Cerita Kota

Rumpun Borneo Bersua dalam Seni Rupa

6 September 2026

55 views

Kontributor :
Mia Islamidewi
@miaislmdw
Kontributor :
Mia Islamidewi
@miaislmdw

CERITA KOTA | Borneo adalah ruang tinggal bagi tiga negara: Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Ketiganya berbagi tanah, budaya, serta kondisi ekologis yang cenderung senada, terjalin dalam ingatan panjang yang sama.

Di bawah langit Pontianak yang belakangan abu-abu, Art Borneo membangun ruang dan menyerukan ajakan untuk mengingat kembali makna rumah. Sabtu (5/9), pembukaan pameran seni Art Borneo 2026 “Khalayak: Arketipal Primordial” resmi digelar di Pontianak.

Gelaran ini hadir untuk menghubungkan kembali keterikatan antara manusia yang menempati ruang yang sama, berdampingan dengan alam di sekitarnya. Bersamaan dengan kabut asap yang masih tebal menyelimuti langit Kalimantan, Art Borneo 2026 mengambil peran sebagai pengingat.

Kebakaran hutan dan lahan, asap, perubahan bentang alam, serta berbagai tekanan terhadap ekosistem menunjukkan bahwa persoalan ekologis kini menjadi bagian nyata dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Pertanyaan tentang hutan, sungai, serta ingatan kolektif pun terasa begitu dekat dengan keseharian kita. Mengusung tema besar Ekologi Sosial, Memori, dan Identitas, Art Borneo tahun ini mempertemukan seniman dan komunitas dari tiga negara serumpun dalam satu ruang perenungan bersama.

Pameran ini menjadi upaya menelusuri kembali akar yang menyatukan masyarakat Borneo—tanah, air, hutan, dan leluhur yang sama—jauh melampaui sekadar pertemuan lewat lintas batas negara.

Bagi Art Borneo, tanah Kalimantan adalah satu ruang hidup yang saling terhubung, tempat sungai mengalir dan cerita leluhur diwariskan, melampaui garis batas administratif yang membelah tiga negara serumpun ini.

Kurator Art Borneo 2026, M. Faozi Yunanda, melihat persoalan ekologis tidak dapat dilepaskan dari soal ingatan dan identitas, sebab kerusakan lingkungan turut mengikis pengetahuan yang selama ini hidup di dalamnya—pengetahuan tentang bagaimana manusia semestinya hidup berdampingan dengan alam.

Dari sanalah gagasan “arketipal primordial” berangkat, sebagai ingatan yang masih hidup dan terus dirawat dalam hubungan manusia dengan tanah, hutan, dan ruang sosialnya hari ini.

Sebelum karya-karya itu berdiri di ruang pamer, ada perjalanan panjang yang menyertainya. Program Residensi Art Borneo dimulai dari inkubasi daring pada 23–31 Juli 2026, sebelum para seniman menginjakkan kaki langsung di tiga kabupaten Kalimantan Barat: Sanggau, Sintang, dan Kapuas Hulu pada 8–20 Agustus 2026.

Di sana, seniman lintas pulau dan negara belajar mendengar langsung suara dari rimba, menyimak tutur para tetua, serta menyentuh tanah dan riak air yang sama dengan yang dihidupi masyarakat setempat, sebelum akhirnya membawa pulang perjumpaan hangat itu ke Pontianak sebagai karya yang lahir dari rasa, dialektika, dan dialog jiwa bersama warga.

Perjalanan ini mempertemukan nama-nama dari berbagai penjuru: Vickram Sombu (Kupang), Ilham (Bali), Annisa Faradilla (Bandung), Catrine (Jakarta), M. Fariz dan Catur (Yogyakarta), serta Gandez (Tulungagung). Dari Kalimantan Barat sendiri, hadir Ozi (Bengkayang), Mara (Singkawang), Nauval dan Arif (Pontianak), serta Jonet (Sanggau). Latar belakang yang berbeda-beda ini justru menjadi ruang belajar bersama, cerminan kecil dari semangat besar Art Borneo untuk merajut kembali jejaring seni Borneo yang melampaui lintas batas dalam peta.

Direktur Art Borneo, Annisa Fitri Yusuf, menegaskan bahwa gelaran tahun ini hadir sebagai ruang untuk berhenti sejenak, mengingat, dan saling menguatkan, di tengah kondisi ekologis yang dirasakan bersama. Proses residensi sengaja dirancang agar para seniman benar-benar terlibat langsung: bertemu masyarakat, melihat lanskap, mendengar cerita, dan berhadapan dengan persoalan serta pengetahuan lokal.

Karya-karya tersebut kemudian tumbuh dan kembali hadir di Pontianak melalui pameran yang diselenggarakan oleh Kolektif Emehdeyeh dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Manajemen Talenta Nasional, Festival Lestari, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat.

Pameran ini terbuka untuk umum mulai 6 hingga 16 September 2026, pukul 13.00–22.00 WIB, di Gedung Aula Dekranasda Kalimantan Barat, Pontianak, dengan tiket masuk seharga Rp15.000 untuk mahasiswa dan Rp25.000 untuk umum. Datang saja sejenak, susuri lorong karyanya, dan biarkan diri singgah pada cerita-cerita yang dibawa pulang para seniman dari Sanggau, Sintang, hingga Kapuas Hulu.

Sebab pada akhirnya, dari Borneo, kita semua saling terhubung, lewat tanah yang sama, sungai yang sama, dan ingatan yang terus dijaga agar tak lekang oleh asap maupun waktu. (*)

Ikuti terus cerita Pontinesia, dari Pontianak makin tahu Indonesia!




Top