Cerita Kota

Harum Dapur Menyambut Raya: Cerita Sederhana dalam Sajian Kue Sagu

19 Maret 2026

59 views

Kontributor :
Dhiah Wiyarsih
@dhivvysh
Kontributor :
Dhiah Wiyarsih
@dhivvysh

CERITA KOTA | Hari kemenangan yang ditunggu telah tiba. Bulan Syawal kembali menyapa Khatulistiwa. Momentum ini tak hanya menjadi penanda berakhirnya Ramadan, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi yang terus bertahan di tengah perubahan zaman.

Berbagai kisah dilewati oleh setiap umat Muslim saat bersiap menyambut hari lebaran. Ribuan manusia mengantre di toko-toko kue, memilih sejumlah kue yang dirasa mampu memeriahkan hari kemenangan.

Nastar selai nanas, bermacam jenis lapis, hingga kerupuk dan camilan asin mulai meninggalkan etalase dan beralih ke kantong belanja para pembeli, sebelum akhirnya tersaji untuk mendampingi silaturahmi berlangsung hangat.

Di sisi lain, ada orang yang lebih memilih untuk berkarya sendiri di dapur rumah mereka. Kartinawati, seorang ibu rumah tangga yang memang hobi memasak, memilih berkutat dengan adonan dan panggangan selama seharian demi mengisi stoples yang kosong. Berbekal modal Rp200.000, kali ini ia memilih untuk membuat kue sagu sederhana.

Umur yang telah melampaui 50 tahun tidak menjadi penghalang baginya untuk terus berkreasi. Kemampuan yang berawal dari hobi justru memberinya kemudahan dalam mengolah dan mengembangkan berbagai jenis kue, termasuk kue sagu. Meski telah memiliki resep yang telah ia kuasai selama bertahun-tahun, Kartinawati tak menutup diri dari perkembangan zaman.

"Saya menggunakan resep sendiri, yang dimodifikasi dengan beberapa resep di YouTube," ujarnya.

Berbekal pengalaman dan kesabaran, ia menghabiskan 2 hingga 3 jam di dapur untuk satu sesi produksi. Sebanyak 1,5 kilogram kue sagu berhasil keluar dari oven dengan sempurna. Meskipun tak sebanyak dan semurah obral di toko kue,  jumlah ini sangat mencukupi untuk menemani keluarganya bersenda gurau saat melepas rindu di hari raya.

Selain kue sagu,  ia juga pernah membuat kue lebaran populer lainnya, seperti nastar, kastengel, dan lidah kucing. Menariknya, meski sudah terbiasa membuat kue lebaran sendiri, Kartinawati berpendapat tak ada salahnya untuk membeli kue saja untuk lebaran tahun berikutnya. Ia mengungkapkan proses pembuatan kue membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, terutama karena bentuk kue yang kecil menuntut ketelitian ekstra.

"Membuat kue sagu itu butuh ketelitian dan kesabaran. Kue sagu baru bisa dibilang berhasil ketika bentuknya bagus, teksturnya renyah dan tidak mudah hancur, dan warnanya tidak terlalu kecokelatan atau hangus," tuturnya.

Baginya, baik membuat sendiri maupun membeli, keduanya tetap bisa memberikan kemeriahan dalam merayakan kehangatan lebaran bersama keluarga. Esensi lebaran tidak diukur dari siapa yang paling lelah di dapur, melainkan tentang seberapa hangat obrolan keluarga saat stoples itu akhirnya dibuka. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top