Imlek dan Legenda Nian Shou
Merawat Tradisi Tionghoa Indonesia |
88 views |
CERITA LEGENDA | Tahun baru Imlek diakui sebagai hari besar nasional sejak pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Sebelumnya, masyarakat Tionghoa merayakannya dalam keterbatasan karena dilarang. Padahal, Imlek merupakan salah satu kekayaan budaya dan tradisi Indonesia. Dr Kai Kuok Liang dalam bukunya Festival Budaya Tradisi Tionghoa yang diterjemahkan oleh budayawan Kalbar, Lie Sau Fat, menulis, menurut cerita dari mulut ke mulut sejak zaman Huang Ti (2698 SM) dan zaman Dinasti Qin (221206 SM), Kaisar Qin Che Huang mencatat bahwa Chun Ciek dirayakan secara merata oleh rakyat jelata dalam semangat persatuan dan kesatuan bangsa Han (sekarang hampir 93 persen dari populasi Rakyat Tiongkok). Chun Ciek merujuk pada festival musim semi yang jadi cikal bakal perayaan Imlek. Dilegendakan, setiap hari terakhir jelang ganti tahun, akan muncul sejenis binatang buas hendak memangsa apa saja yang dijumpai. Masyarakat lokal menyebutnya Nian Shou (年兽). Nian berarti tahun, sedangkan shou adalah binatang. "Untuk menjaga keselamatan keluarga, menjelang tahun baru semua pintu dan jendela ditutupi rapat dan sambil menantikan hari maut yang menakutkan itu berlalu," tulis Lie Sau Fat dalam bukunya Aneka Budaya Tionghoa Kalimantan Barat. Atas upaya dengan mengurung diri di rumah itu, selang beberapa tahun, Nian Shou tidak muncul. Rakyat lega, sekaligus terlena. Mereka pikir, Nian Shou tak akan pernah kembali. 
Hingga pada satu Imlek, dia datang. Menyerang dan memangsa semua makhluk yang ditemukan. Kecuali, beberapa rumah yang tengah mengadakan pesta kawin dan ulang tahun. Di rumah-rumah itu , bergantung kain merah dengan dinding ditempeli kertas merah yang bertuliskan kata-kata arif dan bijak. Tradisi masyarakat Tionghoa ketika berpesta. "Pengantin-pengantin yang berpakaian merah pun terhindar dari serangan Nian Shou. Begitu juga anak-anak yang bermain mercon/petasan dengan bunyi-bunyian ramai, bisa terhindar dari malapetaka ini," sebutnya. Petasan dahulu terbuat dari tumpukan bambu utuh yang dikeringkan lalu dibakar, sehingga timbul bunyi mercon. Rupanya Nian Shou takut bunyi-bunyian. Pengalaman itu buat warga menarik kesimpulan Nian Shou takut pada warna merah, juga bunyi-bunyian. "Sejak zaman itu setiap tahun baru di atas pintu atau ruangan tamu digantungi kain merah atau kertas merah dengan tambahan tulisan kata-kata bijak serta memasang mercon sebanyak mungkin untuk menimbulkan bunyi-bunyian yang menakutkan Nian Shou," jelasnya. Imlek di Indonesia Setiap pergantian tahun penanggalan Imlek, dirayakan sebagai Chun Ciek atau festival musim semi oleh masyarakat Tiongkok. Tradisi ini mengakar dari dulu sampai sekarang. dan sudah menjadi satu tradisi yang monumental dalam perayaannya. Masyarakat Tiongkok tradisional adalah masyarakat agraris. Mereka hidup sebagai petani. Selama musim dingin, cuaca ekstrim. Petani pun tidak bisa meladang. "Sehingga dengan datangnya musim semi memberikan harapan dan semangat baru lagi bagi petani kembali ke ladang untuk menyemai, denyut nadi kegembiraan petani menyongsong musim semi, musim pengharapan di sambut dengan antusias yang harus dirayakan, sebelum kembali menuju ke ladang masing-masing," tulis Lie Sau Fat atau yang juga dikenal dengan FX Asali. 
Tradisi ini terbawa sampai sekarang, bahkan oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia, sekalipun tak ada musim semi. Sebagai penanda, jelang Imlek pedagang aksesoris dadakan bermunculan. Salah satu yang dijual adalah replika Mei Hwa (bunga Mei). Di Tiongkok, semua tanaman rontok dan gugur, dan hanya pohon Mei yang memekarkan bunga warna pink indah. Kontras dengan hamparan salju yang menyelimuti kota. "Kegembiraan datangnya musim semi dirayakan keturunan Tionghoa di Indonesia sebagai Tahun Baru Imlek," tulisnya. Dalam bahasa Tionghoa, im berarti bulan dan lek adalah penanggalan. Penanggalan Imlek sejatinya penanggalan yang berdasarkan pada peredaran bulan. Sama halnya pada penanggalan tahun Hijriah dalam Islam. Sedang tahun Masehi berpatok pada peredaran matahari. "Hari raya tahun baru Imlek telah dirayakan sejak ribuan tahun yang lalu secara turun-temurun serta terbawa ke perantauan, sehingga sampai sekarang Tahun Baru Imlek (Chun Ciek) tetap masih dirayakan lebih meriah sekaligus ajang bersilahturahmi," katanya. Perayaan Imlek bermakna syukur kepada Tuhan, bahwa satu tahun telah berlalu dengan selamat dan sukses. Termasuk memohon agar tahun baru yang akan datang lebih baik dengan kehidupan sejahtera sesuai kepercayaan masing-masing. Pemerintahan Tiongkok sendiri melegalkan perayaan ini pada Kongres Parlemen Tiongkok tanggal 27 September 1949 di Beijing. Di mana diputuskan dua perayaan tahun baru bagi masyarakat. Pertama, tahun baru pada tanggal 1, bulan 1 menurut penanggalan Masehi. Kedua, tahun baru tradisi yang disebut juga Chun Ciek yang dirayakan sebagai tahun baru Imlek pada tanggal 1, bulan 1 menurut penanggalan Imlek. (*) Ikuti terus cerita dari Pontinesia untuk makin tahu Pontianak, makin tahu Indonesia! Foto: Widy Anggara & Pexels
|