Cerita Kota

Andi 'Daeng' Fachrizal: Nalar Rimbun dari Seberang

Minggu, 27 Maret 2023

801 views

Kontributor :
Kristiawan Balasa
@balasajr
Kontributor :
Kristiawan Balasa
@balasajr

"Saya percaya pada matahari, meski dia tak terbit. Saya percaya Tuhan, walau Dia tidak tampak." Tulisan itu berasal dari sebuah grafiti di jalanan Rusia. Saya melihatnya di internet. Kalimat itulah yang membuat saya semakin yakin menekuni greenjobs. Semua bermula dari tuntutan ekonomi saat saya masih kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Kurang lebih lima kilometer jaraknya dari tanah kelahiran saya di Bira, Kabupaten Bulukumba. Memang tak ada hubungannya sama sekali dengan profesi sekarang, tapi begitulah hidup, kan? Saya menulis cerpen, puisi dan cerita bersambung, dan mencoba peruntungan ke media-media yang menyediakan kolom sastra. Kadang dimuat, kadang anyap. Namun ketika lolos, uangnya lumayan untuk jajan. Hingga akhirnya saya bergabung dengan surat kabar kampus PROFESI dan dari sanalah semesta jaringan bekerja. Sudah jadi rahasia umum, bagaimana kaderisasi jurnalis. Salah satunya berasal dari lembaga pers mahasiswa. Para senior yang masuk dapur redaksi media, akan mencari bibit dari pers mahasiswa tempat dia menjadi alumni. Hal itu pula yang saya alami. Menjadi freelancer journalist dan menulis di sana-sini. Sekali waktu, tulisan saya lolos di Majalah Ummat—salah satu lini bisnis Republika. Duitnya lumayan. Akses ke media lain pun meluas. Namun, setelah lulus kuliah tahun 1997, saya merasa tidak akan berkembang jika tetap berada di Makassar. Merantau ke Semarang, Jawa Tengah adalah pilihan paling masuk akal. Tetap menjadi freelancer journalist, saya menulis beragam topik. Sebagian besar soal politik. Saya merasa Tuhan memilih jari saya untuk menitahkan hal-hal berbau kekuasaan. Ketika kerusuhan Sambas pecah tahun 1998, saya mengusulkan ke salah satu editor jaringan untuk meliput. Saya tak punya beban. Waktunya tualang. Usulan disetujui. Biaya ditanggung penuh. Ternyata, Kalimantan Barat sangat menantang. Di Jawa, berita berasal dari isu-isu komunitas urban. Sedang di Kalimantan, tantangan ada dari hulu sampai hilir. Apalagi dengan persoalan sosial dan Indeks Pembangunan Manusia yang rendah, pascapembantaian Jepang yang dikenal dengan tragedi Mandor. Saya memilih menetap. Air Kapuas sudah mengalir dalam tubuh. Setahun di Kalbar, saya berkenalan dengan Oesman Sapta Odang. Seorang pengusaha cum politikus kawakan. Saat itu, dia ingin mendirikan media. Namanya Harian Suaka. Isu politik porsi utama. Dua tahun mengudara, Suaka gulung tikar. Beberapa rekan hijrah ke media nasional. Saya telanjur jatuh cinta dengan Kalbar. Kembali jadi freelancer journalist. Hingga tahun 2007, Sapariah Saturi—mantan rekan di Harian Suaka, menelepon. Dia menawari posisi koresponden Jurnal Nasional—media yang berpusat di Jakarta—di Kalbar. Namanya terdengar keren. Lantaran ada kata ‘jurnal’, awalnya saya pikir akan lebih banyak memuat hal-hal ilmiah. Namun ternyata, isu politik tetap jadi menu utama. Tak masalah. Jiwa politik sudah lama tidur dan dari sana saya banyak belajar. Akan tetapi, si anak nakal dalam kepala belum kalem juga. Politik adalah perebutan kekuasaan. Salah satunya kekuasaan atas sumber daya alam. Isu yang jarang sampai ke telinga nasional. Sekali waktu, saya menuliskan profil World Wide Fund fot Nature (WWF) Indonesia beserta keberhasilan progam mereka di Kalbar. Sempat berpikir tak bakal dimuat, ternyata berita itu justru meledak. Oplah koran naik. Perusahaan senang. Saya juga tidak tahu, saya cuma menulis, kata saya ketika orang-orang di Jakarta bertanya mengapa cerita itu menarik perhatian pembaca. Mereka akhirnya melirik dan memberi kebijakan khusus: saya diberi ruang untuk dekat dengan WWF Indonesia. Pintu itulah yang buat saya masuk dan akhirnya menceburkan diri ke isu lingkungan. Kenapa saya harus melakukan itu? Supaya tulisan memiliki roh, saya harus ke tapak. Tidak bisa hanya duduk di kota. Isu lingkungan ada di pedalaman dan biayanya sangat tinggi. Saya tidak punya uang. Belum tentu semua bisa ditanggung kantor. Tak ada cara lain selain nebeng dengan lembaga swadaya masyarakat. Kesempatan menembus jantung Kalimantan bersama WWF Indonesia tentu tak boleh disiakan. Mereka tidak membayar saya dan itu bukan masalah. Saya bilang tak apa, sebab tugas saya adalah menulis dan kantor membayarnya. Dari sana, saya banyak belajar, bagaimana teknologi alam bekerja, mengenali satwa yang memang jadi ketertarikan. Saya suka orang utan. Butuh sepuluh tahun untuk bertemu mereka di habitat aslinya. Saya juga banyak belajar dengan warga lokal, bagaimana mereka selaras dengan alam. Isu lingkungan membawa saya pada banyak perjumpaan, pengetahuan, dan mimpi. Nasib baik seperti ekor yang membuntuti, walau di jalanan bertemu dengan aral yang tidak hanya melintang, tapi juga menutupi. Setelah lima tahun di Jurnal Nasional, saya pindah ke Mangobay Indonesia. Tak ada halangan ketika bergabung, kami memiliki napas yang sama. Mimpi Dirigen Hijau Pergi ke dalam kanopi hijau tebal tanpa sinyal, bermain di pantai dan laut lepas, dan menulis, mungkin terdengar seperti liburan. Namun pertemuan dengan manusia di tapak dan permasalahan mereka, membuat saya punya mimpi lain. Jangan terburu bertanya mimpi apa itu. Biar saya ceritakan perlahan. Saya percaya, tulisan yang baik adalah tulisan yang menggerakkan. Namun jika hanya menulis saja, semua orang bisa menulis, apa bedanya dengan makan? Tetapi bahwa kita bisa menulis yang baik dan berkualitas, itulah nilai seorang jurnalis. Saya sudah mengukur, menulis tidak akan cukup. Oleh karenanya, saya terlibat dalam advokasi masyarakat. Mulai dari kajian dan pemetaan wilayah, hingga jadi konsultan komunikasi. Saya juga editor buku, dan pemimpin produksi film dokumenter. Semuanya bertemakan lingkungan. Greenjobs istilahnya sekarang. Saya jatuh cinta dan tak bisa jauh dari mereka. Cinta itu pula yang menghidupi keluarga kecil di rumah; seorang istri dan dua buah hati yang selalu tersenyum ketika saya tak jadi masuk hutan. Isu lingkungan ternyata jadi populer dan tantangan semakin tinggi. Tidak cukup hanya dengan mengenali hutan dan ekosistem di dalam. Ada tantangan besar dan perlu langkah strategis agar apa yang selama ini kita—orang Kalbar—banggakan, bisa dipertahankan. Tak ada pilihan kecuali menginisiasi aksi yang lebih inklusif. Saya gandeng teman-teman yang sebelumnya jauh dari isu lingkungan. Sebagian besar anak kriminal—istilah di kalangan jurnalis untuk mereka yang liputan desk kriminal. Saya seret dengan iming-iming jalan-jalan. Ke kampung, hutan, dan pantai. Perlahan, paradigma berpikir mereka goyah. Murtad, dan akhirnya beriman kepada isu lingkungan. Geger Batas Negeri Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kecintaan dan takdir membawa saya pada jurnalistik dan advokasi. Salah satu yang berkesan, ketika bikin geger batas negeri. Ketika itu, saya terlibat sebagai tim kajian ekonomi sosial dan lingkungan terkait rencana program pelestarian penyu di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas oleh WWF Indonesia. Saya mewawancarai polisi. Membaca tren data kejahatan dan jenisnya. Kantor desa juga dikunjungi untuk melihat mata pencarian dominan warga. Sebagian besar nelayan. Rerata, kejahatan yang terjadi adalah pencurian. Maling ayam bahkan sandal tetangga. Artinya, pelaku bukan ingin kaya, sekadar cari makan. Tren meningkat di bulan-bulan ketika badai mengamuk di laut. Urusan perut untuk hari esok jadi masalah utama. Saya merekomendasikan mengarusutamakan ekonomi masyarakat. Minimal pendapatan alternatif. Awalnya, rekomendasi ditolak lantaran program masuk untuk pelestarian penyu. Tak boleh ada pencurian telur. Ini bahaya, karena masyarakat langsung dilarang. Padahal sumber masalahnya ada di masyarakat, bukan penyu. Saya yakin, jika urusan perut masyarakat selesai, penyu pun selamat. Dan terbukti, muncul penolakan sampai perkelahian. Energi terkuras untuk hal-hal di luar substansi. Akhirnya, strategi dibalik. Warga diajarkan membuat kriya berbahan alam, dan pelatihan budidaya madu kelulut. Tren maling penyu mulai melandai. Empat tahun kemudian, angkanya nol persen. Budidaya madu kelulut dilakukan di tepi pantai. Petani madu inilah yang tiap hari bolak-balik dan secara tidak langsung menjaga telur-telur penyu. Masalah lain muncul. Dari 63 kilometer garis pantai sebagai ladang peneluran penyu, 14 kilometer di antaranya adalah ladang paling efektif. Akan tetapi pesisir itu pula yang jadi jalur lalu lintas penduduk. Lantaran masuk kawasan lindung, jalan tak boleh dibangun. Untuk ke Liku, ibukota Kecamatan Paloh, warga perbatasan Indonesia-Malaysia itu harus menunggu air surut. Tidak ada pilihan lain selain membangun jalan. Orang-orang pesimis. Sulit mengubah status kawasan. Selain itu, opsi tersebut dianggap merugikan hutan. Argumentasi saya, itu sedikit kerusakan untuk kebaikan. Lagi-lagi, usul saya jadi pertentangan. Dalam proses alot itu, tren maling telur muncul. Pelakunya adalah para pelintas. Telur-telur dijual ke Malaysia. Selang waktu sembari mengatur strategi, saya dapat informasi dokumen rahasia. Peta perbatasan yang menunjukkan Malaysia mencaplok kawasan Indonesia. Dusun Camar Bulan, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Setelah gedor pintu sana-sini mencari dukungan liputan sebab biaya ke lapangan yang mahal, akhirnya semua selesai. Judul beritanya, “Malaysia Caplok Camar Bulan”. Berita itu menarik perhatian banyak orang, termasuk pemerintah pusat. Di saat menuliskankan itu, saya tidak berpikir untuk memberitakannya sendiri di Jurnal Nasional. Saya kirim informasi dan data akurat ke kawan-kawan jaringan media lain. Jadilah headline seragam media lokal dan nasional tanggal 10 Oktober 2011. Setelahnya, saya dipanggil Kodam XII Tanjungpura, Mayjen TNI Geerhan Lantara. Dia orang Makassar juga. Sumber data dipertanyakan. Saya jawab, saya wartawan dan harus dapat datanya. Dia bilang tidak ada yang bergeser. Akhirnya, semua tim turun. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono—presiden Republik Indonesia saat itu—mengawal isu ini. Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Menteri Pekerjaan Umum DJoko Kirmanto, dan Menko Kesra Agung Laksono turun langsung ke lokasi. Sebelum kedatangan mereka, saya dipanggil Menteri Agung Laksono. Bersama seorang rekan wartawan Kompas, kami bicara di Ruang VIP Bandara Supadio, Pontianak. Dia mempertanyakan kondisi sebenarnya. Saya bilang, kalau bisa Bapak ke sana, itu akan jauh lebih bercerita. Hanya pesan saya, jika menggunakan helikopter, harus berhenti di Sambas, jangan langsung ke Camar Bulan, supaya tahu apa masalahnya. Di hari kedatangan, setelah konvoi mobil sampai di Pantai Sungai Belacan, Desa Sebubus, Paloh perjalanan terhenti. Mobil tak mungkin melaju. Motor yang disiapkan pun hilang nyali. Tak ada yang bisa membelah laut seperti Musa. “Jadi jalan ke Camar Bulan bagaimana?” tanya orang pusat ke saya. “Kita harus menunggu air surut,” jawab saya singkat. “Wah, kenapa bisa?” “Karena tidak ada jalannya, Pak, ini hutan.” Usai peristiwa itu, tiga kementerian turun untuk membangun jalan dan mengubah status kawasan Hidup dan Menghidupi Greenjobs Keterampilan menulis dan advokasi, membawa rezeki lain membebek di belakang langkah. Saya membulatkan tekad menarik diri setelah delapan tahun—sejak 2012—bergabung dengan Mangobay Indonesia. Namun keyakinan akan ekonomi berkelanjutan, terawat baik. Saya menjaga keyakinan itu lewat kolase.id—media yang saya dirikan tahun 2022. Meski memiliki napas sama dengan Mangobay Indonesia, core bisnis keduanya berbeda. Saya pun percaya, makin banyak yang bergerak di isu lingkungan, akan semakin baik. Kolase adalah DNA saya. Bekerja untuk kelestarian lingkungan. Saya tahu bagaimana mengorkrestasi ruang-ruang bisnis perusahaan. Bukan menghamba Google, atau melacurkan diri pada pengiklan. Core bisnisnya tidak akan pernah lari dari sumbu ekonomi berkelanjutan—sebagaimana tagline Kolase—dengan isu ekonomi, sosial budaya dan lingkungan. Saya selalu mengedepankan adalah isu ekonomi, kenapa? Ketika kepala orang yang diserang, masih bisa disejukkan itu dengan sosial, budaya, lingkungan. Pendekatan lembut masih bisa dilakukan. Tapi ketika perut dibikin ribut, jangan main-main, urusannya nyawa. Menghidupi greenjobs bukan seperti bermain catur yang memiliki langkah mati. Mungkin pembaca Kolase hanya 5.000 per bulan. Tidak apa-apa. Core bisnis ini saya bangun atas dasar sebuah jaringan global melalui kolaborasi bersama teman-teman di Civil Society Organization (CSO). Kesempatan itu semakin terbuka ketika saya ditodong jadi ketua panitia kongres Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) di Depok, Jawa Barat, awal 2023. Lantaran harus mencari sumber biaya kegiatan, dengan sistem fundraising saya keliling ke NGO lingkungan. Orang-orang di dalamnya sudah saya kenal. Ini juga kesempatan menjaga jaringan semesta untuk Kolase. Kongres pun berjalan lancar dan saya dipercaya sebagai Ketua Dewan Pengawas SIEJ periode 2022-2025. Apakah saya melacurkan diri, bahwa segala sesuatu yang mereka buat harus tayang di Kolase? Tidak. Yang saya lakukan adalah, ketika Anda punya program komunikasi, saya punya tim film dokumenter, saya punya tim penulis, kebutuhan Anda apa? Kerja sama inilah core bisnis dan dari sanalah Kolase hidup. Mungkin saya buka dapur, terserah, belum tentu koki lain selihai saya. Satu tahun pertama, Kolase seperti ngap-ngap baung. Keyakinan dan kepercayaan berbuah di tahun kedua. Bisnis Kolase berjalan. Meski akhirnya langkah saya juga terbatas. Sepuluh tahun keluar masuk jantung sampai ekor Kalimantan, kini saya harus berada di kota. Di tempat yang ada sinyal saja, nanti kita tak dapat job, begitu kelakar tim saya. Ketika bercerita soal ini, tim film dokumenter saya itu baru sampai di kaki pegunungan Muller, perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Mereka akan merekam kehidupan masyarakat di Menara Air Kalimantan. Mungkin bagi sebagian orang hidup baru dimulai di usia 40 tahun. Namun bagi saya di usia emas 50 tahun. Sepuluh tahun terakhir dihabiskan di dalam kanopi hijau Kalimantan, sekarang waktunya menyebarkan virus itu ke mereka yang memiliki kesamaan visi. Tentu, dengan konsekuensi pekerjaan yang sudah ketahui. Dan semua pekerjaan, pasti punya konsekuensinya masing-masing. Dalam sub judul pertama, saya menyinggung soal mimpi. Saya tengah mewujudkannya perlahan berkendara Kolase. Di ulang tahun pertamanya beberapa pekan lalu, kami membuat Agenda Iklim. Saya mendekati semua pihak. Pemerintah, NGO, komunitas, termasuk membangun jaringan ke politisi. Alasannya sederhana, orkrestra pelestarian lingkungan harus dapat dukungan semua. Saya belajar dari pengalaman kawan-kawan seperjuangan. Salah satunya dalam Raperda Masyarakat Adat. Mereka gagal mengadvokasi politisi di parlemen. Sia-sia segala kajian pendahuluan kalau perdanya tidak jadi. Ada sinisme atas apa yang saya lakukan. Tak masalah. Tidak banyak wartawan berani mengambil jalan pedang ini, kan?***




Top