Kelepon dan Tradisi 10 Muharam di Teluk Pakedai
CERITA KOTA | Di Teluk Pakedai, 10 Muharam bukan sekadar peringatan hari besar dalam kalender Islam. Ia menjadi momentum spiritual, budaya, dan sosial yang mewujud dalam bentuk paling manis: kue kelepon. Setiap keluarga membuat kelepon dari ketan dan gula merah, menggunakan bahan hasil kebun mereka sendiri. Ketan putih dan hitam melambangkan kesucian niat dan simbol tanah yang subur. Parutan kelapa yang menyelimuti kelepon pun berasal dari pohon di halaman sendiri. Hanya satu bahan yang dibeli, yakni gula merah. Sisanya adalah hasil gotong royong alam dan manusia. Warna kelepon tak sekadar estetika. Putih melambangkan kesucian niat, hijau (dari daun pandan atau pewarna alami) mewakili kehidupan dan pertumbuhan, dan hitam menjadi simbol tanah pekat—tempat benih harapan ditanam. Menjelang sore, warga mulai berdatangan ke masjid usai salat Asar. 
Beberapa di antaranya sedang berpuasa sunnah Asyura. Kelepon yang mereka bawa digunakan sebagai hidangan untuk berbuka puasa. Sementara yang tidak berpuasa, akan menyantap kelepon bersama-sama setelah pembacaan doa selamat. Semua duduk bersila, menyatukan harap dan rasa dalam bulatan kelepon yang lembut dan manis. Masjid Jamiatul Muslimin, yang terletak di Parit Guru H. Amin, Desa Teluk Pakedai 2, Kecamatan Teluk Pakedai, menjadi pusat dari tradisi ini—bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi sebagai ruang kolektif tempat warga saling mendoakan dan mempererat hubungan sosial. Kelepon dibagikan dan disantap bersama. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa keberagaman bisa berpadu dalam kesatuan rasa dan tujuan. 
Lebih dari itu, kelepon menyimpan harapan-harapan yang lebih besar. Beberapa keluarga menyimpan sebagian kelepon di bawah pohon kelapa dan pinang di kebun mereka, sebagai bentuk doa agar pohon-pohon itu berbuah lebat. Tradisi ini adalah bentuk lain dari “menanam doa”—bahwa setiap yang kita harapkan perlu diiringi tindakan dan keyakinan. Kelembutan ketan membungkus gula merah di dalam kelepon ibarat doa yang tersembunyi dalam usaha sehari-hari. Harapan akan panen padi yang kuning, kelapa yang subur, dan pinang yang ranum, semuanya menyatu dalam satu kudapan kecil. Tradisi kelepon di Teluk Pakedai adalah praktik budaya yang hidup. Ia mengikat generasi, menyatukan makna keagamaan dengan kearifan lokal, dan menjadikan makanan bukan sekadar konsumsi, tapi sarana ekspresi spiritual dan sosial. Di tengah dunia yang terus berubah, kelepon menjadi pengingat bahwa warisan leluhur bisa terus hidup. Bukan lewat kemegahan, tetapi lewat hal-hal yang sederhana: ketulusan, kebersamaan, dan keyakinan yang manis—semanis kelepon. (*) 
Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|