
Alamat :Jl. W.R. Supratman No. 32, Pontianak
Ingatan Rumah di Meja Senscape Ada rasa yang tidak lahir dari resep. Ia datang dari ingatan. Dari kepul asap dapur. Dari suara adu sendok dan garpu. Dari aroma sayur asam yang naik bersama uap panas, ikan asin peda yang baru turun dari penggorengan, dan telur dadar sederhana tapi selalu cukup untuk membuat seseorang merasa pulang. Ingatan itu tidak dibiarkan tinggal sebagai masa lalu. Ia dibawa ke meja makan. Dirapikan. Diberi ruang. Lalu disajikan kembali dalam suasana yang lebih modern, lebih tenang, lebih berkelas, tetapi tetap dengan rasa yang akrab; masakan rumah. Setelah sekian waktu dikenal sebagai tempat yang menghadirkan berbagai pilihan cita rasa, dari western, asian hingga fusion, Senscape ingin kembali ke akar. Sebuah upaya mengekalkan kekayaan kuliner Indonesia, agar tak sekadar jadi pelengkap. Ada rempah. Ada tradisi. Ada cerita. Ada identitas. Ada rasa yang tumbuh dari dapur keluarga, dari meja makan sederhana, dari masakan ibu yang mungkin tidak pernah ditulis resepnya, tetapi selalu diingat takarannya oleh lidah. Bagi Senscape, kemewahan bukan sesuatu yang berlebihan. Ia tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang asing, mahal, atau jauh dari keseharian. Kemewahan bisa berarti perhatian pada detail. Bahan baku yang dipilih dengan serius. Rasa yang dijaga konsisten. Presentasi yang rapi. Pelayanan yang hangat. Dan pengalaman makan yang membuat seseorang ingin kembali. 
Di titik itulah Senscape mencoba membaca ulang makna mewah. Bahwa semangkuk sayur asam, ikan asin peda, atau telur dadar juga bisa punya tempat di ruang makan yang elegan. Bahwa makanan rumahan tidak harus kehilangan martabatnya ketika masuk ke restoran. Bahwa masakan Nusantara, bila disajikan dengan hormat, punya nilai yang sama berharganya dengan hidangan terbaik dari mana pun. Niat itu tergambar, dari daftar menu yang lebih mirip deretan percakapan lama tentang masakan ibu. Yang walau hadir di ruang modern, bahkan sedikit internasional, ia tidak membuat pengunjung merasa asing. Sebab bagi sang chef, makanan Nusantara terlalu kaya untuk hanya dikenang di rumah masing-masing. Di saat banyak tempat berlomba mengangkat menu modern, western, dan serba luar, ia memilih menoleh kembali ke dapur sendiri. “Kami memang ingin mengangkat menu-menu Nusantara, dari Sabang sampai Merauke,” ujar Chef Senscape, May Hermansyah. 
Namun tidak semua rasa dibawa begitu saja. Ada proses memilih. Mempertimbangkan lidah Pontianak. Ada upaya membaca, mana menu yang punya cerita, tetapi tetap bisa diterima oleh warga kota. Dari pilihan itu, lahirlah menu-menu yang membawa perjalanan. Ada Ayam Songkem dari Madura. Bukan ayam bumbu hitam yang lebih dulu dikenal banyak orang, melainkan ayam yang dibungkus daun pisang, dikukus bersama rempah dan cabai. Rasanya pedas gurih, dekat dengan lidah Pontianak yang akrab dengan cabai dan rasa yang tegas. Ada pula Ayam Tangkap dari Aceh. Ayam goreng yang hadir bersama daun pandan dan daun kari. Aromanya membawa jejak daerah asal, tanpa perlu ganti nama, tanpa perlu dicabut dari akarnya. “Saya tidak berani ubah-ubah nama. Ayam Tangkap memang dari Aceh. Ayam Songkem memang dari sana,” katanya. Di situlah Senscape mengambil posisi. Tidak sekadar menjual makanan, tetapi menjaga asal-usul rasa. Setiap nama menu dibiarkan membawa daerahnya. Setiap rempah diberi ruang untuk bercerita. Setiap hidangan tidak hanya ditata agar menarik, tetapi juga dikenalkan sebagai bagian dari kekayaan dapur Nusantara. 
Namun dari semua perjalanan rasa itu, menu rumahan tetap punya tempat istimewa. Senscape ingin makanan-makanan serupa tetap bisa ditemukan, bahkan oleh mereka yang tidak sempat memasak di rumah. Maka Senscape menjadi semacam jembatan. Antara restoran dan dapur ibu. Antara ruang makan modern dan ingatan masa kecil. Antara suasana yang terasa berkelas dan menu yang tetap membumi. Di sana, pengunjung bisa datang bukan hanya untuk mencari sesuatu yang baru, tetapi juga untuk menemukan kembali sesuatu yang pernah sangat dekat. Konsep ini juga membawa Senscape pada bentuk baru yang lebih ramah. Tidak hanya dari rasa, tetapi juga cara orang menikmatinya. Menu-menu Nusantara dihadirkan dengan harga yang lebih terjangkau dan kompetitif, agar kesan mewah tidak berubah menjadi jarak. Senscape tidak ingin membuat orang berhenti di depan pintu hanya karena membayangkan harga. Ia ingin menjadi ruang makan yang tetap nyaman, tetap rapi, tetap berkelas, tetapi tidak membuat pengunjung merasa harus menjadi orang lain untuk bisa masuk dan duduk. Sebab masakan Nusantara tidak kekurangan cerita. Yang sering kali kurang, hanyalah panggung dunia. Karena pada akhirnya, makanan selalu punya cara sendiri untuk membuat orang merasa terhubung, bahkan untuk hangatnya pelukan ibu. (*)
|