Naratif

Penabuh Tradisi Kota Bestari

Nyala Remaja di Festival Sahur-Sahur Mempawah

131 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

“Dari kecil kami sudah ikut.”

Kalimat itu meluncur ringan dari Rian (15) dan Beri (18), dua remaja dari Sungai Dungun yang malam itu berdiri di antara gemerlap lampu dan denting kentongan. 

Mereka adalah bagian dari Tim Kelentong Kuning, salah satu peserta paling antusias dalam Festival Sahur-Sahur ke-23 di Mempawah, Sabtu (28/2/2026) malam.

Bagi mereka, festival ini bukan sekadar lomba. Ia adalah kenangan masa kecil, ruang belajar bertumbuh, sekaligus panggung pertama untuk merasa bangga menjadi bagian dari tradisi kota.

Nama tim mereka pun punya cerita. Awalnya bernama ACM—Anak Cinta Masjid. Seiring waktu, berganti menjadi Kelentong Kuning, terinspirasi dari bambu yang diolah menjadi kentongan, simbol khas Mempawah sejak dulu. 

Tahun ini, mereka mengusung tema bunga sakura dengan model gerbang pekong. Ramadan yang beriringan dengan Imlek mereka terjemahkan dalam bentuk visual; lampion, warna merah, dan tabuhan bambu yang tetap jadi pondasi.

Latihan mereka sekitar setengah bulan. Semua properti dibuat sendiri. Dari rangka gerobak hingga detail hiasan, dikerjakan gotong-royong. Biaya pendaftaran Rp50.000 per tim terasa ringan dibanding semangat yang mereka bawa. 

Setiap tim memang mendapat dana pembinaan Rp1.000.000, tetapi bagi Rian dan Beri, nilai terbesarnya bukan di angka itu.

“Yang penting bisa ikut. Kalau tidak ikut, rasanya ada yang kurang,” kata mereka.

Semangat yang sama terasa di barisan Tim CBJ (Citra Buaya Jaya) dari Sungai Duri. Marcel dan Farel tampil percaya diri dengan gerobak penuh ornamen plastik daur ulang dan lampion. Tema mereka; kreativitas dari bahan bekas.

Persiapan hanya sepuluh hari. Tapi kerja kerasnya tak singkat. Besi, ban, cat, tandu, banner, hingga kostum—semuanya dirakit dari modal pribadi yang tak sedikit. Belasan juta rupiah terkumpul dari patungan anggota dan dukungan keluarga.

“Bukan kejar hadiah,” ujar Marcel. “Ini festival orang Mempawah. Kalau tidak ikut, rasanya aneh.”

Kalimat itu mungkin menjelaskan mengapa setiap tahun jalan-jalan utama kota selalu padat usai tarawih. Festival Sahur-Sahur bukan lagi sekadar tradisi membangunkan sahur. Ia telah menjadi ruang ekspresi lintas generasi—terutama anak muda.

Tahun ini, festival yang digelar 28 Februari hingga 7 Maret itu bahkan masuk dalam agenda Kharisma Event Nusantara (KEN), program strategis dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kolaborasi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan pariwisata menjadikannya bukan hanya perayaan lokal, tetapi juga etalase budaya yang menggerakkan ekonomi kreatif.

Namun di balik panggung besar itu, denyut utamanya tetap pada para remaja yang menabuh bambu dengan penuh tenaga. Mereka yang mungkin masih duduk di bangku sekolah, tetapi sudah memahami arti tradisi, kerja tim, dan kebanggaan identitas.

Malam di Mempawah memang selalu punya cara sendiri untuk terasa hidup saat Ramadan. Lampu warna-warni menyala, gerobak hias berjejer, kentongan bersahut-sahutan memecah sunyi.

Dan ketika tabuhan terakhir menggema menjelang dini hari, yang tersisa bukan hanya bunyi bambu. Ada rasa memiliki. Ada semangat muda yang terus menabuh, menjaga agar tradisi tak pernah benar-benar sunyi.

Di tangan para pemuda penabuh sahur inilah, warisan itu tetap menderu—tahun demi tahun. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
 




Top