Cerita Kota

Narasi Manis dan Gurih Hari Raya di Khatulistiwa

19 Maret 2026

57 views

Kontributor :
Dhiah Wiyarsih
@dhivvysh
Kontributor :
Dhiah Wiyarsih
@dhivvysh

CERITA KOTA | Tak lengkap rasanya jika Idulfitri tak dihiasi dengan kue-kue lebaran. Di sela aroma rendang dan opor, terselip wangi mentega dan gula di setiap ruang tamu.

Stoples yang tersusun rapi, menunggu sanak saudara yang hendak mampir untuk melepas rindu.

Manis, asin, kering dan basah, semua tersaji dengan harap bisa membawa kebahagiaan di hari yang suci. 

Bagi setiap warga Pontianak, stoples Lebaran adalah cerminan niat dalam memuliakan tamu.  Namun, di balik barisan stoples yang cantik, benarkah rasa manis masih menjadi penguasa tunggal di meja tamu?

Dan di tengah kepungan toko kue yang kian menjamur, apakah tradisi memanggang sendiri di dapur masih punya tempat di hati warga?

Siapa Mahkota Manis yang Tak Tergoyahkan?

Jika ada 1 kue yang wajib hadir di setiap Idulfitri, sudah pasti Nastar jawabannya. Kesimpulan ini lahir dari berbagai sudut pandang mahasiswi di Pontianak. Mulai dari Tia yang mementingkan suasana meja, Fitri yang masih setia membuat sendiri, Silfi yang mengutamakan kepraktisan, hingga Nina yang lebih memilih camilan gurih. Semuanya sepakat bahwa Nastar adalah penguasa takhta yang tak tergoyahkan.

Kue bulat dengan isian selai nanas ini selalu menjadi pemegang takhta tertinggi dalam silsilah kue lebaran. Agar tak terkesan monoton, ramai orang yang mulai berinovasi untuk membuat nastar dengan variasi berbeda. Mulai dari bentuk nastar yang divariasikan menjadi buah maupun karakter tertentu, hingga isian selai nanas yang diganti dengan cokelat ataupun keju. 

Namun, kenyataannya nastar justru kurang diminati oleh kalangan anak muda. Keempat narasumber memang menempatkan nastar sebagai kue yang wajib ada saat lebaran, tetapi nastar bukan kue favorit mereka. Tia mengakui jika ia lebih suka kue putri salju, dan Silfi juga lebih memilih kastengel dibanding nastar. Hal ini menunjukkan bahwa posisi nastar kini hanya sekadar camilan simbolik untuk menyempurnakan "vibe" hari raya bagi siapa pun yang berkunjung.

Pemberontak di Balik Stoples Manis

Berbeda dengan Tia dan Silfi, dua mahasiswi lainnya lebih mengidolakan kue yang cenderung asin dan gurih. Bagi Nina, deretan kue kering manis sering kali terasa menjemukan. "Saya tidak terlalu menyukai kue kering khas lebaran. Saya lebih tertarik dengan  camilan seperti basreng (bakso goreng), sereal, keripik pisang dan keripik tempe," ujar Nina.

Senada dengan Nina, Fitri juga lebih melirik camilan kekinian seperti basreng yang menawarkan rasa pedas dan renyah. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran selera generasi muda. Interupsi camilan-camilan asin ataupun yang berjenis kerupuk tak serta-merta menggeser popularitas kue kering manis, melainkan menjadi cerminan inovasi yang menambah kepustakaan rasa bagi meja tamu di hari raya. Kehadiran sensasi gurih ini seolah melengkapi narasi manis yang selama ini mendominasi, menciptakan harmoni baru dalam setiap kunyahan silaturahmi.

Pergeseran dari Tungku ke Rak Toko: Efisiensi Modal dan Tenaga

Seperti yang kita tahu, Lebaran selalu identik dengan membuat kue kering ataupun memanggang lapis sendiri. Namun, kini membeli kue di toko dianggap lebih praktis dan efisien. Banyak yang beranggapan jika toko-toko kue sekarang sudah menyediakan kue yang lebih variatif dengan harga yang cukup terjangkau. Kepraktisan ini membuat warga tak perlu lagi berkutat dengan loyang dan panggangan seharian hanya untuk sekadar menikmati kue buatan sendiri.

Menyambut Lebaran tahun ini, keempat mahasiswi ini memiliki suara yang sama—membeli kue dan camilan di toko kue. Meskipun mereka berempat pernah membuat kue sendiri, tahun ini mereka memilih untuk "pensiun dini" dan memutar ke jalan yang lebih pendek dan praktis. Bagi mereka, menghemat energi dan waktu kini menjadi prioritas yang jauh lebih masuk akal daripada harus berlama-lama di depan panggangan.

Baik Silfi, Fitri dan Nina memilih membeli di toko kue yang cukup terkenal seperti Berkah Jaya Snack dan Yunicookies karena menawarkan banyak pilihan dengan harga yang cukup terjangkau. Sementara Tia lebih memilih toko kue di dekat rumahnya karena mengincar suasana yang lebih sepi dan kondusif.

Jumlah kue yang mereka beli juga cukup beragam, tergantung pada estimasi "serbuan" tamu yang akan berkunjung ke rumah masing-masing. Nina, yang lebih menyukai camilan gurih, memilih gaya minimalis dengan hanya menyetok 3 hingga 5 jenis kue. Di tingkat menengah, ada Fitri yang membungkus sekitar 6 hingga 7 varian, disusul oleh Tia yang menyiapkan kurang lebih 8 jenis kudapan untuk mengisi meja tamunya. Sementara itu, Silfi menjadi yang paling "siaga" dengan memborong sekitar 10 jenis kue sekaligus demi memastikan tak ada celah kosong di antara deretan stoples hari rayanya.

Di balik keserasian ini, ada satu perbedaan pendapat antara mereka, yakni terkait harga kue di tahun ini. Baik Tia dan Silfi merasa harga kue tahun ini lebih murah dibandingkan tahun lalu, sehingga mereka memilih untuk membeli lebih banyak jenis kue. "Kalau yang lebih mahal itu tahun kemarin. Kalau tahun ini biasa saja, tidak terlalu mahal," tutur Tia.

Sementara itu, Nina dan Fitri menganggap harga kue tahun ini justru lebih tinggi dibanding tahun kemarin. Meski begitu, Nina dan Fitri tetap memilih jalan praktis dengan membeli jadi, sembari memutar otak untuk mengatur porsi belanjaan agar perayaan tahun ini tetap terasa meriah tanpa harus menguras kantong terlalu dalam. 

Pada akhirnya, setiap stoples yang berjajar di meja-meja tamu adalah cerminan dari penghuninya. Mulai dari kue kering klasik yang melimpah ruah, hingga sekadar camilan gurih yang lebih kekinian, semuanya bermuara pada satu niat tulus, yakni memuliakan siapa pun yang datang mengetuk pintu.

Esensi hari kemenangan di Kota Khatulistiwa ini tidaklah diukur dari seberapa penuh meja atau siapa yang paling lama berkutat di dapur rumah. Sejatinya, Lebaran adalah tentang seberapa hangat obrolan yang mengalir dan seberapa erat silaturahmi yang terjalin, tepat saat tutup-tutup stoples itu mulai dibuka di tengah tawa keluarga. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top