Kuntilanak dan Sisi yang Sering Terlupakan
CERITA KOTA | Bagi orang Pontianak, nama kuntilanak sudah jadi bagian dari cerita turun-temurun. Sosok perempuan berambut panjang dengan jubah putih, cekikikan melengking, dan kabar burung bahwa ia suka mendekati ibu hamil—begitulah bayangan yang diwariskan dari mulut ke mulut. Ia menakutkan, katanya. Tapi benarkah ia hanya sekadar hantu yang bikin bulu kuduk berdiri? Di balik kisah seram itu, Kuntilanak justru menyimpan banyak cerita lain. Menurut artikel Kuntilanak: Ghost Narratives and Malay Modernity in Pontianak, Indonesia oleh Timo Duile (2020), masyarakat Dayak di Kalimantan Barat memandang roh bukan hanya pengganggu, melainkan penjaga keseimbangan dunia. Bagi mereka, hutan, pohon, dan sungai punya penunggunya sendiri. Kuntilanak pun bisa dipahami sebagai bagian dari cara manusia menjaga batas antara alam manusia dan alam gaib. Kisah Kuntilanak juga menyertai lahirnya Kota Pontianak. Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, konon, diganggu oleh Kuntilanak saat mencari lokasi mendirikan kota. Ia lalu menembakkan meriam ke arah hutan, dan di situlah berdiri Kesultanan Pontianak, tepat di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Lebih jauh lagi, Kuntilanak bisa dibaca sebagai simbol. Ia mewakili ketakutan manusia terhadap kerusakan alam, penebangan hutan, dan perubahan zaman. Dari sisi lain, ia juga dilihat sebagai lambang perempuan korban—ibu hamil, perempuan yang dilukai, atau sosok yang menanggung dendam. Bukan sekadar horor, melainkan peringatan tentang luka, kehilangan, dan bagaimana perempuan seringkali dipinggirkan. Maka, Kuntilanak bukan hanya hantu yang ditakuti di malam hari. Ia juga cermin. Cermin yang mengingatkan kita tentang alam yang rusak, tentang sejarah kota, dan tentang bagaimana kita memperlakukan perempuan. Pertanyaannya: maukah kita mendengar pesan itu, atau tetap menutup telinga dan hanya menyebutnya “menyeramkan”? (*)
|
|