Tebiat Kite: Jembatani Akses Budaya bagi Teman Tuli
22 Februari 2025 |
615 views |
CERITA KOTA | Akses terhadap budaya bagi teman tuli masih sangat minim. Berangkat dari keresahan ini, salah satu Bujang Pontianak, Fitrah Rhama Diansyah bersama komunitas West Borneo Deaf Community (WBDC) menginisiasi kegiatan "Tebiat Kite" sebagai ruang tukar budaya antara teman dengar dan teman tuli. Kegiatan ini berlangsung Sabtu (22/2/2025) dengan menghadirkan berbagai sesi edukatif dan interaktif. Kegiatan dimulai dengan sesi pengenalan budaya tuli yang disampaikan langsung oleh komunitas WBDC. Dalam sesi ini, teman tuli berbagi wawasan tentang identitas, budaya, serta tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, peserta juga mendapatkan kesempatan belajar dasar-dasar bahasa isyarat yang dipandu oleh Hesti, salah satu anggota komunitas tuli. Setelah sesi budaya tuli, acara dilanjutkan dengan eksplorasi sejarah kolonialisme di Pontianak yang disampaikan oleh komunitas Kuwas (Komunitas Wisata Sejarah). Materi ini dibawakan oleh Khofifah Nur Rahma yang mengupas jejak kolonialisme serta pengaruhnya terhadap perkembangan Kota Pontianak. Selain pemaparan sejarah, peserta juga dapat menikmati pameran foto tempo dulu yang terselenggara berkat kerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak. 
Fitrah, penggagas kegiatan ini, berharap "Tebiat Kite" dapat membuka ruang bagi teman tuli untuk lebih mengenal sejarah dan budaya lokal. “Kami ingin menciptakan kesempatan bagi teman tuli agar memiliki akses yang lebih luas terhadap budaya dan sejarah kota mereka sendiri,” ujarnya. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran serta memperkuat inklusivitas dalam pelestarian budaya. Dengan adanya "Tebiat Kite" diharapkan semakin banyak komunitas yang terlibat dalam mendukung akses budaya bagi semua orang, tanpa terkecuali. (*) 
Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!
|