Menjaga Warisan, Menata Masa Depan: Rumah Budaya Kampung Caping
23 September 2025 |
447 views |
CERITA KOTA | Hal paling bijak ketika berpijak di suatu tempat adalah mengenang dan meromantisasi sejarah yang nyaris pudar. Begitulah kondisi Rumah Budaya di Kampung Wisata Caping, Pontianak—sebuah bangunan tua yang hampir hilang ditelan waktu. Letaknya persis di tepi Sungai Kapuas, Gang H. Salmah, Bansir Laut, Pontianak Tenggara. Rumah ini dulunya milik keluarga Abdurachman Arief yang kemudian dihibahkan kepada pemerintah. Satu dekade terakhir, rumah tua yang nyaris tak layak itu bertransformasi menjadi Rumah Budaya—penjaga jejak waktu yang terus berdenyut. Bangunannya masih autentik: kayu belian mendominasi, dengan warna kuning dan cokelat tua yang menguatkan kesan klasik. Berdiri sejak 1918, rumah ini kini dirawat oleh Pemerintah Kota Pontianak sebagai bentuk tanggung jawab pelestarian warisan sejarah. Rumah Budaya berada di lingkungan yang tak kalah menarik: Kampung Wisata Caping. Dulu kawasan ini dikenal sebagai Kampung Mendawai dan Kampung Bangka, pemukiman yang masyarakatnya menekuni tradisi membuat caping. Seiring inisiatif menjadikannya destinasi wisata, lahirlah nama Kampung Caping. Bersama pemerintah, warga, dan para relawan, kampung ini perlahan berubah. Lingkungan yang dulu padat kini berbenah menjadi asri, menepis citra kumuh yang lama melekat di tepian Kapuas. Memasuki Kampung Wisata Caping, suasana khas tepian sungai langsung terasa. Rumah-rumah berdiri rapat di bantaran Kapuas, sebagian membuka kedai kecil yang menjajakan jajanan, minuman, hingga makanan berat. Salah satunya bahkan menghadirkan pengalaman makan di atas sungai—suasana terapung yang nyata, menyatu dengan arus. Di sore hari, anak-anak mengayuh kano atau sampan mini melawan derasnya arus. Sementara itu, gerombolan murid pulang sekolah terlihat riang bersepeda menyusuri jalan kampung. Kehidupan sederhana, tapi penuh denyut. Pelestarian Rumah Budaya tidak hanya berhenti pada bangunannya. Ruang ini dibuka sebagai wadah kolaborasi—tempat kreativitas masyarakat Pontianak tumbuh. Latihan tari, upacara bendera, kunjungan sekolah, hingga acara komunitas kerap berlangsung di sini. Tak hanya pemerintah, perguruan tinggi juga terlibat. Mahasiswa KKN ikut mendampingi pengembangan UMKM yang berpusat di Rumah Budaya. Dukungan ini membuat eksistensinya semakin hidup dan relevan. Aktivitas rutin menjadi denyut kehidupan Rumah Budaya: pembuatan caping, tas anyaman, makan saprahan, lomba memancing, hingga membaca di Perpustakaan Cagar. Beny, pengelola Rumah Budaya, menyebut satu acara yang paling istimewa adalah Festival Kampung Caping Pontianak. “Event rutin ini bukan hanya menjaga kelestarian, tapi juga membuka kolaborasi dengan banyak pihak,” ujarnya. Festival ini menjadikan Rumah Budaya tak sekadar ruang hening, melainkan simpul pertemuan antar-generasi dan stakeholder. Rumah Budaya dan Kampung Wisata Caping kini berjalan beriringan. Mereka melestarikan sejarah sekaligus menghidupkan produktivitas masyarakat. “Untuk saat ini tidak ada tantangan dalam pemanfaatan Rumah Budaya oleh pihak manapun, semua berjalan dengan baik,” kata Beny. Pernyataan itu menegaskan bahwa Rumah Budaya bukan hanya terjaga, tetapi juga mampu menciptakan harmoni di tengah masyarakat. Agar pengenalannya tidak berhenti pada hiburan semata, tetapi juga menyalakan kesadaran akan nilai sejarah yang diwariskan. (*) Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|