Cerita Kota

Membaca Kota Lewat Sebuah Logo

30 Oktober 2026

66 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

Merayakan Pontianak dan Orang-orang di Dalamnya

CERITA KOTA | Merayakan kota berarti merayakan orang-orang yang membentuknya. Mereka yang beradaptasi dengan alam, hidup berdampingan dalam keberagaman, dan terus menemukan cara untuk tumbuh bersama di kota Khatulistiwa.

Semangat tersebut mengemuka dalam diskusi Membaca Kota Lewat Sebuah Logo yang diselenggarakan Remote Worker Pontianak pada Minggu (18/10/2026). Kegiatan ini menghadirkan Gusti Fakhri, pemenang sayembara logo Hari Jadi ke-255 Pontianak, Ridho Brilliantoro dari Pontinesia, serta Masjek, seorang perancang grafis, untuk membahas hubungan antara desain, identitas kota, dan masyarakat.

Berawal dari Gagasan Merayakan Kota

Gagasan merayakan hari jadi Pontianak melalui logo berangkat dari pengamatan Bang Ridho dan kawan-kawan terhadap kota-kota lain yang menggunakan identitas visual khusus dalam perayaan hari jadinya. Pontinesia kemudian menginisiasi “Merayakan Khatulistiwa”, sebuah gerakan yang dimulai pada 2022.

Bagi Bang Ridho, gagasan karya kreatif perlu disertai kerja sama dengan pihak yang memiliki kewenangan dalam hal regulasi publikasi agar distribusi masif dapat diwujudkan.

Pada awalnya, logo hari jadi dibuat secara langsung. Perubahan visual mulai terlihat pada perayaan Hari Jadi ke-252 Pontianak, ketika Pontinesia secara swadaya mengadakan sayembara logo. Di tahun selanjutnya, Pemkot Pontianak melanjutkan kolaborasi sayembara logo ini. Seiring waktu, pendekatan visualnya turut berkembang, relevan, dan semakin dekat dengan karakter kota, juga konsep kreatifnya.

Memasuki perayaan ke-255, logo Pontianak mendapat perhatian lebih luas. Bagi Bang Ridho, salah satu tujuan dari inisiatif ini adalah menjadikan logo sebagai bahan percakapan warga.

“Tujuan paling sederhana adalah bagaimana identitas visual Pontianak ini dapat menjadi perbincangan warga," ungkapnya.

Perjalanan sayembara tersebut kemudian membawa perhatian pada sosok di balik logo Hari Jadi ke-255 Pontianak. Terpilihnya karya Gusti Fakhri dan Tommy Anggara menjadi awal dari cerita lain: bagaimana sebuah kota diterjemahkan ke dalam bentuk visual, dan pesan apa yang ingin disampaikan melalui logo tersebut.

Merancang Logo yang Mudah Dipahami

Bagi Gusti, proses merancang logo dimulai dari memahami pesan yang perlu disampaikan. Ia memilih pendekatan yang sederhana agar gagasan di dalamnya dapat dipahami dengan cepat.

“Logo bukan tentang apa yang ingin desainer gambarkan, tapi tentang apa yang perlu dikomunikasikan,” ujar Gusti.

Prinsip tersebut menjadi pertimbangannya dalam merancang logo Hari Jadi ke-255 Pontianak. Ia tidak ingin identitas visual kota terasa terlalu kaku atau lekat dengan citra pemerintahan pada umumnya. Baginya, logo hari jadi semestinya merepresentasikan orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Gagasan itu diterjemahkan melalui tiga fondasi identitas visual, yakni tangguh, bersahaba, dan temuan.

Nilai tangguh menggambarkan kemampuan masyarakat beradaptasi dengan lingkungan Pontianak yang dipengaruhi rawa, gambut, serta pasang surut sungai. Bersahabat merepresentasikan masyarakat dengan latar belakang beragam yang hidup berdampingan. Sementara itu, temuan menggambarkan Pontianak sebagai ruang pertemuan, baik secara geografis maupun sosial.

Salah satu titik awal eksplorasi desainnya adalah bentuk peta Kota Pontianak yang menyerupai kepalan tangan. Bentuk ini menghubungkan representasi wilayah dengan simbol kekuatan dan kebersamaan. Bersama Tommy, Gusti juga menggagas gerakan “Kite Jage Kite” sebagai ajakan untuk saling menjaga.

Membuka Ruang bagi Kreator Lokal

Di balik proses sayembara logo Hari Jadi ke-255 Pontianak, ada peran Mas Jek yang turut membantu menyiapkan proses seleksi dan pendampingan peserta. Ia terlibat dalam merekomendasikan mentor desain serta narasumber untuk membekali peserta selama proses perancangan logo berlangsung.

Hal ini menjadi salah satu pembeda sayembara tahun ini. Peserta tidak hanya mengirimkan karya untuk dinilai, tetapi juga melalui proses seleksi dan dipertemukan dalam ruang belajar bersama para mentor.

Sebanyak 16 tim terpilih mengikuti lokakarya yang membahas riset, penulisan, mind mapping, dan pengembangan konsep. Mereka kemudian mendapat pendampingan sebelum karya dikurasi menjadi lima finalis yang mempresentasikan gagasannya kepada dewan juri.

Proses ini memberi penekanan pada gagasan di balik desain, bukan semata-mata keterampilan teknis menggunakan perangkat lunak. Peserta didorong untuk memahami identitas kota dan mengolahnya menjadi konsep visual yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dari proses tersebut, karya Gusti dan Tommy akhirnya terpilih sebagai logo Hari Jadi ke-255 Pontianak. Sayembara ini pun menjadi ruang bagi kreator lokal untuk mengembangkan kemampuan sekaligus berkontribusi dalam membentuk identitas visual kota.

Perjalanan logo hari jadi Pontianak memperlihatkan bagaimana sebuah inisiatif dapat berkembang melalui kolaborasi dan partisipasi kreator lokal.

Pada akhirnya, membaca kota lewat sebuah logo berarti melihat lebih jauh dari bentuk dan warna: memahami karakter lingkungan, keberagaman masyarakat, dan semangat warga untuk terus menjaga Pontianak bersama-sama. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top