Cerita Kota

Suara Sape' Ting Dua' dalam Harmoni Bumi Enggang Gading

16 April 2026

95 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | Malam itu, panggung di Pontianak seakan menjadi muara bagi banyak suara yang datang dari hulu-hulu jauh. Pertunjukan ini sukses digelar di Pontianak pada Kamis, 16 April 2026.

Dalam tajuk Harmoni Bumi Enggang Gading: Residensi Musik Tradisi Kalimantan Barat, denting dan petikan mengalir seperti cerita yang telah lama berjalan, berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di antara para penampil, hadir Alia, membawa pulang kampung halamannya ke atas panggung.

Di tangannya, Sape' Ting Dua' berbicara dengan cara yang tenang. Dua senar yang direntangkan itu menyimpan gema dari Mendalam, Kapuas Hulu, tempat di mana alat musik ini tumbuh bersama hutan, sungai, dan kehidupan yang mengalir tanpa tergesa.

Setiap petikan terasa seperti jejak langkah, ringan namun dalam, mengendap perlahan di telinga yang mendengarkan.

Alia menyanyikan Saloi, sebuah syair yang hidup dari keseharian. Ia berkisah tentang hal-hal yang dekat juga tentang hari-hari yang dijalani, tentang perasaan yang disimpan atau dibagikan. Dalam tradisi itu, syair dapat berbalas, disahut oleh suara lain, seperti percakapan yang tak pernah benar-benar selesai.

Ada bagian pembuka, ada penutup, dan di antaranya terbentang kemungkinan yang luas. Malam itu, ia memilih membuka cerita dan membiarkan sisanya tinggal sebagai ruang yang bisa dibayangkan.

Bagi Alia, musik telah menjadi teman sejak usia yang masih belia. Sejak kelas lima sekolah dasar, ia telah akrab dengan bunyi dan makna yang dibawanya. Waktu berjalan, dan yang ia pelajari tak sekadar teknik, melainkan cara merawat ingatan. Sebab dalam setiap syair dan petikan, tersimpan cara pandang terhadap hidup, tentang bagaimana seseorang memaknai hari-harinya.

Pertemuan para musisi dalam residensi ini memperlihatkan bagaimana setiap daerah membawa napasnya sendiri. Dari Kapuas Hulu, Sanggau, Sekadau, hingga wilayah lainnya di Kalimantan Barat, mereka hadir dengan suara yang berbeda, namun saling menyapa dalam satu ruang. Di sana, musik menjadi bahasa yang tak memerlukan terjemahan.

Dari Mendalam, melalui dua senar sederhana, sebuah cerita telah menempuh perjalanan panjang, lalu menemukan tempatnya di hati yang bersedia mendengar.

Konser Ceramah “Harmoni Bumi Enggang Gading: Residensi Musik Tradisi Kalimantan Barat” merupakan bagian dari pemenuhan substansi pada program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif tahun 2025, yang diterima oleh Peri Rakhmadi, seorang Budayawan, Musikolog, Kalimantan Barat. Peri merupakan lulusan S2 (Magister) di Université de Poitiers dan Université de Tours, Prancis. Aktif sebagai seniman, budayawan, dan peneliti khususnya pada ranah budaya melayu Kalimantan Barat. Karya-karyanya pernah ditampilkan di tingkat nasional, maupun internasional. Sebagai seorang multi-instrumentalis, Peri memainkan berbagai instrumen yang membawanya ke beberapa event Internasional di berbagai negara seperti, Ukraina (2013), Iran (2013), Prancis (2014, 2017-2019), Belanda (2014), Jerman (2014), Malaysia (2014), Brunei (2014) dan berbagai kota yang ada di Indonesia. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top