Sastra di Ruang Publik: Menjadikan Sastra Kalbar Tuan di Rumah Sendiri
19 Februari 2024 |
747 views |
CERITA KOTA | Jika aktivitas membaca kerap jadi kegiatan personal, maka sastra di ruang publik menawarkan pengalaman berbeda. Warung kopi yang biasanya penuh hingar bingar percakapan, berubah jadi alunan cerita pendek yang diperdengarkan. Seakan mengajak berbincang, namun hanya butuh telinga. Karya para penulis Kalbar dibacakan dengan tenang. Intonasinya menyesuaikan alur cerita. Seperti mendengar buku audio, tetapi dengan cerita yang dekat. “Kami berupaya menghantarkan karya-karya sastra kepada khalayak luas. Khususnya karya sastra yang ada di Kalimantan Barat," ujar pegiat Sastra di Ruang Publik, Ahmad Sofian. Sastra di Ruang Publik jadi upaya mengenalkan, mendekatkan dan memahami karya sastra. Khususnya karya-karya sastra Kalimantan Barat kepada masyarakat umum, agar makin tahu Indonesia. Roman dan puisi dibacakan bergiliran. Sembari menyebut nama si pengarang. Warung kopi jadi salah satu ruang publik yang disasar. Ada beberapa alasan. Pertama, agar lebih banyak orang yang mendengar dan mengetahui karya sastra. Kedua, karena kehadiran ruang publik yang terbuka, egaliter dan tanpa tekanan sangat penting dalam meningkatkan kualitas kenyamanan hidup di perkotaan. "Kegiatan-kegiatan budaya dalam ruang ruang-ruang publik di kota merupakan salah satu indikator bahagianya sebuah kota, dengan masyarakat yang ada di dalamnya," katanya. Aming Coffee pun jadi bagian dari perjalanan gerakan tersebut. Mereka menyediakan tempat dan fasilitas pendukung yang nyaman. Mereka, ambil bagian menghilangkan ketidaktahuan siapa saja pengarang dan karyanya dari tanah Borneo. "Kerinduan akan interaksi-interaksi yang dahulu sering dilakukan dan membuat suasana emosional kebersamaan, suasana kekeluargaan sangat terasa," jelas Ahmad Sofian. Walau ada pelajaran mengarang, jarang ditemui sekolah yang informatif tentang sastra Kalimantan Barat. Banyak kalangan yang lebih lebih tahu karya penulis luar. Padahal perjalanan dan karya-karya sastra di Kalimantan Barat tidak kalah. "Informasi menjadi kata kunci," ujarnya. Pembacaan sastra di ruang publik awalnya dilaksanakan setiap hari Jumat sore hingga malam di sejumlah lokasi. Penjadwalan disesuaikan dengan kemampuan. Namun, dalam perkembangannya sangat dinamis. "Tidak tertutup kemungkinan jika ini akan menjadi gerakan yang massif. Pembacaan akan dilakukan setiap hari, setiap saat di berbagai tempat," sebutnya. Ahmad Sofian bercerita, mereka memulai gerakan ini dengan membacakan buku kumpulan cerita pendek Kain Tilam, Demikian Pada Mulanya, Pada Tanah di Kandung Bersama, Akar Punya Andil pada Daun, Hidupku, Edelweis Berkisah, Arus, Kalbar Berimajinasi, Kumpulan Cerita Rakyat Kalantika dan buku lainnya. Tak hanya membaca karya-karya sastra. Di sela-sela pembacaan juga disampaikan informasi singkat biografi sastrawan Kalimantan Barat. Apa dan siapa mereka, dan cerita perjalanan karyanya. Informasi kegiatan mereka dapat diikuti di Instagram @sastradiruangpublik. (*) Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|