Batu Belimbing, Keheningan yang Tersisa di Lereng Singkawang
14 Februari 2026 |
100 views |
CERITA SINGKAWANG | Jalan menuju kawasan Nyarumkop perlahan meninggalkan wajah kota Singkawang, Kalimantan Barat yang riuh. Aspal yang berkelok membawa pengunjung masuk ke lanskap yang semakin hijau. Pepohonan merapat, udara berubah lebih dingin, dan suara mesin kendaraan digantikan desir angin yang turun dari lereng Gunung Poteng. Di tengah suasana itulah berdiri sebuah batu raksasa dengan bentuk tak lazim. Permukaannya berlekuk-lekuk, menyerupai irisan buah belimbing. Warga setempat kemudian menyebutnya Batu Belimbing—nama yang sederhana untuk rupa alam yang sulit diabaikan. Destinasi ini memang tidak sepopuler festival Cap Go Meh atau deretan pantai di kota Singkawang tersebut. Namun, justru karena jauh dari keramaian, Batu Belimbing menawarkan pengalaman yang berbeda: ruang sunyi yang terasa apa adanya. Formasi Alam yang Mengundang Rasa Ingin Tahu Batu itu bukan sekadar bongkahan besar. Sudut-sudut alaminya membentuk garis tegas seperti potongan buah, menjadikannya tampak mencolok di tengah hamparan hijau. Dari kejauhan, batu tersebut terlihat seolah muncul sendiri dari tanah, berdiri sebagai pusat lanskap. Sebagian warga lama menyebutnya Batu Pulau atau Batu Bergantung. Ada pula cerita turun-temurun yang mengaitkannya dengan benda langit yang jatuh ke bumi. Kisah-kisah itu hidup sebagai legenda lokal, menjadi bagian dari cara masyarakat memaknai bentang alam di sekitarnya. Dekat dari Kota, Jauh dari Keramaian Lokasinya hanya sekitar 20 menit perjalanan dari pusat kota. Akses jalan relatif mudah dijangkau kendaraan, tetapi atmosfer yang ditemui terasa kontras—lebih sunyi, lebih lambat, dan jauh dari kesan destinasi wisata massal. Dora Selvia (31), warga Pontianak yang berkunjung, mengaku datang tanpa ekspektasi khusus. Ia justru menemukan pengalaman yang tidak direncanakan. “Awalnya hanya ikut teman yang bilang ada tempat unik. Saya kira biasa saja, ternyata suasananya sangat tenang. Rasanya seperti keluar dari rutinitas,” ujarnya, Jumat (13/2/2026). Kesederhanaan yang Menjadi Daya Tarik Tidak ada wahana modern atau bangunan mencolok di kawasan ini. Pengunjung umumnya datang untuk berjalan santai, berfoto, atau sekadar duduk menikmati udara pegunungan. Menurut Dora, justru ketiadaan fasilitas berlebihan menjadi kekuatan tempat ini. “Sekarang banyak tempat wisata dibuat ramai dengan spot buatan. Di sini kita bisa benar-benar melihat alam. Anak-anak juga bisa bergerak bebas,” katanya. Batu Belimbing, ia menambahkan, bisa menjadi alternatif bagi keluarga atau pelancong yang ingin mencari suasana berbeda dari destinasi populer. Dikelola Warga, Tumbuh Perlahan Kawasan ini dikelola bersama masyarakat melalui kelompok sadar wisata. Batu Belimbing bahkan pernah masuk dalam 500 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024—sebuah pengakuan awal atas potensinya sebagai wisata berbasis alam dan komunitas. Pengembangannya masih berlangsung bertahap. Sejumlah rencana penataan sempat tertahan persoalan lahan, sehingga pengelolaan dilakukan secara hati-hati sambil menjaga karakter aslinya. Bagi warga, batu itu bukan sekadar objek kunjungan, melainkan bagian dari identitas lingkungan yang tidak ingin kehilangan kealamian. Menawarkan Yang Alami, Bukan Yang Dibuat-Buat Di tengah tren pariwisata yang kian artifisial, Batu Belimbing hadir sebagai antitesis. Ia tidak berusaha tampil megah. Tidak pula dipoles berlebihan. Hanya sebuah batu besar dengan bentuk ganjil, berdiri di alam yang masih terjaga. “Menurut saya, tempat seperti ini jangan terlalu diubah. Cukup dirawat saja. Orang datang ke sini memang untuk melihat yang alami," kisah Dora. Batu Belimbing mungkin tidak ramai diperbincangkan. Namun bagi mereka yang pernah singgah, tempat ini meninggalkan kesan tentang perjalanan singkat yang menghadirkan jeda—dan ketenangan yang kini semakin jarang ditemukan. (*)
|