Bandong yang Menolak Pulang
Senandung Terakhir di Sungai Kapuas |
76 views |
CERITA KOTA | Rumah di atas air, dengan halaman sungai yang membentang sejauh mata memandang. Begitulah orang-orang dulu menggambarkan motor Bandong, sebuah kapal kayu beratap yang bukan sekadar alat angkut, melainkan ruang hidup. Di atas geladaknya orang tidur, memasak, bercakap, dan menua. Di bawah luasnya, arus mengalir sebagai nadi Kalimantan Barat, membawa barang, cerita, dan harapan dari hilir ke hulu. Di kapal “Rezeki Jaya”, Herman (64) berdiri menghadap arus yang tak pernah sama. Lebih dari 40 tahun hidupnya dihabiskan sebagai juru mudi yang menghafal sungai tanpa peta dan tanpa alat pelayaran terbarukan. Ia belajar sejak muda, mengikuti orang tua menyusuri alur. 
“Ini batu, ini pasir,” begitu pelajaran yang ia simpan di kepala. Semua berdasarkan ingatan dan naluri seperti sebuah warisan. “Bawa kapal itu tidak susah,” ucap Budi Ameng, salah satu awak kapal, sekaligus pemilik KM. Sahabat Kapuas dalam dokumenter Bandong yang dapat ditonton di Youtube Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII. “Yang susah itu tahu alurnya.” Di Tayan harus lewat mana, di Meliau harus ambil sisi mana, di Sanggau harus menghindari batu yang mana. Bahkan setelah puluhan tahun, Budi mengakui tak pernah benar-benar selesai belajar. Sungai berubah, dan manusia harus ikut menyesuaikan. Dulu, dari tepian Kapuas hingga pedalaman, motor Bandong berjajar seperti rumah-rumah terapung. Jumlahnya puluhan. Mereka mengangkut penumpang sekaligus barang: sembako, semen, kayu, dan kebutuhan pokok lain. Kini, dari sekitar 40 unit, hanya tersisa beberapa yang masih setia melayari rute Pontianak–Kapuas Hulu. Angkutan darat yang lebih cepat dan jadwal yang pasti membuat banyak pedagang beralih. Jika kiriman darat tiba dalam hitungan hari, Bandong bisa memakan waktu berminggu-minggu. 
Di palka atau “petak” (sebutan mereka), muatan utama adalah sembako dan material bangunan. Semen ditumpuk rapi, berdampingan dengan beras dan kebutuhan harian. Namun muatan tak lagi seramai dulu. Getah dan kayu yang dahulu memenuhi dek kini jarang terlihat. “Kadang hampir sebulan baru dapat angkat,” ujar Herman, mengenang masa ketika seminggu sekali kapal sudah penuh. Perjalanan menuju Jongkong, Kapuas Hulu misalnya, bisa memakan lima hari lima malam tanpa singgah. Belasan drum solar habis terbakar untuk pulang-pergi. Jika arus kuat, mesin harus dipacu lebih keras. Jika kemarau tiba, air surut menyisakan dangkal yang memaksa kapal berkelok lebih jauh. Tanjung yang dulu ditempuh dua jam kini bisa menjadi empat jam. Pendangkalan sungai menjadi tantangan lain. Aktivitas penambangan emas ilegal di beberapa titik mempercepat perubahan alur. “Kalau ke situ, tetap melekat,” katanya, menunjuk hamparan kuning dangkal yang dulu bukan jalur berbahaya. Sungai yang ia hafal perlahan berubah wajah. Herman pernah menegur penambang yang bekerja di jalur kapal. Namun jawaban para penambang itu singkat, “Di situ banyak emas.” Percakapan pun selesai, Herman tak bisa melanjutkan perkataannya. Sungai yang dulu ia kenal seperti halaman rumah, kini menyimpan kejutan yang tak selalu ramah. Di atas kapal, hidup berjalan dalam satu ruang yang sama, tidur, makan, bekerja. Tiga kamar kecil, dapur di belakang dekat mesin, satu dek terbuka menghadap angin. Jika ingin berlayar 24 jam, harus ada dua kapten. Namun kini, masalah terbesar bukan hanya arus atau solar, melainkan manusia. Para juru mudi menua, sementara penerus tak banyak. “Mungkin barang masih ada, tapi yang bawa sudah tidak ada,” ujarnya getir. Herman tetap bertahan. Dua anaknya telah tiada, meninggalkan cucu-cucu yang menjadi semangatnya bekerja. Hampir 30 tahun ia mengemudikan kapal demi keluarga. Sungai menjadi saksi kehilangan sekaligus penguat langkahnya. Ia tahu usaha ini kian lesu. Dalam lima atau tujuh tahun ke depan, mungkin kapal akan semakin sedikit. Motor Bandong dijual karena pemiliknya tak lagi mampu atau tak ada yang meneruskan. Senjakala itu terasa dekat. Namun setiap kali mesin dinyalakan dan haluan diarahkan ke hulu, ada keyakinan kecil yang tetap menyala. Selama sungai masih mengalir dan masih ada yang hafal batunya, Bandong belum benar-benar usai. (*) 
Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|