Menjaga Hutan Lewat Tengkawang: Kisah Forestwise dari Sintang
MENYUSURI BORNEO | Perjalanan ini bermula dari petuah orang dulu, kebiasaan masyarakat, cerita-cerita lama tentang buah tengkawang yang mampu melembutkan kulit dan menghilangkan bekas luka lebih cepat. Pernah mendengar tentang buah tengkawang? Buah itu menggantung lama di ranting. Ketika waktunya tiba, ia jatuh begitu saja ke tanah. Tak ada tangan yang memetiknya, tak ada galah yang meraih dari kejauhan. Masyarakat hanya berjalan menyusuri hutan, memungut buah-buah yang telah dipilih sendiri oleh alam untuk dilepaskan. Memang seperti itulah cara memanennya. Barangkali, itu juga alasan mengapa tidak banyak orang mengenal tengkawang. Namanya jarang terdengar di kota-kota besar. Ia hampir tidak pernah menghiasi rak supermarket secara dominan, apalagi menjadi buah yang dicari untuk dikonsumsi. Namun jauh di luar Indonesia, dunia mengenalnya dalam bentuk yang berbeda—Illipe Butter, salah satu bahan baku bernilai tinggi untuk berbagai produk perawatan kulit. Perjalanan itu dimulai dari hutan Kalimantan. Tengkawang bukan pohon yang mengejar waktu. Ia membutuhkan sekitar sepuluh hingga lima belas tahun untuk mulai menghasilkan buah, lalu terus tumbuh hingga usianya mencapai seratus bahkan dua ratus tahun. Batangnya membesar perlahan, diameternya dapat mencapai tiga meter, menjulang di tengah rimbunnya pepohonan lain. Yang menarik, tengkawang tidak tumbuh sendirian. Ia hidup berdampingan dengan pohon-pohon hutan lainnya, membentuk ekosistem yang saling menjaga. Tidak ada perkebunan luas yang ditanami tengkawang dalam barisan rapi. Sebagian besar pohon tumbuh alami di hutan, sementara sebagian lainnya merupakan warisan generasi terdahulu yang ditanam di kebun masyarakat puluhan tahun silam. 
Hutan menjadi rumah terbaik bagi tengkawang. Membuka lahan di sekitarnya justru dapat mengubah keseimbangan yang selama ini menjaganya. Pohon yang telah bertahan selama ratusan tahun ternyata sangat peka terhadap perubahan suhu. Ketika hutan di sekelilingnya hilang, tengkawang perlahan ikut kehilangan kehidupannya. Karena itu, keberadaan pohon-pohon lain bukanlah penghalang bagi tengkawang untuk tumbuh. Mereka adalah bagian dari kehidupan yang membuatnya tetap hidup. Alam memiliki cara sendiri untuk menentukan kapan tengkawang berbuah. Kemarau panjang menjadi pertanda awal. Setelah itu bunga-bunga mulai bermunculan, menunggu cuaca berganti menjadi panas, lalu hujan, kemudian panas kembali. Irama alam itulah yang menentukan apakah bunga akan berkembang menjadi buah atau gugur sebelum waktunya. Tidak ada manusia yang mampu mempercepat proses tersebut. Itulah mengapa tengkawang selalu menjadi penantian. Di balik kulit buahnya, tersimpan biji yang menjadi bagian paling berharga. Setelah dikeringkan dan diproses, biji itu menghasilkan butter alami yang dikenal memiliki kemampuan melembabkan kulit dengan sangat baik. Masyarakat Kalimantan telah memanfaatkannya sejak lama. Cerita turun-temurun menyebutkan butter tengkawang digunakan untuk merawat kulit, membantu mempercepat penyembuhan luka ringan, bahkan menjadi obat sariawan. Pengetahuan yang diwariskan dari mulut ke mulut itu kini mulai dibuktikan melalui pemanfaatannya di industri kosmetik modern. Tak heran jika dunia kemudian melirik buah yang selama ini tumbuh diam di tengah hutan. Di balik perjalanan panjang buah tengkawang dari lantai hutan hingga menjadi bahan baku kosmetik dunia, ada Forestwise yang menghubungkan keduanya. Sebagai perusahaan yang berbasis di Sintang, Kalimantan Barat, Forestwise mengembangkan hasil hutan bukan kayu melalui pendekatan berkelanjutan. 
Alih-alih membuka perkebunan, Forestwise bekerja sama dengan masyarakat untuk mengolah hasil hutan seperti tengkawang dan aren menjadi produk bernilai tinggi yang dipasarkan ke dalam maupun luar negeri. Melalui visi "Create Rainforest Value", perusahaan ini membangun rantai pasok hasil hutan bukan kayu bersama masyarakat, mengolah buah-buah yang dipanen secara lestari menjadi produk bernilai tinggi, sekaligus memastikan manfaatnya kembali kepada mereka yang selama ini menjaga hutan. Tidak semua tengkawang memiliki karakter yang sama. Di Kalimantan Barat dikenal beberapa jenis, seperti Cerina, Majau, dan Tengkawang Tungkul. Di antara ketiganya, Tungkul menjadi yang paling diminati karena menghasilkan butter berkualitas tinggi. Butter tengkawang diolah dalam beberapa tahap, bentuk RBD (Refined, Bleached, Deodorized) paling banyak dicari industri karena telah dimurnikan, tidak berwarna, dan tidak beraroma, sehingga mudah digunakan sebagai bahan baku lotion, lip balm, body butter, sabun, hingga berbagai produk perawatan kulit. Seluruh buah berasal dari masyarakat, kemudian diolah di fasilitas produksi di Sintang dengan kapasitas sekitar tiga ton per hari sebelum dipasarkan ke dalam negeri atau diekspor ke Eropa, Amerika, dan Australia. Sebagian produk juga dikirim ke Belanda untuk diproses menjadi RBD sesuai kebutuhan pelanggan, termasuk berbagai merek kosmetik internasional seperti Lush Cosmetics. Namun, perjalanan tengkawang kini menghadapi tantangan baru. Perubahan iklim membuat musim berbunga dan berbuah semakin sulit diprediksi. Jika dahulu satu desa mampu menghasilkan ratusan ton dalam satu musim, kini hasil panen di beberapa wilayah tinggal puluhan ton. Sementara permintaan dunia terus meningkat, pasokan justru semakin terbatas. Karena itu, Forestwise menerapkan prinsip pemanenan berkelanjutan. Tidak seluruh buah yang jatuh dipungut; sekitar 20 persen dibiarkan tetap berada di hutan sebagai sumber regenerasi alami, sementara 80 persen dipanen oleh masyarakat. Nilai yang dihasilkan pun tidak berhenti di pabrik. Melalui yayasan yang dibentuk perusahaan, sebagian hasil usaha dikembalikan kepada desa-desa mitra dalam bentuk dukungan untuk pendidikan, tempat ibadah, dan berbagai program pemberdayaan masyarakat. 
Bagi Basri, Koordinator Produksi Forestwise, kekuatan terbesar tengkawang bukan hanya terletak pada nilai ekonominya, tetapi juga pada dampaknya terhadap cara masyarakat memandang hutan. “Kami tidak punya perkebunan tengkawang. Buah yang kami olah berasal dari masyarakat yang mengumpulkannya dari hutan atau dari pohon-pohon tua di kebun mereka. Semakin besar nilai yang dimiliki tengkawang, semakin besar pula alasan masyarakat untuk menjaganya.” Ia pun menutup dengan satu kalimat sederhana yang merangkum seluruh perjalanan buah ini. “Sekarang tengkawang sudah ada nilai ekonomis. Jadi masyarakat tetap menjaga hutan tengkawang.” Barangkali, itulah warisan terbesar yang diberikan tengkawang. Buah yang mengajarkan bahwa hutan tetap dapat memberi kehidupan, selama manusia memilih menjaganya tetap berdiri. (*)
*Artikel ini ditulis sebagai bagian dari kolaborasi Pontinesia dalam Co-Reporting Katadata Green: Menggali Potensi Bioekonomi Kabupaten Sintang untuk Indonesia
Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|