Cerita Kota

Ruang Imajinasi: Melihat Si Kecil Memandang Dunia

31 Januari 2026

136 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | Ruang Imajinasi mengajak pengunjung membaca dunia lewat cara pandang penuh warna dan pertanyaan kehidupan yang tak pernah diduga. Dari sanalah pameran tunggal Ayu Murniati, atau yang dikenal sebagai Ayu Kebong berangkat. Menghadirkan sudut pandang yang sederhana, jujur, namun justru tajam.

Pameran ini berlangsung di Port 99, Pontianak, 31 Januari hingga 14 Februari 2026.

Berangkat dari latar akademis sebagai arsitek, Ayu mulai menekuni dunia mural sejak tahun 2016. Hampir satu dekade ia bergulat dengan tembok-tembok kota, hingga kemudian memperluas praktik seninya ke ranah seni rupa dan pameran. 

Sejak 2019, Ayu mulai aktif berpameran, dan geliat itu semakin kuat ketika ia menetap di Bali. Namun, Ruang Imajinasi menandai sesuatu yang lebih personal: sebuah upaya kembali pada diri sendiri.

Keputusan Ayu untuk beralih dari dunia arsitektur ke mural bukanlah hal yang direncanakan sejak awal. Ia lahir dari pengalaman personal dan kebutuhan hidup yang sangat nyata.

“Karena ini masalah pribadi sih. Maksudnya karena pertama saya perempuan, waktu tidak ada untuk keluarga, untuk diri pribadi. Dan saya banting setir ke mural,” ujar Ayu diiringi gelak ringan di penghujung ketika pembukaan pamerannya di Port 99, Pontianak, Jumat (30/1/2026).

Mural menjadi pintu masuknya, perlahan, kemudian menjadi tempat nyaman. Dari sana, ia menemukan kebebasan sekaligus sudut pandang yang lebih jujur. Hulu yang berkembang menjadi karakter khas dalam karya-karyanya hari ini.

Dalam Ruang Imajinasi, pengunjung akan menemukan figur perempuan kecil yang berulang hadir dalam berbagai karya. Karakter ini bisa dikatakan sebagai cerminan Ayu kecil, atau lebih luas, cara anak-anak memandang dunia.

Salah satu karya favorit Ayu dalam pameran ini adalah poster sosok kecil yang berada dalam “cangkang”, namun memiliki imajinasi yang luas. Terjebak, tetapi penuh daya cipta. Tertahan, namun terus bermimpi. Imajinasi menjadi ruang aman, tempat “keajaiban” mungkin terjadi.

Meski sebagian besar karakter dalam pameran ini berangkat dari sudut pandang perempuan, Ayu menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah sikap eksklusif. Ia menerjemahkan apa yang paling dekat dengannya, pengalaman, relasi, dan komunikasi yang selama ini banyak ia jalani bersama sesama perempuan.

Di balik pameran ini, hadir Hera Yulita sebagai kurator. Hera aktif di komunitas Siberdaya, yang berfokus pada seni dan penguatan ekosistem ekonomi kreatif di Pontianak. Dalam pameran ini, perannya bukan sekadar mengurasi, tetapi menjadi rekan diskusi Ayu sejak awal.

Hera membantu menyeleksi karya-karya Ayu sepanjang 2025 yang saling terhubung dan selaras dengan tema Ruang Imajinasi. Ia juga berperan sebagai penghubung antara seniman, galeri, media, dan publik, membantu memastikan pesan dalam karya dapat tersampaikan dengan utuh.

Menurut Hera, Pontianak sebenarnya memiliki ekosistem seni yang cukup kuat, baik di seni rupa, musik, maupun tari. Tantangannya terletak pada koneksi dengan publik dan jejaring yang lebih luas. Karena itu, pameran seperti ini penting sebagai penanda bahwa Pontianak punya seniman, punya karya, dan punya ruang untuk dibanggakan.

Dukungan Hera terhadap Ayu ia maknai sebagai bentuk solidaritas.

“Saya tidak ada alasan untuk tidak mendukung perempuan lain meraih mimpi dan harapan dia sebagai seniman,” ungkapnya penuh keyakinan.

Melalui sosok “kecil” yang hadir, Ayu Kebong mengajak kita mengingat kembali cara paling jujur dalam memandang hidup, berani bertanya, berani bermimpi, dan berani melihat dunia tanpa beban kerumitan yang kita ciptakan sendiri.

Di ruang ini, imajinasi bisa menjadi sekadar pelarian, juga jalan pulang menuju diri yang pernah sederhana, pernah ingin tahu, dan masih percaya bahwa keajaiban bisa tumbuh dari hal-hal yang kecil. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top