Cerita Kota

Ketika Kanvas Menjadi Ruang Bercerita tentang Kalimantan

25 Juli 2026

57 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | "Sebuah karya seni selesai ketika seniman meletakkan kuasnya." Kalimat itu menggema dari pelantang suara di Rumah Budaya Caping, Pontianak, pada hari terakhir pameran "Kisah-Kisah dari Hulu".

Sejak dibuka pada Jumat, 17 Juli, ratusan pengunjung silih berganti datang menikmati karya-karya yang memenuhi ruang galeri. Namun, di balik setiap kanvas yang tampak selesai, tersimpan perjalanan panjang yang baru mulai diceritakan.

Di sepanjang dinding galeri, 13 seniman menghadirkan beragam potongan kehidupan dari pedalaman Kalimantan Barat. Ada sosok ibu yang tekun menenun, nelayan yang bersiap menuju sungai, hingga lanskap hijau yang selama ini menjadi rumah bagi masyarakat adat.

Bagi pengunjung, lukisan-lukisan itu mungkin hanya menjadi objek yang dinikmati dalam beberapa menit. Namun bagi para senimannya, setiap sapuan warna merupakan hasil dari perjalanan, perjumpaan, dan percakapan yang berlangsung jauh sebelum pameran ini dibuka.

Pameran "Kisah-Kisah dari Hulu" merupakan hasil dari program Art Studies, sebuah inisiatif yang mempertemukan para seniman dengan masyarakat Dusun Lauk Rugun, Kapuas Hulu. Selama empat hari, mereka tinggal bersama warga, makan di rumah-rumah penduduk, mengamati keseharian, hingga mendengarkan cerita yang tumbuh di tengah masyarakat. Pengalaman itulah yang kemudian diterjemahkan menjadi karya seni.

Bagi Dastin, salah seorang seniman yang terlibat, pendekatan tersebut menjadi cara baru memahami persoalan yang dihadapi Kalimantan.

"Kalau bicara organisasi sosial, biasanya orang membayangkan advokasi atau policy brief. Lewat Art Studies, kami justru diajak memahami persoalan itu melalui seni, dengan tinggal langsung bersama masyarakat," ujarnya.

Program tersebut digagas bersama Inaya Kayan, organisasi sosial yang berfokus pada pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, hak masyarakat adat, hak perempuan, serta lingkungan hidup yang sehat. Menurut Dastin, seni dipilih sebagai medium agar isu-isu tersebut dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat dan mudah dipahami.

Kapuas Hulu sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Kawasan di hulu Kalimantan Barat itu masih menyimpan bentang alam yang relatif lestari sekaligus menjadi ruang hidup masyarakat adat yang terus menjaga tradisi mereka.

Selama berada di Dusun Lauk Rugun, Dastin banyak berbincang dengan warga seusianya. Dari percakapan-percakapan sederhana itulah ia menemukan satu benang merah yang terus muncul: hubungan erat antara perempuan, alam, dan tradisi menenun.

Benang-benang yang digunakan berasal dari alam. Proses pembuatannya dilakukan oleh perempuan. Sementara motif-motifnya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketiganya saling terhubung dan membentuk identitas masyarakat Dayak Iban.

Harapan Dastin sederhana. Ia ingin pameran ini menjadi ruang edukasi sekaligus ruang berbagi cerita.

"Semoga orang-orang bisa memahami apa yang terjadi di hulu Kalimantan Barat. Kalau ada masyarakat yang memang berasal dari sana, mereka juga bisa ikut bercerita. Jadi bukan hanya kami yang datang ke sana."

Tidak semua cerita dalam pameran ini lahir dari pengalaman yang disaksikan secara langsung. Syech Nauval Salsabil Saman justru menghadapi tantangan yang berbeda.

Sejak 2024, ia menyimpan keinginan besar untuk menjelajahi pedalaman Kalimantan. Kesempatan itu akhirnya datang melalui program Art Studies. “Aku benar-benar ingin ikut. Dari tahun lalu aku sudah ingin sekali masuk ke pedalaman Kalimantan. Tapi karena sakit, akhirnya tidak bisa berangkat bersama teman-teman.”

Bagi seorang seniman, kehilangan kesempatan melakukan observasi langsung tentu bukan perkara mudah. Ia tidak melihat sendiri bagaimana masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari. Tidak mendengar suara sungai, tidak menyaksikan aktivitas para penenun, bahkan tidak merasakan suasana desa yang menjadi sumber inspirasi pameran ini.

Namun keterbatasan itu tidak menghentikan proses berkaryanya. Ia memanfaatkan catatan lapangan, foto-foto dokumentasi, hingga cerita yang dibawa pulang oleh rekan-rekannya.

“Aku memanfaatkan catatan-catatan dan dokumentasi teman-teman sebagai dasar komposisi sekaligus pemaknaan karya.”

Dari sanalah proses panjang dimulai. Ia menyusun sketsa berdasarkan berbagai referensi tersebut. Setelah komposisi dianggap matang, ia mengajak beberapa temannya menjadi model untuk sesi pemotretan di Pontianak. Setiap gerakan tubuh, ekspresi wajah, hingga posisi tangan diamati kembali agar mampu menghadirkan suasana yang sedekat mungkin dengan kehidupan di Lauk Rugun.

Proses teknisnya pun tidak sederhana. Sketsa terlebih dahulu dibuat di atas lembaran kertas berukuran besar, lalu dipindahkan ke kanvas menggunakan kertas karbon. Cara itu dipilih agar permukaan kanvas tetap bersih tanpa bekas penghapusan pensil. Kesabaran tersebut melahirkan karya berjudul “Dalam Alunan Alam.”

Lukisan itu menjadi catatan visual tentang kehidupan masyarakat Dayak Iban di Desa Lauk Rugun. Berbagai aktivitas sehari-hari dirangkai dalam satu komposisi vertikal yang padat: jemari yang tekun menenun, kain tenun yang dikenakan dengan bangga, nelayan yang bersiap ke sungai, hingga seseorang yang baru selesai menyelam. Seluruh figur saling bertumpuk, menghadirkan harmoni yang menggambarkan kehidupan masyarakat sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Sementara itu, Golden Lee memilih menghadirkan satu momen yang sederhana, tetapi begitu kuat maknanya.

Melalui karya "Indai Betenun Dini Ari", ia melukiskan seorang ibu Dayak Iban yang sedang menenun seperti aktivitas yang dilakukan setiap hari di Desa Lauk Rugun. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada peristiwa besar. Hanya seorang perempuan yang duduk tekun di depan alat tenunnya.

Namun justru dari kesederhanaan itulah Golden ingin memperlihatkan bahwa menenun merupakan tradisi yang diwariskan turun-temurun dan dijaga dengan penuh penghormatan.

Setiap motif memiliki makna. Setiap tahapan memiliki aturan. Tidak semuanya dapat dikerjakan sembarangan. Bagi masyarakat Dayak Iban, menenun bukan sekadar menghasilkan sehelai kain, melainkan merawat pengetahuan dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Empat hari di Dusun Lauk Rugun telah berakhir. Sapuan kuas para seniman pun telah usai. Namun melalui pameran "Kisah-Kisah dari Hulu", cerita itu terus hidup.

Di balik setiap lukisan, tersimpan wajah-wajah masyarakat yang menjaga tradisi, perempuan-perempuan yang merajut benang menjadi warisan budaya, serta alam yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.

Mungkin benar bahwa sebuah karya seni selesai ketika seniman meletakkan kuasnya. Tetapi di Rumah Budaya Caping, justru pada saat itulah kisah-kisah dari hulu mulai menemukan para pendengarnya. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top