Refleksi Perpisahan dalam Karya Terbaru Simple Children
CERITA KOTA | Ada masa di mana merelakan bukan berarti menyerah, melainkan bentuk tertinggi dari sebuah penerimaan. Narasi emosional itulah yang ditiupkan oleh unit musik asal Pontianak, Simple Children, lewat rilisan karya terbaru mereka yang bertajuk "Seakan Kita Tak Pernah Ada". Lagu ini tak sekadar menjadi babak baru dari eksplorasi musikalitas mereka, melainkan juga sebuah jembatan menuju jilid utuh: sebuah album penuh yang saat ini sedang dalam tahap pengerjaan intensif. Terbentuk pada tahun 2016, Simple Children yang digawangi oleh Cancan, Jerry, dan Dodz terus mengukuhkan pijakan mereka di kancah musik Kalimantan Barat. Selama bertahun-tahun, mereka konsisten merajut karya yang mengangkat kisah-kisah yang dekat dengan realita kehidupan—tentang patah, tumbuh, dan segala dinamika di antaranya. Konsistensi ini menegaskan karakter Simple Children sebagai perajin nada yang pandai memotret momen-momen personal, lalu mengemasnya menjadi cerita yang beresonansi bagi siapapun yang mendengarnya. 
Lahir dari buah pikir Rian Guntoro selaku pencipta lagu, "Seakan Kita Tak Pernah Ada" menyelami sudut tergelap sekaligus paling manusiawi dalam sebuah perpisahan: sebuah titik di mana bertahan bukan lagi menjadi pilihan yang bijak. Lewat barisan lirik yang emosional, lagu ini tidak hanya mengeja rasa sakit, tetapi juga menyuarakan proses pendewasaan diri. Pendengar diajak untuk menengok kembali masa lalu—mengenang seseorang yang pernah menjadi pusat semesta—tanpa harus terjebak dalam prasangka atau dendam. “Ada keberanian besar dalam merelakan. Lagu ini menjadi cermin bahwa pada akhirnya, kedua belah pihak harus menerima kenyataan dan melanjutkan hidup masing-masing, membiarkan ikatan yang pernah ada menguap perlahan—seolah-olah tak pernah ada sebelumnya.”
Karya terbaru dari Simple Children ini kini sudah dapat dinikmati di berbagai platform musik digital, menjadi penanda manis sekaligus pembuka jalan bagi album penuh yang layak dinantikan dari belantika musik Khatulistiwa. (*) Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|