Merdeka Belajar, Merdeka Bermain: Menelusuri Filosofi Pendidikan SAT Cerlang
30 Januari 2026 |
198 views |
CERITA KOTA | Fitrah anak adalah bermain, karena setiap pertumbuhan ada imajinasi yang harus dibesarkan. Dari permainan itulah, anak belajar memahami dunia, mengenal dirinya, dan menumbuhkan rasa ingin tahu yang luar biasa. Filosofi ini yang menjadi nadi hidup Sekolah Alam Terpadu Cerlang, di mana sejak berdirinya pada 2 Mei 2012 telah menorehkan jalan baru dalam pendidikan anak usia dini di Kota Khatulistiwa. Sri Wartati, pendiri Cerlang, menceritakan bahwa sekolah ini lahir dari kegelisahan dan pengamatan terhadap anak-anak yang dilihatnya belajar dalam keterpaksaan. “Saya lulusan FKIP, dan ketika kembali ke Pontianak, saya melihat anak-anak tampak tidak menikmati proses belajar. Dari situ kami mulai mencari solusi,” ujarnya. Awalnya Cerlang hanya memiliki satu guru dan memulai dari TK, kemudian berkembang menambah playgroup, hingga akhirnya membuka jenjang SD. Semuanya dengan pendekatan yang bertahap dan terencana. Di Cerlang, belajar dilakukan sambil bermain dalam suasana hiburan. Hal itu juga menjadi medium perkembangan anak-anak untuk mengekspresikan ide, menentukan kegiatan harian, memilih tema riset, dan menyusun kesepakatan kelompok. Dari situ, mereka belajar memimpin diri sendiri, berkolaborasi, dan menyelesaikan masalah. “Belajar di Cerlang itu menyesuaikan dengan fitrah anak. Cara bermain mereka berbeda-beda sesuai usia, tapi yang penting adalah anak belajar dari pengalaman dan pilihannya sendiri,” jelas Sri Wartati. 
Presentasi riset siswa jenjang sekolah dasar SAT Cerlang di Galeri Hasil Hutan Provinsi Kalimantan Barat beberapa waktu lalu.
Filosofi ini mengakar pada konsep merdeka belajar, memungkinkan setiap anak tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri, bukan sekadar menyalin materi di papan putih tanpa tahu arti. SAT Cerlang sengaja memilih konsep micro school atau sekolah mikro. Sebuah institusi pendidikan berskala kecil yang umumnya melayani sekitar 10 hingga 150 siswa (seringkali di bawah 15-20 anak) dengan pendekatan pembelajaran yang sangat personal, fleksibel, dan berbasis komunitas. Hal ini untuk memastikan perhatian guru fokus pada setiap anak. Dengan kelompok kecil empat sampai lima anak per guru untuk playgroup, sekitar sembilan anak untuk TK, membuka kesempatan untuk bersuara, mengekspresikan rasa, dan dikawal secara penuh dalam proses belajarnya. “Kalau kelas terlalu besar, perhatian tidak terfokus. Di Cerlang, anak-anak benar-benar diperhatikan, sehingga mereka mampu membangun kedisiplinan dan kemandirian sejak dini,” tambah Sri Wartati. 
Siswa jenjang sekolah dasar berdiskusi dengan kakak-kakak dari Komunitas Ecobhineka Jakarta dan Gusdurian ketika datang ke Pontianak beberapa waktu lalu.
Sekolah ini juga memadukan anak-anak dari berbagai latar belakang, mempraktikkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika secara nyata. Mereka belajar menghargai perbedaan, memahami toleransi, dan menumbuhkan empati. Misalnya, anak-anak belajar menjalankan ibadah sesuai agama masing-masing tanpa paksaan, sambil tetap menghormati teman yang berbeda praktik. Sejauh ini, lulusan Cerlang menunjukkan kemampuan belajar mandiri yang baik, masuk ke sekolah unggulan tanpa perlu les tambahan. Mereka terbiasa membaca, menulis, meneliti, dan berkomunikasi efektif. Akademik memang penting, tetapi yang lebih utama adalah karakter, kemandirian, dan kemampuan mengatur diri sendiri. 
Siswa Playgroup dan TK tengah mengolah sayur untuk menu makan siang mereka.
Sekolah Alam Terpadu Cerlang membuktikan bahwa pendidikan yang menekankan fitrah anak, karakter, dan micro school mampu menumbuhkan anak yang imajinatif, beriman, toleran, dan mandiri. Di sini, anak-anak bukan hanya belajar membaca dan menulis, tapi juga belajar menjadi diri mereka sendiri, merdeka, kreatif, dan penuh rasa ingin tahu. (*) Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|