Cerita Kota

Pontianak Biennale Jadikan Kapuas Metamorfosis Percakapan dan Ruang Temu

23 September 2026

68 views

Kontributor :
Local Creators
@localcreators.id
Kontributor :
Local Creators
@localcreators.id

Membaca Kota Melalui Alirannya

CERITA KOTA | Di balik ketenangan alirannya, Sungai Kapuas menyimpan memori, benturan ekologi, dan jalinan kisah hulu-hilir yang tak pernah usai. Berangkat dari kesadaran tersebut, Pontianak Biennale 2026 hadir bukan sekadar sebagai pameran visual, melainkan sebuah laboratorium gagasan.

Resmi dibuka mulai Jumat, 25 September hingga 25 Oktober 2026, perhelatan dua tahunan ini mengundang para seniman dan warga untuk merajut ulang narasi Kota Pontianak melalui tema besar “Arus Pertemuan dan Gelombang”.

Kehangatan pergerakan ini telah berpendar sejak agenda Mukadimah dan Taklimat Media di Port 99, Rabu (23/9). Dalam suasana kasual, para perupa, penyelenggara, dan warga duduk melingkar—melepaskan sekat formalitas untuk membicarakan kota. Sungai Kapuas terus hadir sebagai benang merah, tidak lagi dipandang sebagai latar visual yang pasif, melainkan episentrum wacana, ingatan kolektif, dan gerak hidup masyarakatnya.

Panitia Pontianak Biennale 2026, Gusti Enda, menegaskan bahwa sungai adalah pintu masuk (entry point) untuk membedah persoalan yang lebih mendasar. Karya-karya yang dihadirkan tidak secara harfiah melukiskan air atau tepian, melainkan merespons dinamika sosial, praktik budaya, hingga lanskap ekologi yang terhubung oleh nadir sungai.

Gagasan ini bahkan dirancang untuk berumur panjang. Kapuas diproyeksikan tetap menjadi kerangka refleksi utama hingga lima edisi ke depan—sebuah komitmen sepuluh tahun untuk terus membaca dan merawat ingatan kota.

Pilihan tema “Arus, Pertemuan, dan Gelombang” membawa kedalaman filosofis atas proses kreatif yang berlangsung. Arus, memaknai metabolisme kerja para seniman—bagaimana gagasan bergerak, berproses, dan mengalir secara alami. Pertemuan, ruang silang pengetahuan (cross-disciplinary) yang melintasi batas geografis, merubuhkan dinding antara hulu dan hilir, lokal dan global. Gelombang, resonansi atau dampak nyata yang tercipta dari kerja kolektif tersebut bagi ruang publik dan warganya.

Hal yang membuat Pontianak Biennale 2026 kian menarik adalah fondasinya yang berakar pada semangat kemandirian. Mengusung skema swakelola dan urun dana (crowdfunding), perhelatan ini digerakkan oleh kolaborasi 14 organisasi dan individu. Bahkan, semangat kebersamaan ini memantik keterlibatan seniman mancanegara yang hadir secara mandiri.

Sebanyak 38 seniman dan kolektif dipastikan mengambil bagian. Terdiri dari 22 seniman lokal (Pontianak dan wilayah Kalimantan), 4 seniman nasional, serta 12 seniman internasional yang datang dari Malaysia, Singapura, Hong Kong, Inggris, India, Belanda, Kroasia, San Marino, Jepang, Vietnam, hingga Thailand.

Selama 30 hari ke depan, beberapa titik komunal di Kota Pontianak akan menjadi kanvas terbuka. Publik tidak hanya diajak menjadi penonton, melainkan pelaku melalui serangkaian program interaktif: pameran seni, residensi, lokakarya, diskusi, konferensi, hingga program berbasis komunitas yang tersebar di pelbagai titik kota.

Jika Mukadimah di Port 99 adalah percikan awal, maka mulai Jumat ini, alurnya resmi mengalir ke ruang-ruang publik. Pontianak Biennale 2026 memanggil siapa saja untuk singgah, mendengarkan, dan menjadi bagian dari gelombang perubahan itu sendiri. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top