Cerita Kota

Singkawang Kota Paling Toleran 2023

31 Januari 2024

684 views

Kontributor :
M. Arief Novrianto
@m.arief.n
Kontributor :
M. Arief Novrianto
@m.arief.n

CERITA LOKAL | Singkawang jadi Kota Paling Toleran se Indonesia berdasarkan Laporan Indeks Kota Toleran 2023 yang dirilis Setara Institut. Diurutan selanjutnya ada Bekasi dan Salatiga. Sementara Sabang, Bandar Lampung dan Palembang adalah tiga kota yang dinilai paling tidak toleran.

Ketua Badan Setara Institute, Ismail Hasani, mengatakan capaian pada 10 kota teratas adalah dampak terpenuhinya tiga aspek kepemimpinan yang dibutuhkan dalam memperkuat ekosistem toleransi di sebuah kota, yaitu kepemimpinan kemasyarakatan, kepemimpinan politik dan kepemimpinan birokrasi.

Sepuluh kota itu adalah Singkawang (6,5), diikuti oleh Bekasi (6,46), Salatiga (6,45), Manado (6,4), Semarang (6,23), Magelang (6,22), Kediri (6,07), Sukabumi (5,99), Kupang (5,95) dan Surakarta (5,8).

“Yang dinilai bukan kinerja wali kota saja. Memang kinerja wali kota paling menentukan, tapi ada kinerja masyarakat, kinerja tokoh-tokoh ulama, tokoh agama sosial dan elemen masyarakat sipil,” kata Ismail Hasani sebagaimana dikutip dari VOA Indonesia, Rabu (31/1/2024).

Indeks Kota Toleransi 2023 menilai 94 kota dari total 98 kota di seluruh Indonesia. Empat kota yang dieliminir adalah kota-kota administrasi di DKI Jakarta yang digabungkan menjadi satu kota yaitu DKI Jakarta. Penggabungan ini dilakukan karena secara administratif dan legal, kota-kota tersebut tidak memiliki kewenangan untuk mengeluarkan peraturan perundang-undangan sehingga tidak valid untuk dinilai secara terpisah.

Dalam laporan tersebut, ditemukan 63 produk hukum baru yang progresif dan menopang ekosistem toleransi di kota-kota, dengan rincian 11 peraturan daerah, 16 peraturan wali kota, 34 peraturan dan keputusan turunan teknis dan 2 rancangan perda yang segera dibahas dan disahkan.

Contohnya Banjarmasin yang memiliki Perda Kota Banjarmasin No.4 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Toleransi Kehidupan Bermasyarakat. Lahirnya sebuah perda menunjukan kolaborasi tiga aspek kepemimpinan toleransi pada level politik, birokrasi dan masyarakat telah bekerja. (*)

Ikuti terus cerita dari Pontinesia untuk makin tahu Indonesia!




Top