Menyusuri Aliran Cerita Kapuas dari Hilir ke Hulu
15 Februari 2026 |
90 views |
CERITA KOTA | Air mengalir dari hulu ke hilir. Tapi dalam pameran ini pengunjung diajak menyusuri Kapuas dengan arah sebaliknya. Kapuas yang sehari-hari jadi nadi, menghidupkan komunitas dan mengantarkan komoditas. Dari hulu dan bermuara ke hilir, menepi di pelabuhan dan menyebrang ke pulau-pulau seberang. Kini pemandangan berbeda tersaji di Rumah Budaya Kampung Caping Pontianak, pada 12-15 Februari 2026. Pameran bertajuk "Tiga Aliran Satu Muara: Kisah-Kisah Dari Hulu sampai Hilir" datang sebagai jeda, menghentikan sejenak arus pandang satu arah tersebut. Pameran ini tak berhenti sebagai jejeran pajangan seni, ia membuka ruang dan panggilan pulang untuk memaknai relasi dengan sungai terpanjang se-Indonesia. Dalam kebudayaan Melayu dan Dayak, muara dipercaya jadi titik akhir aliran air menuju laut. Muara juga dianggap titik temu, dimana tata krama berkumpul dalam prinsip silaturahmi dan penghormatan. Inilah yang ingin disampaikan oleh Susur Galur, selaku penyelenggara pameran. Menempatkan Pontianak sebagai muara yang menjadi ruang tamu dimana kita bisa bertemu. 
Dalam ruang temu ini, tiga kabupaten —Kapuas Hulu, Sintang, dan Sanggau—hadir bukan untuk mengirim komoditas. Pengunjung diajak menyusuri aliran cerita, data, dan pengetahuan dari alam dan komunitasnya. Dari tiap elemen pameran, pengunjung diajak untuk mengulas kembali apa yang tumbuh dan lestari di sana juga bagaimana kabar komunitasnya. Menariknya, data dan cerita tersebut tentu tidak disajikan dalam angka yang kaku di atas pajangan. Sejumlah seniman dan kolektif lokal, seperti Ayu Murniati, Bani Hidayat, Sugih Wiramantri, hingga Ketepian Project dan Saka Sinema, ambil peran sebagai penerjemah. 
Memudahkan bahasa alam dan pengetahuan lokal dipahami melalui pengalaman indrawi. Dengan sajian instalasi seni, potret, dan rangkaian narasi, pengunjung diajak merasakan rona budaya yang selama ini mungkin luput dari ingatannya sebagai warga kota. Akhirnya, satu muara itu bukan lagi tempat komoditas berakhir. Dari aliran yang melintasi tiga titik tadi, pengetahuan dan pesan disirami agar tumbuh penuh harapan yang mengalirkan kebaikan. Agar kekayaan Kalimantan Barat tak melulu soal komoditas yang selesai di hilir, tapi juga sejauh mana kita mau mendengar dan menjaga kearifan dalam rumah sendiri. 
Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|