Cerita Kota

Mengapa Sungai Kita Berubah Hijau

2 Oktober 2026

93 views

Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a
Kontributor :
Katekuchan
@arasyahh.a

CERITA KOTA | Hijau seluas mata memandang, lanskap tak biasa di Sungai Landak, Kota Pontianak, belakangan menarik perhatian warga. Permukaan sungai yang biasanya memantulkan warna langit dan membawa rona cokelat khas aliran air, kini tampak kehijauan. Warna itu terutama terlihat ketika matahari mulai meninggi, membuat bentang sungai seolah berubah menjadi hamparan hijau yang tak biasa.

Perubahan tersebut mulai diperhatikan warga pada 28 September. Faturrahim (63), warga yang tinggal di sekitar sungai, mengaku baru pertama kali melihat kondisi air seperti ini.

Menurut pengamatannya, warna hijau belum terlalu terlihat pada pagi hari. Namun, menjelang siang hingga sore, perubahan warna semakin jelas.

“Kalau pagi belum terlalu kelihatan hijaunya. Mulai siang sampai sore baru kelihatan,” ujarnya.

Bukan hanya warna yang terasa berbeda. Faturrahim juga mengatakan air sungai memiliki rasa yang cenderung asing, seperti asin atau payau.

Perubahan itu hadir ketika Kalimantan Barat sedang menghadapi kemarau panjang. Debit air sungai menurun dan aliran dari wilayah hulu menjadi lebih kecil. Di tengah kondisi tersebut, warna hijau yang terbentang di permukaan Sungai Landak kemudian memunculkan pertanyaan tentang apa yang sedang terjadi di dalam air.

Dosen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura, Riyandi, S.Si., M.Si., mengatakan perubahan warna air sungai dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah perubahan tingkat kekeruhan dan material tersuspensi di dalam air.

Sungai Kapuas dan anak sungainya, termasuk Sungai Landak, umumnya memiliki tingkat kekeruhan yang cukup tinggi. Material dari bagian hulu ikut terbawa oleh aliran sungai. Namun ketika kemarau ekstrem menyebabkan debit air menurun, masukan sedimen dari hulu juga dapat berkurang.

Air yang menjadi lebih jernih kemudian membuat warna dari biota perairan, termasuk fitoplankton, lebih mudah terlihat.

“Jernihnya air dapat menyebabkan warna hijau dari biota perairan seperti fitoplankton menjadi lebih terlihat,” jelas Riyandi.

Namun, kejernihan air bukan satu-satunya kemungkinan.

Wilayah Sungai Landak yang berada di bagian hilir juga memungkinkan terjadinya pengaruh pasang-surut dan intrusi air laut. Ketika debit air tawar dari hulu melemah, dorongan aliran sungai terhadap air laut ikut berkurang. Akibatnya, air laut dapat masuk lebih jauh ke arah hulu.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan salinitas atau kadar garam di dalam air. Fenomena serupa juga dapat dirasakan melalui air yang menjadi payau, sebagaimana yang dirasakan Faturrahim.

Kemungkinan lain datang dari meningkatnya jumlah fitoplankton atau alga di dalam air.

Menurut Riyandi, pertumbuhan alga dapat meningkat pesat atau mengalami blooming ketika sejumlah kondisi terpenuhi. Cahaya matahari yang cukup, suhu yang sesuai, ketersediaan nutrien, serta arus air yang lebih lambat pada musim kemarau dapat menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan fitoplankton.

Pigmen klorofil-a yang terdapat pada fitoplankton juga dapat memberikan warna hijau pada badan air.

Meski demikian, warna hijau yang terlihat di permukaan belum dapat menjadi bukti bahwa telah terjadi blooming alga. Begitu pula rasa payau belum cukup untuk memastikan bahwa perubahan tersebut disebabkan oleh intrusi air laut.

“Secara umum ada dua dugaan utama yaitu intrusi air laut dan ledakan alga, dan keduanya juga bisa terjadi bersamaan. Namun untuk memastikannya kami butuh data lapangan untuk diuji di laboratorium,” kata Riyandi.

Menurutnya, perubahan warna memang menunjukkan adanya perubahan kondisi perairan. Namun, warna air saja tidak cukup untuk menentukan apakah kualitas air masih baik atau justru mengalami penurunan.

Jika penyebabnya adalah intrusi air laut, beberapa parameter seperti salinitas, daya hantar listrik, dan kadar klorida dapat mengalami peningkatan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kelayakan air sebagai sumber air baku, meskipun tidak secara otomatis berarti air tersebut tercemar.

Sementara apabila terjadi blooming alga, perubahan kualitas air dapat terjadi melalui perubahan kadar oksigen terlarut dan pH. Ketika jumlah alga terlalu banyak, aktivitas fotosintesis dan respirasi dapat memengaruhi kadar oksigen di dalam air. Alga yang kemudian mati dan membusuk juga dapat menambah beban organik dan semakin mengurangi oksigen terlarut.

Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap kehidupan di dalam sungai. Ikan dan organisme air lainnya dapat mengalami tekanan ketika kondisi lingkungan berubah. Jika intrusi air laut terjadi, perubahan salinitas juga dapat menggeser komposisi organisme yang hidup di dalamnya. Spesies air tawar dapat tertekan, sementara organisme yang lebih toleran terhadap air payau dapat bertahan lebih baik.

Dampaknya juga dapat dirasakan masyarakat yang bergantung pada sungai.

Sungai Kapuas merupakan salah satu sumber air baku bagi PDAM Pontianak. Perubahan kondisi air dapat membuat proses pengolahan menjadi lebih kompleks. Jika kadar garam meningkat akibat intrusi, air baku juga dapat mengalami perubahan rasa dan karakteristik yang perlu ditangani dalam proses pengolahan.

Karena itu, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Riyandi menilai pemeriksaan perlu dilakukan secara menyeluruh. Pengambilan sampel tidak cukup hanya dilakukan di satu lokasi atau satu waktu, melainkan perlu dilakukan secara spasial dan temporal agar perubahan kondisi perairan dapat tergambarkan dengan lebih baik.

Sejumlah parameter dapat diperiksa, mulai dari salinitas atau daya hantar listrik, suhu, pH, oksigen terlarut, kekeruhan, transparansi air, hingga kandungan nitrit, amonia, dan fosfat. Selain itu, pengambilan sampel plankton juga diperlukan untuk melihat apakah terjadi blooming alga sekaligus mengetahui jenis organisme yang mendominasi perairan.

Dengan begitu, warna hijau yang membentang di Sungai Landak belum dapat dibaca hanya dari apa yang tampak di permukaan. Ia mungkin merupakan warna fitoplankton yang menjadi lebih jelas karena air lebih jernih. Ia mungkin berkaitan dengan pertumbuhan alga yang meningkat. Atau, perubahan kondisi air dapat berlangsung bersamaan dengan masuknya air laut ke wilayah sungai.

Untuk sementara, Sungai Landak menyimpan jawabannya di bawah permukaan. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top