Nadi Bioekonomi di Jemari Perempuan Ensaid Panjang
MENYUSURI BORNEO | Wanita penenun, sejak usia belasan sudah membaktikan diri belajar tradisi turun-temurun ini. Saat ditanya, apakah laki-laki juga diajarkan, "Kalau laki-laki juga diajarkan, nanti perempuan tidak punya jalan lagi buat dapat uang," ucap Milania Libau sambil tertawa kecil. Jawaban itu terdengar seperti gurauan, tetapi sekaligus menggambarkan bagaimana tradisi menenun telah lama menjadi ruang berkarya sekaligus sumber penghidupan bagi perempuan di Rumah Betang Ensaid Panjang. Di rumah betang yang berdiri di tepian Sungai Ketungau, suara alat tenun lebih akrab di tangan para perempuan. Sejak usia belasan tahun, mereka mulai belajar mengenali benang, merangkai motif, hingga memahami makna yang tersimpan di setiap helai kain. Keahlian itu diwariskan dari ibu kepada anak perempuan, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang terus dijaga lintas generasi. Puak Kumbuk, mereka menyebut hasil karyanya. Milania adalah salah satunya. Meski baru mulai belajar menenun pada usia sekitar 20 tahun, perempuan yang kini berusia 51 tahun itu telah menghabiskan lebih dari 30 tahun sebagai penenun. Menurutnya, kini anak-anak perempuan di Ensaid Panjang bahkan sudah mulai diajarkan menenun sejak duduk di bangku SMP. Harapannya sederhana, agar tradisi yang diwariskan leluhur tetap hidup dan terus memiliki penerus. 
Bagi masyarakat Ensaid Panjang, menenun adalah proses panjang yang harus dilalui sebelum benang benar-benar siap dipasang di alat tenun. "Kalau dari proses luaian sampai menjadi kain, bisa sekitar empat bulan," ujarnya. Proses menenun saja sebenarnya hanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Namun sebelum itu, benang harus dipersiapkan, diikat sesuai motif, kemudian melalui proses pewarnaan dan pengeringan yang memakan waktu cukup lama. Benang yang digunakan pun tidak boleh sembarangan. Mereka menggunakan benang katun berukuran 30/2 yang didatangkan dalam kondisi masih berwarna putih. Setelah tiba di Ensaid Panjang, barulah benang tersebut diberi warna sesuai kebutuhan. Pewarna yang digunakan sebagian masih berasal dari alam. Untuk menghasilkan warna cokelat gelap, mereka memanfaatkan kulit kayu lengkar. Warna merah diperoleh dari kulit akar mengkudu. Sementara proses pencuciannya menggunakan air abu yang telah diendapkan hingga bening. Cara-cara tradisional ini membuat proses menjadi lebih panjang, tetapi menghasilkan warna yang khas dan menjadi identitas tenun Ensaid Panjang. 
Dalam satu lembar kain biasanya digunakan tiga hingga empat warna. Tidak semua warna menggunakan bahan alami karena beberapa bahan pewarna alami semakin sulit diperoleh dan harganya relatif mahal. Setiap motif yang dibuat juga memiliki aturan tersendiri. Salah satunya adalah motif manusia, bernilai tinggi yang pernah dipesan khusus oleh seorang kepala pengadilan dengan harga sekitar Rp2 juta. Motif manusia tidak boleh dibuat sembarangan. Menurut Milania, sebelum menenunnya harus ada "makanan" sebagai pelengkap, yaitu motif rebung dan pakis. Bagi masyarakat setempat, setiap motif memiliki makna sehingga penyusunannya harus mengikuti aturan yang diwariskan turun-temurun. Pesanan kain biasanya datang melalui telepon atau media sosial. Calon pembeli cukup mengirimkan foto motif yang diinginkan, kemudian penenun akan mulai mengerjakannya. Tak jarang pesanan datang jauh-jauh hari. Ada pelanggan yang memesan sejak bulan Mei untuk digunakan pada awal Juli, mengingat panjangnya proses pengerjaan. 
Meski begitu, menenun bukanlah pekerjaan utama bagi sebagian besar perempuan di Ensaid Panjang. Aktivitas sehari-hari mereka tetap berkaitan dengan ladang dan sawah. Menenun dilakukan di sela-sela waktu luang sebagai upaya menjaga tradisi sekaligus menambah penghasilan keluarga. Tradisi ini juga berjalan berdampingan dengan adat yang masih dihormati hingga sekarang. Ketika ada warga Rumah Betang yang meninggal dunia, aktivitas menenun dihentikan sementara. Biasanya para penenun tidak bekerja selama empat hari. Namun jika yang berduka adalah penghuni Rumah Betang, masa berhenti menenun dapat berlangsung hingga sekitar satu minggu sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang ditinggalkan. Di balik setiap helai kain tenun Ensaid Panjang, tersimpan garis waktu, kesabaran, pengetahuan tentang alam, serta nilai-nilai adat yang terus dijaga. Apa yang terlihat sebagai selembar kain sebenarnya adalah rangkaian cerita yang ditenun sedikit demi sedikit selama berbulan-bulan. Bagi Milania Libau dan para perempuan Ensaid Panjang, menenun bukan hanya tentang menghasilkan karya. Menenun adalah cara mereka merawat warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. (*)
*Artikel ini ditulis sebagai bagian dari kolaborasi Pontinesia dalam Co-Reporting Katadata Green: Menggali Potensi Bioekonomi Kabupaten Sintang untuk Indonesia
Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|