Cerita tentang Surga: Tarian Rindu Ibu dari Budi Jak
Ketika sudah tak ada lagi surga di rumah tempat kembali, saat itu jiwa tak mampu menahan rindu. Jika harus memilih antara mencintai dan bernafas, maka aku akan memilih menggunakan nafas terakhirku untuk memberitahu mereka; bahwa aku sangat mencintai dan merindukanmu. Narasi tersebut menjadi pengantar pertunjukan tari Cerita tentang Surga karya Budi Jak. Pertunjukan dengan durasi 60 menit tersebut disajikan dengan gaya modern. Pucuk Pakis Ensemble yang jadi pengiring musik, membawa penonton masuk ke dalam pergolakan batin dan kehidupan pesan para penari. Cerita tentang Surga disajikan 11 orang penari. Setiap gerakannya merepresentasikan memudarnya kesempatan interaksi anak dan orang tua. Hilangnya raga seorang ibu sebagai tempat bersandar. Air wajah dan gerak tubuh menitikberatkan perubahan beban mental dan emosional akibat kehilangan. Meski tak lagi bisa dipeluk, sosok ibu dihadirkan dalam naluri dan intuisi jiwa. Bagaimana kasihnya tetap dirasakan sebagai motivasi dalam menjalani kehidupan. Sederhananya, ungkapan surga di bawah telapak kaki ibu benar-benar dihadirkan secara implisit, dari stilasi artistik yang dihadirkan pengkarya dalam pertunjukan. 
Pertunjukan tersebut digelar selama dua malam, pada 6 dan 7 Maret 2024 di panggung tertutup Taman Budaya Kalimantan Barat. Budi Jak menyebut apresiasi memberikan dampak positif bagi kehadiran karya inovatif serta produktivitas pengkarya dalam kerja artistik. Uniknya, tidak hanya pertunjukan, apresiator juga difasilitasi agenda sharing dan diskusi bersama para penyaji setelah pertunjukan usai. 
Mereka menyampaikan kesan dan pesan akan penyajian karya tersebut. Sehingga secara strategi, pada konteks yang dijadikan interpretasi dan dirancang pengkarya serta pendukungnya, mendapatkan kesempatan guna kritik yang membangun dari para apresiator secara langsung. Tidak diduga, sajian Cerita tentang Surga menggugah rasa rindu mereka. Haru campur air mata mewarnai pementasan dan sesi diskusi. Pertunjukan ini merupakan realisasi agenda seni kedua Serat Pakis. Gelaran bertajuk Ajang Gelar #1, dihadirkan atas kerja sama Serat Pakis dan Sanggar Wiyandriloka dengan mengusung pertunjukan karya Budi Jak, yang turut didukung oleh Tk. Idhata, Melayu Tv, Keqi Production.  Serat Pakis sendiri dibentuk beberapa pelaku seni interdisiplin Kota Pontianak dan sekitarnya. Ruang ini jadi wadah bertukar pandangan dan pengalaman, khususnya dalam menyikapi fenomena sekitar agar dapat diwujudkan secara kolektif dan mandiri, dalam menata dan mengelola kemungkinan.
"Tidak menutup kemungkinan, akan dihadirkan Ajang Gelar berikutnya dengan pertunjukan karya yang inovatif dan inklusif terhadap fenomena di sosial masyarakat," tutup Budi Jak. (*) Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia! Foto: @tv.melayu
|