Cerita Kota

Landmark Pontianak Kalau Jadi Takjil

28 Februari 2026

94 views

Kontributor :
Ridho Brilliantoro
@ridhobrilliant
Kontributor :
Ridho Brilliantoro
@ridhobrilliant

"Dari Tugu hingga tepian, mana rasa yang paling bikin kamu rindu pulang?"

CERITA KOTA | Sore di Pontianak selalu punya cara tersendiri untuk menyapa. Di antara deru motor yang melintasi Jembatan Kapuas dan siluet kubah masjid yang memayungi kota, ada sebuah tradisi #RamadandiPontianak yang lebih dari sekadar mengenyangkan perut: berburu takjil.

Namun, pernahkah terlintas di benak kita, bagaimana jika kemegahan arsitektur yang selama ini menjadi saksi bisu sejarah kota berubah menjadi tekstur dan rasa di meja berbuka?

Jika Pontianak adalah sebuah jamuan, maka setiap landmark-nya adalah bahan utama yang membentuk cita rasa kita sebagai warga kota.

Mari kita berandai-andai sejenak: jika sudut-sudut kota ini menjelma menjadi takjil, seperti apa rasa yang akan kita cicip?

Poros yang Garing dan Sungai yang Mengalir

Mari kita mulai dari utara. Tugu Khatulistiwa, sang poros dunia, jika ia adalah makanan, maka ia adalah sepotong Bakwan. Mengapa? Karena seperti titik nol yang mempertemukan berbagai garis bujur, Bakwan adalah harmoni dari sayuran yang berbeda yang menyatu dalam satu adonan. Ia garing di luar namun hangat di dalam—sebuah titik temu yang sederhana namun menjadi poros kebahagiaan di setiap piring takjil.

Berpindah ke urat nadi kota, Sungai Kapuas. Alirannya yang tak pernah putus serupa dengan helaian mie sagu dalam semangkuk Ce Hun Tiaw. Menikmatinya adalah tentang merayakan aliran hidup. Campuran kacang merah, bongko, dan kuah santannya mencerminkan keberagaman etnis yang hidup rukun di sepanjang tepian sungai. Dingin, manis, dan menenangkan; seperti angin sepoi-sepoi di atas sampan yang melintasi Kapuas saat senja.

Wibawa dalam Manisnya Tradisi

Di sudut sejarah, Keraton Kadriah berdiri tegak. Untuk landmark yang sarat akan marwah ini, Kue Batang Burok adalah representasi yang sempurna. Sebagai panganan khas bangsawan, ada wibawa dalam setiap aroma rempahnya. Ia bukan sekadar takjil, tapi penghormatan pada akar sejarah yang tak lekang oleh waktu.

Sama halnya dengan Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman. Kedekatan spiritualnya tercermin dalam kelembutan Kue Jorong-jorong. Terbungkus daun pisang yang membentuk kotak sederhana, ia mengingatkan kita bahwa ketenangan doa dan kemurnian hati sering kali hadir dalam kesederhanaan yang murni.

Perjuangan dan Keramahtamahan Khatulistiwa

Melirik ke arah Tugu Digulis, sebelas bambu runcing yang menjulang itu mengingatkan kita pada keberanian. Jika ia adalah takjil, maka ia adalah Chaikue. Kulitnya yang putih transparan tampak rapuh, namun ia kuat membungkus isian yang kaya rasa. Sebuah simbol bahwa kejujuran tekad sering kali terbungkus dalam kelembutan budi pekerti.

Lalu, bagaimana dengan Jembatan Kapuas? Seperti Sotong Pangkong, ia lahir dari proses yang keras. Harus dipukul berkali-kali agar renyah. Seperti jembatan yang menghubungkan rindu antar-daratan, Sotong Pangkong adalah jembatan rasa yang menyatukan tawa di meja malam bulan puasa.

Tak lengkap rasanya bicara tentang Pontianak tanpa menengadah pada kemegahan Masjid Raya Mujahidin. Menara-menaranya yang menjulang tinggi bukan sekadar simbol arsitektur, melainkan payung spiritual yang meneduhi seisi kota. Jika kemegahan ini mewujud dalam takjil, maka ia adalah Bingke.

Teksturnya yang padat namun lembut, dengan rasa manis yang legit dan berlimpah, mencerminkan keramahtamahan warga Pontianak yang selalu menyambut siapa pun dengan tangan terbuka. Seperti Bingke yang "berendam" dalam kemewahan rasa, Masjid Mujahidin adalah tempat di mana keberkahan terasa meluap-luap, memberikan rasa tenang dan kenyang yang menenteramkan jiwa setelah seharian berjuang menahan dahaga. Di setiap gigitannya, ada doa yang manis dan harapan yang kokoh, sekuat pondasi masjid kebanggaan Kalimantan Barat ini.

Muara Rindu di Tepian Waterfront

Terakhir, kita berlabuh di Waterfront Kapuas. Tempat di mana warga melepas penat sembari menunggu azan magrib. Landmark ini adalah Lemang. Dimasak perlahan dalam bambu dengan ketulusan api, Lemang adalah simbol kesabaran. Di tepian Waterfront, setiap gigitan Lemang hangat seolah menjadi janji bahwa setiap lelah akan menemukan muara tenangnya.

Pontianak bukan sekadar titik koordinat di peta. Ia adalah memori yang kita kunyah pelan-pelan, aroma yang kita hirup dalam doa, dan kehangatan yang selalu membuat kita ingin pulang.

Di antara tugu yang menjulang dan sungai yang tenang, takjil mana yang paling mengingatkanmu pada rumah? (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia! 




Top