumen-instrumen baru. Para pembuat instrumen dari dalam dan luar negeri dikumpulkan untuk saling berbagi perspektif, menantang batas-batas bunyi, dan merumuskan kemungkinan-kemungkinan segar.

Salah satu narasumber, Passepartout Duo—yang sejak 2015 menjelajah berbagai belahan dunia—membawa pendekatan yang berpijak pada alam. Pianis Nicolette Favari dan perkusionis Christopher Salvito merangkai bunyi dari apa yang mereka temui, seperti material, ruang, dan kebudayaan setempat. Mereka menyelami cara masyarakat memaknai suara, lalu menerjemahkannya menjadi instrumen yang hidup.

Salah satu instrumen yang mereka kembangkan adalah Liminaphone, yaitu alat musik elektronik yang dirancang untuk terhubung dengan penyintesis (sebuah perangkat kibor yang memproduksi suara dalam bentuk sinyal atau gelombang suara yang mengirimkannya kepada pembangkit suara). Liminaphone bekerja dengan menggunakan lima mikrofon kontak yang menangkap getaran, lalu mengubahnya menjadi sinyal untuk mengatur suara pada penyintesis. 

Alat ini juga dilengkapi dengan kenop yang dapat digunakan untuk mengatur nada dan parameter suara. Dengan cara ini, bunyi-bunyi sederhana di sekitar dapat diolah menjadi musik elektronik. Liminaphone dibuat dari kombinasi bahan seperti kayu, komponen elektronik, akrilik, dan wol, serta dikembangkan saat residensi di Shanghai dengan dukungan sebuah perusahaan. Melalui pendekatan ini, mereka menunjukkan bahwa musik dapat lahir dari apa saja di sekitar kita dan akan terus berkembang seiring waktu.

Bagi mereka, kebaruan selalu lahir dari keberanian mendengar. Perkusi, dengan sifatnya yang dekat dan intuitif, menjadi salah satu bentuk paling awal sekaligus paling terbuka untuk diciptakan kembali. Sejak masa leluhur, instrumen telah hadir di sekitar manusia, dari benda-benda sederhana hingga wujud yang kini disebut modern. Proses itu adalah perjalanan panjang, dari tradisi menuju inovasi.  (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top